Organisasi Perlu Visi Misi atau Gizi?

3
Pdt. Dr. S. Tandiassa, M.A (Dok. Pribadi)

Yogyakarta – Secara ilmiah Gizi dengan Visi-Misi tidak ada kaitannya. Masing-masing memiliki disiplin ilmu sendiri-sendiri. Gizi adalah istilah yang berkaitan dengan MAKANAN dan KESEHATAN secara fisik. 

Makanan harus bergizi supaya fisik sehat. Orang yang kurang gizi pasti kurang sehat, anak-anak yang kurang gizi, pertumbuhannya secara fisik tidak normal dan pasti akan lemah secara intelektual, alias bodoh. 

Visi-Misi adalah masalah leadership yaitu cita-cita, impian, harapan, tujuan mulia yang menjadi sasaran dalam memimpin, baik itu leadership untuk diri sendiri, untuk sebuah perusahaan, terutama untuk sebuah organisasi, tidak terkecuali organisasi gereja. 

Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu, pada acara kunjungan kerja, beberapa personal pimpinan pusat sebuah organisasi gereja yang berpusat di Jakarta ke Sumatra Utara, istilah GIZI dan VISI-MISI muncul dalam posisi dibandingkan.  

Di dalam acara tersebut salah satu personal pimpinan pusat, disebut – sebut duduk sebagai bendahara menyampaikan arahan atau sambutannya dengan bersemangat dan penuh percaya diri, mengatakan: TIDAK ADA VISI-MISI, YANG PENTING ADALAH GIZI. 

Setelah acara tersebut rampung, rombongan petinggi pimpinan dari pusat itu membagi-bagikan AMPLOP kepada semua peserta, dan rupanya amplop itulah yang dimaksud tadi sebagai GIZI yang lebih penting daripada Visi-Misi.

Sampai acara itu rampung, tampak semuanya normal-normal saja, ada tawa riang gembira, ada sesi berfoto bareng yang disertai dengan yel-yel sambil mengacungkan dua jari, kemudian dilanjutkan pada acara menikmati berkat Tuhan. Suasana tempak demikian cair, akrab, bersahabat, dan sesekali terdengar tawa riang gembira sebagai luapan kebahagiaan. Akhirnya rombongan petinggi pimpinan pusat gereja itu pun pulang dengan sukacita. 

Penonton Telah Memberikan Kesimpulan

Pimpinan organisasi yang mengeluarkan pernyataan itu, mungkin saja hanya salah kata alias dengan asumsi untuk mencairkan suasana tetapi penonton telah memberikan kesimpulan lewat video yang beredar di media sosial.

Salah satu pimpinan pusat dari salah satu organisasi gereja aliran Pentakosta tertua tersebut, yang mengatasnamakan Ketua Umum, dalam sambutan dan arahannya menyatakan bahwa: “Tidak ada Visi-Misi, yang Penting Gizi”. 

Sebagian penonton mulai merenungkan makna dan bahkan memunculkan pertanyaan-pertanyaan problematik:  “Bagaimana mungkin pimpinan suatu organisasi gereja yang notabene berkiprah dalam bidang sosial-religius tetapi tidak memiliki visi-misi? Sebagai sebuah lembaga religi, bukankah gereja seharusnya lebih mengutamakan nilai-nilai sosial dan spiritual daripada nilai-nilai materi/Gizi? Apakah organisasi religius yang katanya telah berusia 100 tahun itu sudah mengalami degradasi moral yang sedemikian parah sehingga yang disosialisasikan bukan lagi nilai-nilai sosial dan spiritual tetapi nilai-nilai MATERIALISME – GIZI? Jika tidak ada Visi-Misi, lalu para pemimpin organisasi gereja ini mau membawa ke mana warga jemaatnya yang jumlahnya jutaan jiwa itu? Jika ‘yang penting adalah GIZI’, apakah itu berarti bahwa sampai saat ini para pemimpin tersebut mengelola organisasi gereja dengan motivasi dan orientasi pada materi – gizi?” 

BACA JUGA  Bamus Papua dan Papua Barat, Willem Frans Ansanay “Selamat HUT Gubernur DKI Jakarta”

Leadership Tanpa Visi – Misi

Bila diandaikan, organisasi gereja tanpa Visi-misi, bagaikan kapal yang berlayar di lautan luas dihantam badai dan gelombang yang dahsyat, sementara sang kapten dan awak kapal berusaha dengan susah payah melawan badai dan gelombang, tetapi mereka tidak tahu ke pelabuhan mana tujuan kapalnya. 

Bagai kapal yang tanpa tujuan pelabuhan yang jelas, leadership yang lebih mementingkan GIZI daripada Visi-Misi, akan membuat organisasi selalu dihadang oleh berbagai masalah. Jangan heran bila ada kebijakan-kebijakan pimpinan atas nama organisasi akan selalu bertabrakan dengan aturan-aturan organisasi itu sendiri. 

Leadership tanpa visi-misi yang jelas akan selalu diwarnai oleh konflik-konflik kepentingan kelompok dan individu. Leadership dengan dengan spirit materi – gizi, akan rawan terjadinya penyimpangan norma-norma sosial dan moral. 

Selain daripada  itu, dan ini yang menyedihkan, yaitu jika leadership lebih mementingkan Gizi, sudah pasti  akan ada banyak hal dan pihak yang dikorbankan atau menjadi korban demi gizi – materi – uang. 

Yang menjadi korban bisa itu berupa materi, sesama, kawan, terlebih yang dianggap lawan, dan bisa organisasi itu sendiri. Di dalam falsafah bisnis orang Tionghoa ada ungkapan: “Uang (materi) itu tidak mengenal saudara”.  Singkatnya, pengelolaan sebuah organisasi tanpa Visi-Misi, atau organisasi yang dikelola dengan motif dan orientasi pada Gizi akan selalu mengalami ketegangan dan kegaduhan.  

Ini Dosa dan Salah Siapa? 

Jika kepemimpinan seorang leader di dalam sebuah organisasi gereja kemudian mengalami banyak masalah, maka sumber persoalannya atau kesalahannya tidak bisa sepenuhnya dilemparkan kepada pemimpin organisasi yang bersangkutan. 

Juga tidak bisa serta merta menuduh setan atau roh jahat sebagai penyebab masalah dan kesalahan yang kemudian merusak citra sebuah organisasi gereja. Karena seseorang menjadi pemimpin tidak semata-mata hanya atas kemauan dan upayanya sendiri, walaupun memang sang leader melakukan banyak upaya dan mengeluarkan tidak sedikit biaya, tetapi tetap saja mustahil ia menjadi pemimpin hanya dengan upaya dan biaya sendiri. 

Secara obyektif, jika sebuah organisasi bermasalah akibat salah kelola dari seorang pemimpin, sebenarnya sumber masalah atau kesalahan itu sebagian besar terjadi dari keputusan konstituennya. 

Dengan kata lain, konstituen atau pemilih dan pendukung sang leader itu juga terlibat secara langsung dalam berbagai masalah dan kesalahan yang dilakukan oleh pemimpinnya. 

BACA JUGA  Lari Semakin Kencang, Ini yang Dilakukan PGPI

Mengapa? Karena yang mengangkat, memberi mandat, dan memosisikan seseorang menjadi pemimpin organisasi gereja adalah konstituennya, dalam hal ini adalah para rohaniawan yang disebut pendeta atau gembala jemaat. 

Melalui pemilihan, entah dalam forum MUNAS atau MUBES atau forum-forum lainnya, para rohaniawan atau pendeta memberi mandat, otoritas, kepercayaan, serta mengangkat dan memosisikan seseorang menjadi pemimpin gereja. Dengan kata lain, kelompok konstituen harus juga BERTANGGUNG JAWAB secara moral atas setiap masalah dan kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin yang dipilih dan diberi mandat. 

Refleksi

Peristiwa, mungkin juga bisa disebut insiden “YANG PENTING GIZI” yang terjadi di sebuah ruang hotel di kota Prapat Sumatra Utara ini kiranya membuka wawasan kita dan melakukan refleksi tentang: 

1). Betapa beresikonya jika seseorang memimpin organisasi gereja tanpa Visi-Misi yang jelas. Ia hanya akan menjadi seorang kapten kapal yang setiap hari berjuang dengan susah payah berputar-putar di tengah pusaran badai dan gelombang masalah yang dahsyat, namun ia tidak tahu pelabuhan mana yang dituju. 

2). Memimpin dengan hanya mengandalkan kekuatan GIZI – materi, menunjukkan bahwa sang leader sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas intelektual untuk menjadi seorang leader. 

3). Menggunakan daya GIZI – materi untuk meraih atau mempertahankan posisi leader adalah sikap merendahkan dan menghina martabat kemanusiaan konstituen. 

4). Kontituen yang memilih, memberi mandat, kepercayaan, mengangkat dan memosisikan seseorang menjadi leader karena atau demi GIZI – materi, bukan karena Visi-Misi, sesungguhnya mereka telah merendahkan dan melecehkan martabat dirinya sendiri, karena mereka menjual harga dirinya. 

5). Dalam hal memilih seorang pemimpin, konstituen tidak hanya sebatas mencoblos nama calon leader, tetapi ikut bertanggung jawab secara moral atas semua masalah dan kesalahan yang dilakukan oleh pemimpinnya. 

Akhirnya, semoga masyarakat gereja kembali ke citranya sebagai insan religius yang menjunjung tinggi nilai-nila moral-spiritual, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai kekekalan, serta tidak mengorbankan nilai-nilai yang mulia hanya demi kepuasan sesaat menikmati GIZI-materi. Semoga saja…..

Dr. S. Tandiassa, M. A. Penulis adalah seorang dosen Sekolah Tinggi teologia Intheos, Surakarta. Juga seorang penulis buku Teologi dan Populer, sudah 12 judul buku. Dan sebagai Ketua Majelis Daerah (MD) Gereja Pantekosta di Indonesia, Daerah Istimewa Jogjakarta

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1
1

3 KOMENTAR

  1. .Segeralah Bertobat, Hukuman terhadap dosa pasti ada, antara lain, yaitu : Hidup didalam Kutuk, akan terjadi Hukum Karma, kalau mati pasti Masuk Api Neraka.

  2. .
    Visi misi & Gizi
    =============

    Pribadi orang Kristen mempunyai 3 bagian ,yaitu : roh ,jiwa , tubuh
    ( 1 Tes .5 :23 )
    dan…
    masing2 bagian mempunyai kebutuhannya sendiri .

    Hamba Tuhan
    khususnya Gembala Jemaat
    sudah digembleng untuk memenuhi kebutuhan rohaninya & rata2 sudah dibekali dengan kebutuhan jiwaninya
    salah satunya dengan visi misi ..

    Rata2 kita sudah tahu UU Dasarnya Visi misi seorang hamba Tuhan
    ( Mat.28 : 18-20)

    Progresnya ,
    Apapun UU visi misi kita baik secara pribadi, organisator atau pimpinan …
    tetap progres realisasi yg menjadi penilaian akhir.

    Salah satu realitas dari kebutuhan Seorang Gembala secara jasmani baik Pribadi ,keluarga & fisik pelayanan adalah uang .

    ——
    .

    Realitas Gizi mempunyai 2 point pengertian , yaitu :

    1. Eksplit ,

    Gizi diperlukan untuk kwalitas pertumbuhan ,kesehatan,kecerdasan secara jasmani .
    .

    2.Implisit ,

    Jika itu ditafsir adalah uang ,
    Maka itu diperlukan untuk pembangunan gereja , sarana pelayanan , penginjilan ,dsbnya .
    ..

    Akhirnya ,,

    Kita menghormati 1000 kali presentasi
    visi misi …

    tapi ,,

    Progres & realitas yg menjadi penilaian akhir

    Gizi adalah salah satu bagian dari progres & realitas yg menjadi penilaian akhir dari suatu visi misi .

    .
    Terimah kasih .
    Tuhan Yesus memberkati.
    🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

    By.: Yahya I. Punu .
    .

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini