Paradoks Natal : Datang untuk Mati Supaya Hidup

0
Harry Mandagi saat menyampaikan Firman Tuhan di Gereja yang mengundangnya.

JAKARTA – Natal adalah sebuah momen dimana umat Kristiani sibuk mempersiapkan di gereja masing-masing untuk merayakan hari yang “besar” itu dengan menghiasi gereja dengan ornamen-ornamen Natal.   Banyak gereja mempersiapkan hari Natal dengan berbagai acara seperti nyanyian pujian dan pentas drama.   Tidak kalah meriahnya pusat-pusat perbelanjaan dan hotel-hotel didekorasi dengan hiasan-hiasan yang bernuasa Natal.  “Orang dunia” pun merayakan “Natal” dan ironisnya tidak sedikit orang Kristen merayakan Natal tanpa mengerti apa esensi dari makna Natal yang sesungguhnya. 

Kata “Natal” secara harafiah berarti hari kelahiran, yang kemudian seiring dengan bergulirnya waktu, artinya bergeser menjadi hari kelahiran Yesus Kristus.  Tidak ada satupun agama-agama di dunia yang mempunyai Juruselamat selain agama Kristen. 

Mengapa manusia perlu Juruselamat?  Bukankah manusia bisa berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan? Benarkah perbuatan baik adalah syarat keselamatan?  Kalau perbuatan baik bisa menyelamatkan, untuk apa Tuhan Yesus datang kedunia?  Untuk mengetahui hal ini, perlu kembali kepada awal penciptaan, waktu Allah menciptakan manusia pertama yaitu Adam dan kemudian Hawa. 

Allah menciptakan Adam dan Hawa tanpa dosa tetapi mereka bisa berbuat dosa dengan tidak taat kepada hanya satu larangan yang ditetapkan oleh Allah yaitu tidak boleh memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat.  Apabila dilanggar, akibatnya adalah kematian (Kej 2:17).

Oleh karena pelanggaran Adam dan Hawa yang memakan buah yang dilarang tersebut, mereka menjadi ketakutan dan menyembunyikan diri mereka dari Allah.   Mereka menjauh dari Allah karena itulah dampak dari dosa dimana keberadaan/status mereka itu menjadi “tidak dapat tidak berdosa” setelah kejatuhan itu, alias natur mereka menjadi natur berdosa. 

Seseorang yang dibawah kuasa dosa tidak akan mampu mencari Allah sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus di Roma 3:10-12, 23.  Semua manusia di dunia ini adalah keturunan Adam dan mewarisi dosa Adam itu (Rm 5:12) yang dikenal dengan istilah original sin (dosa awal).  Hal sama yang dikatakan oleh raja Daud di dalam Mzm 51:7; “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”. 

Mengapa dalam Natur Berdosa, Manusia Tidak Bisa Mencari Allah?

Adam dan Hawa yang diciptakan Allah tanpa dosa tetapi ternyata jatuh dalam dosa karena tidak taat pada larangan yang sudah ditetapkan Allah.  Manusia keturunan Adam yang dilahirkan dengan bernatur dosa, apakah dapat memilih (mencari) dan datang kepada Allah yang benar?

Adam dan Hawa yang tidak berdosa saja bisa memilih sesuatu yang tidak baik (buah yang dilarang), apalagi manusia-manusia keturunan Adam yang sudah ada dalam natur keberdosaan, apakah mungkin bisa memilih yang baik yaitu datang kepada Allah yang benar dan memuliakan-Nya dengan kekuatannya sendiri?   

Ini dibuktikan tadi bahwa Adam dan Hawa menyembunyikan diri dari Allah setelah jatuh dalam dosa dan Allah sendiri yang datang “mencari” mereka berdua (Kej 3:9).  Ini selaras dengan perkataan Tuhan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu …” (Yoh 15:16), tanpa Allah yang berinisiatif “mencari” manusia berdosa, manusia akan terhilang selamanya dan binasa.

Bagaimana yang terhilang dapat mencari jalannya sendiri menuju kepada kebenaran?  Yang terhilang justru yang harus dicari, karena itulah Allah “mencari” orang-orang yang terhilang (Luk 19:10). 

Pada saat Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang itu, mereka berdosa dan mengalami maut.  Selaras dengan apa yang dikatakan Paulus: “upah dosa ialah maut” (Rm 6:23).  “Upah dosa”, bukan dosa-dosa, hanya satu dosa yaitu dosa Adam yang diwarisi oleh keturunannya yaitu seluruh umat manusia akan mengalami maut alias kematian kekal di neraka. 

Peringatan Allah akan buah yang dilarang dimakan ini apabila dilanggar, konsekuensinya adalah kematian.  Yang dimaksud kematian ini adalah mati secara rohani yaitu terpisah dari Allah, meskipun kematian secara jasmani pun akan dialami nantinya.  Keterpisahan dengan Allah itulah yang disebut “maut”, itulah kematian kekal di neraka, tidak ada lagi anugerah Allah.

Tanpa inisiatif Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal datang ke dalam dunia, semua manusia akan binasa.  Tetapi karena kasih-Nya, Allah yang tidak terbatas dan kekal itu, rela masuk kedalam dunia yang terbatas, yang dibatasi oleh ruang dan waktu, demi untuk menyelamatkan umat manusia yang akan binasa ini.  Itulah kasih Allah yang tidak pernah ditemukan di dalam agama manapun di dunia ini.

Ada sekitar 300 nubuatan tentang kedatangan Kristus di dalam Alkitab Perjanjian Lama dimulai dari kitab Kejadian setelah kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa.

Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

  • “ … keturunannya (<dalam bentuk singular/tunggal> keturunan Hawa yaitu Kristus) akan meremukkan kepalamu (kepala iblis) … “, inilah nubuatan pertama tentang kedatangan Yesus Kristus, yang dikenal dengan istilah proto-evangelium atau Injil mula-mula.  Siapakah Dia yang jalan hidup-Nya, bahkan sampai hal-hal kecil dalam jalan hidup-Nya, sudah dinubuatkan dari kelahiran-Nya sampai kematian-Nya dan bahkan sampai Dia naik ke surga?  Tidak pernah ada satupun tokoh didunia ini yang pernah dinubuatkan dengan begitu banyak nubuatan dan semuanya tergenapi selain Yesus Kristus.
BACA JUGA  Klub Motor Indonesia “Gerebek” GBIS Sinai Bandung

Mengapa harus mengutus Anak-Nya yang Tunggal, bukan yang lain misalnya malaikat atau manusia yang tidak berdosa untuk menebus dosa manusia lainnya?  Yang berdosa adalah manusia, maka hanya manusialah yang dapat mewakili penebusan itu, akan tetapi satu manusia yang tidak berdosa hanya dapat menebus satu manusia yang berdosa.  

Oleh karena itu Allah harus mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk berinkarnasi menjadi manusia (Yoh 1:14) pada Natal itu, yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus.  Sebelum inkarnasi, pribadi Anak (Firman/Logos) yang berhakekat Allah dan setelah inkarnasi dikenal sebagai Yesus Kristus, pribadi Anak yang Ilahi dengan hakekat Allah, “ketambahan” satu hakekat baru yaitu hakekat manusia, menjadikan Yesus Kristus yang adalah Allah sekaligus manusia. 

Hakekat Allah dan hakekat manusia dalam satu pribadi Kristus adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan tetapi tidak bercampur (melebur) menjadi natur yang baru, sehingga masing-masing natur (hakekat) dapat dibedakan, itulah yang dikenal dengan istilah dwi-natur Kristus. 

Banyak ayat-ayat disepanjang Alkitab Perjanjian Baru yang mengungkapkan dwi-natur Kristus.

Gal 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”. 

  • Ketika Allah Bapa mengutus Anak-Nya, artinya Anak itu sudah ada sebelum Dia diutus. Bagaimana Anak bisa diutus kalau Dia belum ada?  Ini membuktikan kekekalan keIlahian Anak, akan tetapi Dia juga lahir dari seorang perempuan, ini menunjuk kepada kemanusian-Nya.  Inilah bukti Dia adalah Allah dan manusia. 

Flp 2:6-7 (6) yang walaupun (ada) dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

  • Merujuk kepada Alkitab bahasa Yunani maupun Alkitab terjemahan bahasa Inggris, ayat 6 pada terjemahan Alkitab LAI, ada satu kata yang terlewatkan yaitu kata “ada”.  Kata “ada” pada ayat 6 ini, dalam bahasa Yunani dipakai kata “huparchon”, yang berarti satu keberadaan yang tidak bisa berubah, yang namanya Allah tidak mungkin berhenti menjadi bukan Allah.  Kata “rupa” dipakai kata “morphe” dalam bahasa Yunani, yang berarti “kesamaan natur / hakekat” Kristus dengan Allah (Bapa).  Ini dipertegas dengan kata “kesetaraan” Kristus dengan Allah (Bapa).  Dikatakan Kristus menjadi sama dengan manusia (ayat 7), membuktikan “ada (huparchon) dalam rupa (morphe) Allah, artinya yang Ilahi tidak bisa kehilangan natur keIlahian-Nya”, menambahkan natur manusia, sehingga menjadikan Kristus adalah Allah dan manusia.  “Mengosongkan diri” bukan berarti Allah berubah dari sepenuhnya Allah menjadi sepenuhnya manusia sehingga keAllahan-Nya hilang – Tidak!  Yang dimaksud “mengosongkan diri” adalah Allah tidak menggunakan atribut-Nya alias “menyembunyikan” atribut keIlahian-Nya sehingga yang nampak hanya kemanusian-Nya walaupun keIlahian-Nya tetap ada.  Analoginya (walaupun tidak terlalu tepat) seperti seorang tentara yang lengkap dengan segala atribut ketentaraannya seperti seragam tentara, senjata, dan lain sebagainya, tetapi semua itu tidak digunakan dan hanya menampilkan dirinya seperti seorang rakyat biasa pada umumnya.

Mengapa harus Kristus yang menebus dosa manusia?  Seperti telah dijelaskan satu manusia yang tanpa dosa sedikitpun hanya mampu menebus dosa satu manusia yang berdosa. Adakah manusia tanpa dosa di dunia ini?  Tentu tidak ada (1 Yoh 1:8, 10).  Itulah sebabnya Sang Penebus haruslah seorang manusia sekaligus Allah, sehingga bisa menebus dosa manusia dengan kuasa penebusan yang tidak terbatas dalam jangkauan-Nya serta melintasi waktu, yang mampu menebus dosa umat manusia yang hidup dari masa zaman Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, hingga kepada mereka yang hidup pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.

Alkitab berkata Allah adalah Allah yang kasih sekaligus Allah yang adil.  Yang menerima keselamatan mendapat anugerah Allah dan yang tidak, menerima keadilan Allah yaitu penghukuman berlaku baginya.  

Allah murka dengan manusia berdosa (Rm 2:5, 5:18) dan Allah sekali-kali tidak akan membebaskan manusia berdosa dari hukuman (Nah 1:3 ; Rm 11:22 ; Yoh 12:48).  Allah adalah kasih bagi yang menerima anugerah keselamatan tetapi sekaligus Dia adalah api yang menghanguskan bagi orang berdosa (Ibr 12:29, kutipan Ul 4:24).  “Api yang menghanguskan” ini tidak akan terjadi kepada manusia berdosa apabila dia  percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Mengapa?  Kematian Yesus Kristus di kayu salib, mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. 

Mengapa manusia berdosa perlu didamaikan dengan Allah?  Sejak manusia pertama Adam jatuh dalam dosa, keturunan-keturunannya juga menjadi seteru (musuh) Allah karena itu pengorbanan Kristus diatas kayu salib telah mendamaikan manusia berdosa dengan Allah (Rm 5:10 ; 2 Kor 5:18-19 ; Ef 2:16).

BACA JUGA  GBIN Jemaat “Kapernaum” Gelar Ibadah Perayaan Natal : Muliakan Allah, Damai Sejahtera Terjadi di Bumi

Kematian Kristus di kayu salib, Dia menebus dosa umat manusia dengan jalan memenuhi tuntutan hukum keadilan Allah, yaitu hutang maut harus dibayar dengan maut.  Apa artinya maut?  Maut adalah keterpisahan manusia dengan Allah (secara rohani) pada saat kejatuhan Adam, dan itulah yang ditebus oleh Yesus Kristus diatas kayu salib pada saat Dia harus mengalami keterpisahan dari Allah dengan teriakan: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”, yang artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46).  

Itulah tuntutan keadilan Allah; gigi ganti gigi, mata ganti mata, sebagaimana Tuhan Yesus menggenapi hukum Taurat (Mat 5:17-18), menanggung dosa umat manusia agar murka Allah kepada manusia dapat diredakan.  Itulah penderitaan yang paling mengerikan yang dialami oleh Tuhan Yesus diatas kayu salib yaitu keterpisahan-Nya dengan Allah Bapa, bukan hanya penderitaan fisik yang dialami-Nya karena penderitaan fisik tidak sebanding dengan keterpisahan-Nya dalam relasi-Nya dengan Allah Tritunggal.  

Sesuatu yang tidak dapat dibayangkan dan dipikirkan oleh nalar manusia yang berdosa ini betapa besar kasih Allah, Yesus yang tidak berdosa itu dijadikan dosa (2 Kor 5:21), seluruh dosa umat manusia ditanggungkan kepada-Nya, sehingga penderitaan yang paling berat dialami-Nya, demi untuk menebus umat manusia dari kebinasaan kekal.  Itulah kondisi batin yang sangat susah dialami kemanusiaan Yesus Kristus waktu Dia berdoa di Taman Getsemani sampai peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk 22:44 – TB2), karena Dia tahu Dia akan mengalami keterpisahan-Nya dengan Allah Bapa di atas kayu salib.  Suatu misteri Ilahi diluar kemampuan nalar manusia untuk bisa memahaminya.

Maut seharusnya dialami oleh manusia berdosa yaitu keterpisahan dengan Allah alias kematian kekal dalam neraka, akan tetapi Yesus Kristus yang mengalami-Nya ganti manusia, dengan menyelesaikan misi-Nya di dunia ini yang diutus oleh Bapa di surga seperti apa yang dikatakan oleh Paulus di 1 Kor 15:26 “musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut”.   Tuhan Yesus  sudah mengalahkan maut itu dengan mengalami maut itu sendiri, menggantikan posisi semua umat manusia yang berdosa ini yang seharusnya mengalami maut itu dengan memenuhi tuntutan hukum keadilan Allah.

Sebagaimana Kristus adalah Allah dan manusia, Dia dapat berdiri dihadapan Allah mewakili manusia dan Dia dapat berdiri dihadapan manusia mewakili Allah.  Itulah sebabnya Yesus Kristus disebut pengantara.  Kristus adalah pengantara antara manusia dengan Allah, perseteruan antara Allah dan manusia diubah menjadi perdamaian dan murka Allah diredakan lewat pengorbanan-Nya diatas kayu salib sehingga tidak ada lagi penghukuman bagi yang percaya pada Tuhan Yesus (Rm 8:1).  Berdamai dengan Allah bukan pekerjaan manusia tetapi pekerjaan Allah lewat Putera-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus.

Melihat betapa besarnya kasih Allah ini, mulailah menghayati apa yang tertulis dalam Injil Yoh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.  Manusia yang seharusnya binasa (mengalami maut) tetapi bisa beroleh hidup yang kekal dengan percaya kepada-Nya.

Natal adalah kesucian Allah bertemu dengan keberdosaan manusia didalam pribadi Yesus Kristus. Natal adalah kekekalan bertemu dengan kesementaraan supaya yang ada di dalam kesementaraan dapat mengenal kekekalan.

Kapan titik temu murka Allah dan anugerah Allah terjadi didalam hidup manusia?  Ini semua terjadi di atas kayu salib.

Itulah sebabnya Allah yang kekal itu harus masuk didalam waktu supaya yang didalam waktu mengerti/memahami sekaligus memiliki janji pengharapan didalam kekekalan.  Kalau yang kekekalan itu tidak pernah datang didalam waktu, yang didalam waktu ini tidak mungkin bisa menembus masuk kedalam kekekalan atas dirinya sendiri.  Setelah Yesus Kristus datang kedunia, barulah pintu itu mulai terbuka bagi orang berdosa.

Terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Satu-satunya yang bisa menolong engkau, menembus waktu masuk didalam kekekalan.  Satu-satunya pribadi yang bisa membawa engkau kembali kepada Allah yang sejati.  Satu-satunya pribadi yang bisa meluputkan engkau dari murka Allah yang menyala-nyala, hanya ada didalam Tuhan Yesus Kristus. 

Natal adalah harta yang paling berharga yang Allah berikan kepada umat manusia.  Harta yang paling berharga ini bisa dimiliki apabila ada diantara umat manusia yang mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.  Sudahkah anda percaya kepada-Nya?  Renungkanlah makna Natal ini.  Tuhan memberkati.   SoliDeo Gloria.

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini