Pdt. Markus Sudarji dan Antonius Natan saat memandu Webinar Departemen Keluarga BPP GBI

JAKARTA – Departemen Keluarga Badan Pengurus Pusat (BPP), Gereja Bathel Indonesia (GBI), menggelar Webinar dengan tema “Pria Bethel Indonesia, Pria Hebat”, pada 8 Januari 2023, pukul 10. Wib, dengan menghadirkan pembicara tunggal Pdt. Gilbert Lumoindong.

Webinar yang dipandu oleh pengurus BPP, di antaranya, Pdt. Markus Sudarji dan Antonius Natan ini mengusung sub tema “Pria hebat bukan karena dia terkenal, punya jabatan, kekayaan, pelayanan yang besar tetapi kuat menghadapi segala tekanan dan masalah dalam hidupnya,”.

Brosur Departemen Keluarga BPP GBI

Seperti “kebiasaan” kumpulan umat Kristiani, dalam sebuah pertemuan maka tidak terasa lengkap bila tidak ada puji – pujian dan penyembahan. Begitupun dengan Webinar dari Departemen Keluarga BPP GBI, didahului dengan puji – pujian dan penyembahan, serta doa pembukaan dan doa firman Tuhan.

“Hari ini kita akan bicara pria hebat, nanti akan disampaikan hambanya, Pdt. Gilbert Lumoindong. Saya memohon semua peserta untuk memberikan perhatian, agar dapat memanfaatkan ruang bertanya,”kata Pdt. Markus Sudarji, dan sangat tersanjung karena webinar ini diikuti hamba – hamba Tuhan GBI yang sedang melayani di Luar Negeri.

Sambil menunggu kesiapan Pdt. Gilbert Lumoindong, pemandu acara, Antonius Natan, mengatakan ketika para pria ingin menjadi seperti Kristus, tentu tidak sekedar kata – kata tetapi akan diimplementasikan dengan praktik atau tingkah laku sehari – hari.

Pdt. Markus Sudarji menambahkan, materi yang akan disampaikan Pdt. Gilbert Lumoindong dalam webinar ini adalah seputar kehidupan Yusuf. “Ini luar biasa, karena Yusuf memiliki pribadi yang hebat. Lebih jelasnya akan disampaikan oleh Pdt. Gilbert Lumoindong,”

Sambil menunggu Pdt. Gilbert Lumoindong, ada pengumuman (informasi), pada Sabtu (3 Februari 2024) Pukul 10.00 – 15.00 wib. akan ada seminar bicara tentang indentitas manusia sebagai fokus dalam konseling. Seminar ini akan dilangsungkan secara onsite, di GBI Ecclesia, Semanan, Jakarta Barat. Pembicaranya, Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputra, SpKJ (K), dengan penanggap, Pdt. Dr. Pudjo Setoto Abednego, Pdt. Ir. Supeno Lembang, MA., M.Th., dan Pdt. Sukirno Tarjadi, P.G.Dipl (Satir).

Tiba saatnya Pdt. Gilbert Lumoindong memberitakan firman Tuhan. “Kalau laki – laki sudah berkumpul, saya percaya sesuatu yang dahsyat akan dikerjakan Tuhan. Hari ini saya berbicara pria yang memiliki wibawa dan integritas,”bukanya dalam pertemuan webinar.

Pdt. Gilbert Lumoindong, mengajak peserta membuka kejadian 39 : 1 – 6. “Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. (2) Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. (3) Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, (4) maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. (5) Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. (6) Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya,”.

Bertolak dari Kejadian 39 : 1 – 6, Pdt. Gilbert Lumoindong berkata tidak ada alasan untuk berkata istri A atau suami B. Masalah itu bisa hadir dalam rumahtangga tetapi itu tidak bisa dijadikan alas an untuk menjadikan seorang pria yang berwibawa dan berintegritas. “Yusuf begitu banyak masalah tetapi Tuhan menyertai Yusuf, Tuhan menyertai kita (pria),”kata Pdt. Gilbert Lumoindong dan mengajak peserta untuk menaruh tangan kanan di dada, dan berkata “Tuhan menyertai saya, Yes. Tuhan menyertai rekan – rekan hamba Tuhan sehingga selalu berhasil,”

Dipertegas oleh Pdt. Gilbert Lumoindong, yang menjadikan seorang dilihat pria adalah wibawa dan integritas. Setiap orang bisa menjadi laki – laki, tetapi menjadi seorang pria adalah memiliki wibawa dan integritas. “Laki – laki kita bawa dari kelahiran, tetapi pria kita bawa sebagai identitas kita.  Jadi karena itu jadilah orang – orang yang berwibawa dan berintegritas. Apalagi kita (pria) disebut alkitab sebagai imam. Kalau pria yang sudah tidak punya wibawa dan integritas, apalagi yang akan kita andalkan? Yusuf mengalami masa – masa yang sukar tetapi Yusuf mempertahankan wibawa dan integritas,”

Pdt. Gilbert Lumoindong, mengakui tidak mudah untuk menjadi orang yang berwibawa dan berintegritas, karena pria yang berwibawa dan berintegritas akan menghadapi tantangan, pertama akan ada orang yang iri. “Hidup ini hanya dua, orang iri sama kita atau orang kasihan sama kita. Kalau kita tidak berbuat apa – apa, hidup kita menderita, orang tentu akan berkata kasihan. Saya mau kasih tahu, Ketika engkau berhasil, engkau dibekati, engkau sukses, pasti ada orang – orang yang iri. Tapi orang yang berwibawa dan berintegritas ketika berhadapan dengan ada orang iri tidak akan stress atau kecewa apalagi putus asa, sebaliknya akan terus pandang Yesus, tetap hidup benar, tetap hidup berkualitas dan memuliakan Tuhan,”

Kedua, akan difitnah namun tidak pernah terbukti. Kenapa Yusuf difitnah? Karena Yusuf berwibawa. Istrinya Potifar mau ganggu Yusuf tetapi Yusuf berani bekata tidak. “Pria hebat bukan pria yang terombang – ambing, bukan pria yang berusaha menyenangkan hati semua orang. Pria hebat adalah pria yang punya kapasitas, punya prinsip, berani berkata tidak. Dan orang – orang seperti itu akan difitnah, tidak perlu sakit hati, tunjukkan kualitas, jangan sibuk dengan klarifikasi, Yusuf bukan orang yang suka klarifikasi. Tetapi Yusuf adalah orang yang percaya bahwa kualitas akan menjelaskan dirinya yang sebenarnya,”

Ketiga, akan disingkirkan dengan berbagai rekayasa. Di tengah keluarga dicoba untuk disingkirkan, tetapi orang – orang yang berintegritas akan terus maju dan melihat kuasa serta kemuliaan Tuhan. “Kepalkan tangan kanan saudara dan bilang, saya pria hebat, yang diberkati oleh Tuhan, Yes. Amin,”.

Keempat, akan sering berdiri sendiri. Yusuf berkali – kali harus berdiri sendiri. “Jadi ingat! ada 4 tantangan dari seorang yang berintegritas. Bagaimana kita menjadi orang yang berintegritas? tanya Pdt. Gilbert Lumoindong, dan menegaskan dalam hal ini diperlukan pembuktian integritas.

Pertama, proses waktu. Untuk sementara bisa disalah mengerti. Yusuf menghadapi proses waktu sampai harus dipenjara, tetapi Yususf tetap tidak mau kompromi, tetap berintegritas. “Proses waktu itu ada masa – masa sulit dan menyakitkan, juga ada masa – masa menyenangkan. Tetapi wibawa dan integritas harus terus dijaga dan terbukti untuk kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Pria – pria yang berwibawa dan berintegritas adalah orang – orang yang stabil dan tenang serta menguasai diri bukan pagi tempe sore tahu,”

Kedua, ketulusan hati. Pada akhirnya tergantung hati, apakah sombong, serakah, gampang kecewa? Jadilah pria yang teta tegar, disakiti tetap memberkati, dipuji tetap rendah hati. “Yakinlah bila Allah dipihak kita maka siapa yang dapat melawan kita? Pria – pria, engkau adalah imam yang kudus bagi keluarga, engkau adalah penentu kebijaksanaan. Karena itu pastikan hatimu itu tulus. Alkitab berkata bukan apa yang dilihat manusia yang dilihat Tuhan tetapi Tuhan melihat hati. Selama hatimu bersih, tulus, melekat pada Tuhan, engkau akan menjadi pria – pria yang luar biasa,”

Ketiga, ketenangan dan tekanan yang menyakitkan. Pria akan menghadapi hal – hal yang menyakitkan, adakalanya sudah berusaha berbuat yang terbaik tetapi tidak dihargai oleh istri, tidak dihargai oleh mertua, tidak dihargai oleh ipar. Pria yang tenang akan dapat menentukan arah keluarganya. “Pria (suami) harus tenang dalam tekanan, harus menjadi imam yang kudus. Pria harus berwibawa dalam rumahtangga dengan tetap tenang,”

Keempat, perkataan dan perbuatan yang selaras. Pria sejati tidak pernah bentak dan maki istri, pria yang sejati selalu memperkatakan kebenaran. “Jangan kau katakan semua yang kau pikirkan tetapi pikirkanlah semua yang kau katakan. Apa yang kita perkatakan itu membawa damai atau tidak, menelesaikan masalah atau tidak, menjadi berkat atau tidak, memuliakan Kristus tidak? Kalau dari pertanyaan – pertanyaan ini jawabannya tidak, jangan. Lebih baik perkataan sedikit tetapi berarti, jangan memperkatakan yang dapat menyengsarakan. Alkitab berkata, hidup dan mati seseorang dikuasai oleh lidahnya,”

Pdt. Gilbert Lumoindong berkata pria – pria penentu nasib, penentu kebahagiaan keluarga. “Doa istri itu penting, topangan istri itu penting tetapi yang menentukan segalanya adalah keputusan seorang pria. Ingat! ada tantangan buat pria yang berwibawa dan berintegritas, dan itu semua diperlukan pembuktian,”

Bagaimana integritas terbentuk dan terbangun? Tanya Pdt. Gilbert Lumoindong dan memberikan jawabannya. Pertama, miliki rasa takut akan Tuhan. Kedua karena memiliki rasa malu menjadi pria yang tidak bisa diteladani. Ketiga, lewat perjuangan yang serius di dalam prinsip yang tegas. Keempat, tidak boleh mengeluh karena pria yang hebat dan berwibawa. Kelima, kejelasan pemahaman akan destiny. “Yusuf kenal betul destinynya, makanya Yusuf bekata manusia bisa mereka-reka yang jahat, Allahku mereka – reka kebaikan. Alkitab juga berkata selama hidup kita tidak memilih ke kiri atau ke kanan maka hidup kita akan diberkati,”

Pdt. Gilbert Lumoindong menegaskan iblis mau menghancurkan para pria, karena iblis mengerti kalau pria hancur keluarga pasti hancur. Kalau pria Tangguh, pria berwibawa, pria berintegritas maka pria akan menyatakan kemuliaan Tuhan. “Mari kita berkomitmen menjadi pria yang berwibawa dan berintegritas. Mari kita sabar, tidak mengatakan perkataan yang sembarangan, memiliki kehidupan yang dapat diteladani, memiliki prinsip, tidak berusaha menyenangkan hati semua orang dan dalam hati selalu mau membawa damai, menjadi berkat, selalu mau melayani,”tutupnya dengan berdoa sesudah firman Tuhan.

Pdt. Gilbert Lumoindong, tidak ikut sesi tanya jawab lagi karena ada agenda lain yang sudah terjadwal. Pertanyaan – pertanyaan yang peserta ajukan, dijawab oleh pemandu acara dari Departemen Keluarga BPP GBI, Pdt. Markus Sudarji.

Ada banyak pertanyaan yang berhubungan dengan kehidupan suami – istri sampai soal perceraian dan pemberkatan. Dan semuanya dijawab dengan berhikmat oleh Pdt. Markus Sudarji.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
BACA JUGA  Tahun Politik Mental Pendeta Diuji. Ingat! Pendeta “Jabatan Mulia”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini