Pdt. Tony Mulia saat menjelaskan dan menceriterakan 14.14.14

JAKARTA – Tahun 2023 bagi Indonesia adalah tahun politik. Pada tahun 2023 ini berbagai pemimpin “kelompok” masyarakat seakan tidak dapat menolak atau menahan diri ketika ditarik masuk dalam namanya dukung mendukung calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres). Tak terkecuali para pemimpin yang ada di lingkungan Kristiani, baik itu tingkat nasional ataupun tingkat provinsi, juga tingkat kabupaten/kota serta tingkat gembala/pendeta jemaat. 

Ini “fenomena” musiman—5 tahun sekali. Untuk itu, pendeta yang terlibat aktif dalam Jaringan Doa Nasional, Pdt. Tony Mulia, mengingatkan sekuat apapun ketokohan dari seseorang—harus dipahami tidak akan ada yang dapat menyeragamkan pilihan politik umat yang dipimpinnya. 

Sebaliknya, bila pemimpin umat tidak berhati – hati, tutur Pdt. Tony Mulia, dukung mendukung dapat membuat suasana dalam jemaat menjadi tidak harmonis. “Untuk itu para pemimpin umat (baca pendeta atau gembala) hindari untuk terlibat dalam dunia politik praktis—kalau bicara pendeta memiliki hak demokrasi, memiliki hak pilih, ya, itu dijamin UU, itu hak konstitusi dari setiap warga negara Indonesia tetapi harus ditempatkan pada tempatnya,”tutur Pdt. Tony Mulia.

Selain itu, Pdt. Tony Mulia masih mengingatkan kepada pemimpin umat, di mana alkitab menulis kisah – kisah kebanyakan pilihan manusia tidak menjadi pilihan Allah. Sebut saja Abraham ketika memilih Ismail. “Kalau bisa ini saja (Ismail)” kata Pdt. Tony Mulia meminjam perkataan Abraham yang ada di alkitab.

Pdt. Tony Mulia, mengatakan putusan Abraham memilih Ismail itu secara manusia tidak ada salahnya. “Bayangkan, Ismal anak pertama, dan dari istri muda. Para ayah pasti mengertilah—seluruh isi hatinya pasti tertumpa pada anak pertama apalagi sudah bersamanya sejak kecil sampai usia 13 tahun, tapi ternyata itu bukan pilihan Tuhan. Ada banyak kisah di alkitab di mana pilihan ayah (manusia) ternyata bukan menjadi pilihan Tuhan,”katanya.

Lewat penjelasan itu, Pdt. Tony Mulia meminta supaya para pendeta dapat membatasi diri dalam hal politik. “Jabatan atau tugas pelayanan pendeta itu mulia, jangan malah berpolitik praktis. Soal pilihan politik, itu memang menempel dalam setiap warga negara, tapi sebagai pendeta bukan digunakan untuk mempengaruhi—hak politik menempel dan harus dijalankan pada saat pemilihan,”

Pdt. Tony Mulia tidak menampik namanya pendeta (punya umat ) akan ditarik – tarik oleh para pemain politik praktis agar terlibat dukung mendukung tapi sebagai pendeta yang memegang jabatan mulia tentu tahu batasannya yaitu doakan—kalau mendoakan bukan berarti mendukung.

“Ya, pertemuan mendoakan capres atau cawapres tentu akan melahirkan banyak perspektif. Bahkan ada yang menggoreng bahwa itu bentuk dukungan tetapi banyak juga akan berpendapat mendoakan adalah tugas seorang pendeta. Bagi saya tugas mendoakan bukan berarti untuk mendukung menang – menangan tetapi memang menjadi tugas pendeta mendoakan, dan saya akan berdoa kalau ada capres atau caleg minta didoakan,” tegasnya.

BACA JUGA  Pdt. Tony Mulia : Saat Dunia dalam Masa Gelap, Kesempatan Umat Kristiani Bangkit Menjadi Terang

Kuasa Doa 14.14.14

Kepada media ini, Pdt. Tony Mulia menceriterakan kuasa doa 14.14.14 yang “dinaikkan” pada tahun politik 2014. “Saya terus gali peristiwa doa 14.14.14 di tahun 2014 di mana kita doa all out  buat bangsa—setiap bulan ada puasa Ester dengan ikrar Indonesia Baru. Waktu itu kita belum tahu siapa yang jadi capres, kita berdoa Tuhan berikan pemimpin yang dari Tuhan, dan acara akbarnya dibuat tanggal 14 bulan 2 tahun 2014,”ceriteranya.

Pdt. Tony Mulia berkata kalau hari ini umat Kristiani sedang menikmati Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang membawa Indonesia baru (Indonesia terkenal di Asia, adanya LRT dan lain sebagainya), itu tidak lepas dari hasil doa 2014. Selain itu doa 14.14.14 di tahun 2014 menjadi terobosan—dimana presiden sebelumnya ( Susilo Bambang Yudhoyono) bisa duduk bersama dengan presiden terpilih (Ir. Joko Widodo).

“Sejarah mencatat hal itu belum pernah terjadi. Sebaliknya setiap pergantian presiden selalu hubungan antara presiden terpilih dengan presiden sebelumnya tidak harmonis, berbeda dengan presiden Joko Widodo terpilih menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ada keharmonisan. Buktinya, kemarin (Oktober) 2023 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambangi Presiden Ir. Joko Widodo di Istana Bogor. Ini namanya Bapak dan Anak. Hasilnya Indonesia terjadi perubahan yang signifikan,”.

Sangat disayangkan oleh Pdt. Tony Mulia, hasil doa itu membuat banyak orang Kristen terpesona dengan Presiden kebanggaan Indonesia, Presiden Ir. Joko Widodo. Padahal Jokowi bisa karena Tuhan—jangan salah, Tuhan bisa memakai siapa saja, dan untuk dua periode ini Tuhan pakai Jokowi. Semua itu tidak lepas dari doa – doa yang dinaikkan umat Tuhan. 

“Itu sebabnya saya optimis di tahun politik 2023—pada Pemilu 14 Februari 2024. Kalau Tuhan bisa memakai Jokowi, percayalah Tuhan juga bisa memakai presiden berikutnya. Semuanya tergantung dari doa – doa yang dinaikkan dan iman kita umat Kristiani,”.

Dukungan Capres Mayoritas Umat Tidak Terpilih

Sementara berbincang dukung mendukung capres 2024, Pdt. Tony Mulia mengungkapkan pada tanggal 11 Juli 2023 mendapatkan penglihatan yang sangat jelas, capres yang mayoritas dipilih umat Kristiani Indonesia kalah. 

Apa yang dilihatnya itu mengingatkannya pada hal serupa yang diperolehnya sebelum Pilkada DKI Tahun 2016. “Waktu itu (Mendekati Pilkada DKI Jakarta) saya ngomong bahwa pada saat pemilihan di kotak suara saya akan memilih pilihan yang sama dengan pilihan mayoritas aspirasi umat Kristiani DKI Jakarta, Ahok tetapi perlu diketahui yang menang bukan Ahok, akibat dari itu saya dimusuhin rekan – rekan,”

Walau yang “dilihatnya” pada 11 Juli 2023 itu jelas bukan pilihan mayoritas umat Kristiani yang terpilih tetapi Pdt. Tony Mulia masih terus berdoa dengan memegang firman Tuhan, di mana doa orang benar akan didengar Tuhan. 

“Ini adalah profetik kondisional—memang Tuhan sudah menetapkan tetapi karena ada doa maka Tuhan memiliki belas kasihan dan Tuhan mau mengubah yang telah ditetapkan. Contoh, ketika Hizkia dikatakan oleh Nabi Yesaya tidak akan sembuh—pasti mati. Tapi Hizkia menghadap Tuhan (berdoa), apa yang terjadi? Tuhan memperpanjang usianya 15 tahun,”. 

BACA JUGA  Pentingnya Sinergi antara Gereja dan Media

Tambahnya, begitupun ketika Tuhan ingin menghancurkan kota yang namanya Ninewe. Pada saat itu Yunus diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan berita buruk tersebut—dan orang Ninewe puasa (berdoa), apa yang terjadi? Tuhan tidak hancurkan Ninewe, Tuhan balikkan keadaan. 

“Tuhan memang kasih lihat bahwa yang akan menjadi presiden 2024 itu bukan yang menjadi pilihan mayoritas umat Kristiani. Tetapi itu bergantung pada kita, mau berdoa untuk mengubah situasi atau memang diam? Ya, dikembalikan kepada kita,” katanya.

Pdt. Tony Mulia mengajak umat Kristiani terlibat dalam doa, baik itu secara kelompok kecil atau ikut bersama – sama dengan Jaringan Doa Nasional atau dengan kelompoknya di Kelapa Gading.

“Kita doa, minimum menyembah Tuhan, mengagungkan Tuhan dan berdoa 12 jam (Yesaya 42 : 10 – 13). Apa maksud Tuhan berkata nyanyikan? Supaya ada penyembahan di mana – mana dan ayat 13 berkata Tuhan akan berperang (Tuhan ikut terlibat). Kalau Tuhan kita libatkan maka pilihan mayoritas umat Tuhan pasti menang,” yakinnya.

Pdt. Tony Mulia menyemangati pembaca media ini dengan berkata, bukan kebetulan waktu umat Kristiani mengadakan doa 14.14.14 di 14 Februari 2014 untuk meminta pemimpin baru, sepuluh  (10) tahun kemudian, pemilu 2024 dilangsungkan pada tanggal 14 Februari. 

“Ini bukan kebetulan—perlu diketahui angka 14 itu adalah angka Daud. Bila nama Daud ditulis dalam bahasa Ibrani maka D itu Dalet =  4 , Vav = 6  dan Dalet = 4 , bila dijumlahkan total 14,”terangnya.

Lanjut Pdt. Tony Mulia, dilihat dari Matius 1 : 16 maka angka 14 adalah angka generasi (keturunan), dari Abraham sampai Daud—14 generasi, dari Daud ke pembuangan—14 generasi dan dari pembuangan ke Yesus lahir—14 generasi. 

“Pemilu pada tanggal 14 bukanlah kebetulan. Bagi saya ini menunjukkan Indonesia akan mengalami perubahan. Saya tidak bosan – bosa mengajak umat untuk berdoa agar lahir pemimpin di 2024 yang dari Tuhan,”ungkapnya. 

Pdt. Tony Mulia mengatakan agenda doa untuk meminta Tuhan menghadirkan pemimpin yang mengayomi dan berdiri dengan keadilan kepada semua rakyat serta memajukan bangsa. Doa akan digelar pada 12 bulan 12 tahun 2023 pukul 8.00 – 20.00 Wib, di Gedung Mawar Saron, Kelapa Gading, di dukung oleh Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI). Selain itu akan digelar di Surabaya, Makasar dan Bekasi. 

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini