Oneness Pentacostalism, Trinitarian atau Unitarian?

0
Harry Mandagi dan Istri (Susan Mandagi)

JAKARTA – Dunia makin lama makin tua, manusia yang menjadi penghuninya juga makin kreatif. Lihat saja, berbagai temuan di dunia IT telah mempermudah berbagai pekerjaan manusia.

Seakan tidak mau ketinggalan, di dunia teologia juga makin kreatif, alkitab “diobok – obok” untuk mendapatkan pemahaman dan ajaran yang fenomenal, di antaranya soal Allah Tritunggal.

Pemahaman Allah Tritunggal, tidak dapat dielakkan dari perjalanan umat Kristiani. Ini untuk mengenal dengan benar siapa Allah yang disembahnya. Sebab kalau tidak, bisa – bisa Allah yang disembah bukan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab, tetapi suatu “Allah” yang lain yang diciptakan oleh pikiran manusia atau hasil imajinasinya.

Untuk mengenal dan menyembah Allah yang benar-benar Allah, satu-satunya jalan adalah melalui Allah yang telah memperkenalkan diriNya lewat Alkitab, firman Tuhan yang tertulis, yang kemudian dikenal dengan sebutan Allah Tritunggal (Trinitas). Orang pertama yang mencetuskan istilah Allah Tritunggal adalah Bapa Gereja bernama Tertulianus.

Apa itu Allah Tritunggal? Tri = tiga, dan Tunggal = satu, tetapi bukan berarti umat Kristiani menyembah tiga Allah, tidak. Umat Kristiani tetap menyembah Allah yang esa. Ini selaras dengan Ulangan 6:4 “dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”. 

Dalam bahasa Ibrani ada dua kata yang berarti “esa/satu” yaitu, Yachid = satu mutlak dan satunya lagi, Echad = satu yang bersifat majemuk: misalnya satu ikat, satu bangsa, dan sebagainya. Kata “esa” dalam Ulangan 6 : 4, dipakai kata “echad”.

Untuk mengetahui Allah Tritunggal, agar mudah dipahami, perlu mengerti apa itu ‘hakekat’ dan apa itu ‘pribadi’. Manusia memiliki hakekat dan pribadi. Ada yang menyebutkan Hakekat sebagai esensi, substansi atau zat. Itu semua bisa diterima selama pengunaan dalam konteks pemahaman Kristen. Bahasa sederhananya, hakekat itu adalah “jenis”. Artinya Allah itu hakekat (jenis) nya adalah Allah. Begitu juga dengan manusia, yang adalah berhakekat (berjenis) manusia.

Misalnya ada seorang bernama Hendro. Hendro mempunyai satu hakekat manusia dengan satu pribadi. Apabila nama Hendro disebut, itu merujuk kepada hakekat dia sebagai manusia yang mempunyai pribadi. Apabila menyebut manusia, itu merujuk kepada hakekat dan pribadinya. 

Allah yang disembah umat Kristiani itu adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Artinya kata Allah di sini adalah Hakekat, sedangkan Bapa, Anak dan Roh Kudus itu adalah 3 pribadi yang berbeda. 

Ketiga pribadi, baik Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak ada yang lebih tinggi satu dengan yang lainnya, melainkan sama (sederajat/setara) satu dengan lainnya—ketiganya satu kesatuan yang tidak terpisahkan tetapi tidak bercampur (tidak melebur menjadi satu pribadi yang baru) dan dapat dibedakan yang mana pribadi Bapa, mana pribadi Anak, dan mana pribadi Roh Kudus. 

Ingat! Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, Roh Kudus bukan Bapa alias ada 3 pribadi yang berbeda dalam 1 hakekat. Dengan demikian Allah Tritunggal adalah 1 hakekat Allah dengan 3 pribadi yang berbeda (Bapa, Anak dan Roh Kudus).

Oneness Pentacostalism

Doktrin atau pemahaman Allah Tritunggal sejak dahulu mendapatkan semacam kontra atau pemahaman lain, sebut saja doktrin atau pemahaman yang bernama Oneness Pentacostalism—yang hari – hari ini ( di era keterbukaan) kembali ramai dibahas. 

Harus diketahui, Oneness Pentacostalism bukanlah ajaran yang baru. Ajaran ini sudah sejak lama dalam sejarah gereja. Nama Oneness Pentacostalism muncul setelah berdirinya Gereja Pantekosta di awal tahun 1900an.

Gereja Pantekosta berdiri dimulai dari terjadinya kebangunan rohani di gereja di Azusa St., LA, USA dipimpin oleh seorang yang bernama William Seymour, yang belajar dari seseorang bernama John Fox Parham. 

Singkat cerita, ada sekelompok orang yang memisahkan diri dari Gereja Pentakosta dan mendirikan Oneness Pentacostalism, yang memiliki pandangan tentang Allah yaitu Yesus adalah Bapa, dan Bapa adalah Roh Kudus (Bapa = Yesus = Roh Kudus). 

Pandangan dari kelompok Oneness Pentacostalism, Allah adalah 1 hakekat dengan 1 pribadi dalam 3 manifestasi seperti menjadi Bapa pada zaman PL, kemudian menjadi Yesus pada zaman PB dan setelah Tuhan Yesus naik ke surga, berubah menjadi Roh Kudus. 

Contoh paling sederhananya: seorang bernama Hendro adalah seorang guru di sekolah, sedangkan di rumah dia adalah seorang ayah dari dua anaknya dan suami dari istrinya, di lingkungan perumahan dia adalah seorang ketua RT. Dengan demikian, Hendro ini adalah satu pribadi yang sama, dengan tugas yang berbeda-beda. 

Jelas sekali berbeda pemahaman Oneness Pentacostalism tentang Allah dengan pengikut Kristus yang menyembah Allah Tritunggal. Perbedaannya, Oneness Pentacostalism memiliki pemahaman bahwa Allah itu memiliki satu hakekat dan satu pribadi, tidak sama dengan Allah yang diperkenalkan di dalam Alkitab.

BACA JUGA  Penghentian Ibadah terhadap GKKD, PGI Minta Ketegasan Pemerintah

Pemahaman Oneness Pentacostalism bila dilihat sepintas masuk akal tetapi bukan Allah yang diperkenalkan di dalam Alkitab. Apabila Allah itu bisa masuk nalar manusia, artinya Allah itu lebih kecil dari otak manusia karena dapat dipikir dengan sederhana. Allah adalah pencipta yang tidak terbatas sedangkan manusia adalah ciptaan yang terbatas. Pengenalan akan Allah memang diatas akal (nalar) manusia.

Jika demikian bagaimana manusia bisa mengenal Allah yang benar-benar Allah? Jawabannya, Alkitab. Manusia dapat mengenal Allah dimana Allah sendiri yang menyatakan dirinya lewat Alkitab. Sebatas mana Allah menyatakan atau memperkenalkan atau membuka diri-Nya untuk dikenal, sebatas itu pula manusia dapat mengenal-Nya di dalam anugerah khusus yang Allah karuniakan. 

Konsekuensi logis dari pandangan  Oneness Pentacostalism adalah, ketika Allah turun ke bumi menjadi anak ( Yesus ) maka di surga kosong, atau ketika Yesus menjadi Roh Kudus, surga menjadi kosong.  Ini terjadi karena pemahaman Oneness Pentacostalism menterjemahkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam tiga era yang berbeda tetapi sesungguhnya satu pribadi yang sama, hanya bermanifestasi dalam wujud yang berbeda-beda.

Injil Yohanes 1 : 1 ini bila diperhatikan, ada kata pada mulanya adalah Firman. Kata Firman di sini adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang setelah berinkarnasi menjadi manusia, kemudian dikenal dengan Yesus Kristus. Pada mulanya artinya tidak berawal, Firman itu tidak diciptakan—dari dulu sudah ada, dari sebelum dunia diciptakan, Firman selalu ada karena Dia kekal. 

Firman itu bersama – sama dengan Allah. Maksudnya pribadi Firman (Logos) bersama – sama dengan Allah. Ingat! Allah di sini adalah pribadi Allah Bapa, artinya pribadi Bapa dan Anak ada bersama – sama (2 pribadi berbeda), dan Firman itu adalah Allah. 

Dalam Yohanes 1 : 1 ini ada dua kata Allah. Bila ditelusuri, kata Allah pertama itu menunjuk kepada pribadi Bapa. Sedangkan kata Allah kedua, bukan lagi menunjuk kepada Allah Bapa tetapi menunjuk kepada hakekat Allah dari Firman itu sendiri yang setara dengan Bapa. Itu sebabnya Bapa dan Firman (Logos) hakekatnya hanya satu, berarti sama, setara, sederajat.

Jauh sebelum adanya aliran Oneness Pentacostalism, pada abad ke 3, ada seorang yang bernama Sabelius yang mengajarkan ajaran yang dikenal sekarang sebagai Oneness Pentacostalism. Ajaran Sabelius ini sudah dikutuk sebagai bidat di Aleksandria di dalam sejarah gereja pada abad ke 3 itu. 

Kalau masih ada yang mengikuti Sabelianisme atau sering disebut Modalisme hari – hari ini, itu menandakan orang – orang tersebut tidak mengetahui sejarah, tidak mau belajar ajaran-ajaran yang sudah ditolak dan dikutuk sebagai ajaran sesat dalam sejarah gereja. 

Akibat dari keenganan belajar sejarah, kesalahan di masa lampau diulang kembali tanpa disadari pemahamanan yang dianutnya adalah sesat, bahkan menganggap dirinya yang benar.  

Ada lagi ajaran sesat yang sudah dikutuk dalam sejarah gereja dan terulang kembali pada zaman ini yaitu ajaran Arianisme atau subordinationisme. Pencetus ajaran ini adalah seorang yang bernama Arius pada abad ke 4. 

Pada zaman itu terjadi perselisihan yang tajam antara Arius dan Athanasius mengenai ajaran mereka tentang ke Allah an Tuhan Yesus. Keduanya mempunyai pengikut yang banyak sehingga muncul kekuatiran kaisar Konstatinus Agung yang berkuasa pada saat itu agar tidak terjadi perpecahan dinegaranya, kekaisaran Romawi, maka diadakanlah sebuah sidang yang terkenal yaitu konsili Nicea pada tahun 325. 

Yang diperdebatkan antara Arius dan Athanasius berkenaan dengan hakekat/esensi/substansi dari Yesus Kristus. Athanasius mengatakan Yesus Kristus sehakekat (sama/setara/sederajat) dengan Sang Bapa (homoousios). Sedangkan Arius mengatakan bahwa hakekat/substansi antara Bapa dan Anak (Yesus) itu mirip atau serupa (homoiousios). Arius berkeyakinan bahwa Yesus itu sedikit lebih rendah karena Yesus adalah ciptaan mula-mula Allah Bapa. 

Perdebatan perbedaan hanya satu huruf ‘i’ ini yang mempunyai dampak besar dalam kekeristenan sampai hari  ini. Sidang konsili memutuskan bahwa pandangan Arius adalah pandangan sesat dan dikutuk sebagai bidat karena tidak sesuai dengan ajaran yang diajarkan dalam Alkitab. Sampai hari ini, gereja yang kembali kepada Alkitab, mengakui Allah Tritunggal yang orthodoxy seperti yang diajarkan Athansius.

Pandangan Arius ini atau dikenal dengan Ariansime (subordinationisme) ditemui pada Gereja aliran yang saat ini menggunakan Istilah Allah senior dan Allah minor atau ada juga istilah Allah mayor dan Allah minor, semua pandangan ini adalah akarnya dari Arianisme.

BACA JUGA  PGI Berikan Dukungan Kepada GPdI Metland, Cileungsi, Bogor

Unitarian

Kedua pandangan Sabelianisme dan Arianisme masuk dalam kelompok Unitarian karena kedua-duanya mempercayai bahwa Allah itu adalah 1 hakekat dan 1 pribadi. Bedanya kalau Sabelianisme, 1 pribadi itu berubah-ubah wujud dari Bapa menjadi Yesus, dari Yesus menjadi Roh Kudus sedangkan Ariasnisme mengajarkan pribadi Bapa dengan hakekat Allah tetapi pribadi Yesus adalah ciptaan yang lebih rendah daripada Bapa.

Trinitarian

Gereja yang mengikuti ajaran yang orthodoxy, yang rasuli, menganut Trinitarian yaitu percaya Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus adalah 3 pribadi dalam satu kesatuan, tidak terpisahkan, tidak bercampur, dan dapat dibedakan satu dengan lainnya. Ketiga pribadi ini mempunyai satu hakekat Allah; sama, setara dan sederajat.

Diluar kepercayaan Trinitarian, konsekuensi logisnya itu bukan Allah yang diperkenalkan didalam Alkitab sehingga Yesus itu sesungguhnya bukan Yesus yang diajarkan dalam Alkitab tetapi itu adalah “Yesus” yang lain.

Dwinatur Kristus 

Ada juga pemahaman atau doktrin Dwinatur Kristus (Hypostatical Union), istilah yang dicetuskan pertama kali oleh Sirilius dari Alexandria. Natur itu sama dengan kata hakekat, substansi atau esensi. Yohanes 1 : 14 Firman itu telah menjadi manusia.

Dwinatur Kristus adalah waktu Allah berinkarnasi menjadi manusia bukan berarti otomatis menjadi manusia lalu hilang ke Allah annya, tidak, masih tetap Allah. Allah tidak pernah berhenti menjadi Allah. Sebab pribadi Firman (Logos) mengambil (“ketambahan”) natur baru yang namanya manusia pada Natal itu. Sejak Firman (Logos) berinkarnasi menjadi manusia, sejak itulah Kristus memiliki dua hakekat (natur) yaitu natur Ilahi dan natur manusia. Kristus memilki 2 natur (hakekat) manusia dan Ilahi didalam 1 pribadi. Baca Filipi 2 : 6. 

Para pengikut Dwinatur Kristus memahami bahwa Allah yang berinkarnasi menjadi manusia bukan berarti meniadakan atribut ke Ilahian. Namanya Allah maka tidak bisa berhenti sebagai Allah.  Untuk itu di dalam dwi (dua) natur dalam satu pribadi Kristus itu satu kesatuan yang tidak terpisahkan, tidak bercampur atau menjadi natur baru. 

Akibat dari pemahaman Allah Tritunggal atau akibat penjelasan dari Dwinatur Kristus ini banyak menimbulkan pertanyaan dari rekan – rekan agama non Kristen. “Yesus katanya Allah tetapi mati di atas Kayu Salib?” dan kebanyakan umat Kristiani yang tidak memahami dengan benar Allah Tritunggal, akan menjawab “ Oh yang mati manusianya, bukan ke Allah annya,” Jawaban itu sekilas dan dengan cepat dapat ditanggapi seakan masuk akal dan benar, padahal itu salah. 

Sebab jawaban itu telah memisahkan kemanusiaan Yesus dan ke Ilahian Yesus. Konsekuensi dari pandangan ini Yesus mempunya 2 pribadi, pribadi manusia dan pribadi Ilahi. Pandangan seperti ini juga sudah dikutuk pada abad ke 5 yang dikenal dengan konsili Chalcedon. Tuhan Yesus Kristus yang disembah oleh orang Kristen itu adalah 2 natur (Allah dan manusia) dalm 1 pribadi Kristus, itulah yang diajarkan dalam Alkitab.

Bertolak dari Filipi 2 : 6, waktu Allah mengosongkan diri itu tidak memakai (“menyembunyikan”) atribut ke Allah annya tapi bersamaan dengan itu tidak dapat dilepaskan bahwa Dia tetap Allah.  Dwinatur (Allah dan manusia) dalam 1 pribadi Kristus itu satu kesatuan, tidak terpisahkan, tidak bercampur (tidak membentuk natur baru). 

Lewat penjelasan – penjelasan sangat singkat di atas, bila masih ada yang berpegang pada dogma atau kepada pemahaman selain daripada Allah Tritunggal yang satu hakekat dan memiliki tiga pribadi, maka itu salah. 

Apa yang sudah pernah ditolak oleh bapa – bapa Gereja, terus diulang-ulang sampai masa kini. Bagi yang masih bersikeras dengan pemahaman atau menganut doktrin Oneness Pentacostalism, Unitarianisme, segera bertobat—karena sejak dulu ajaran – ajaran ini sudah final, ditolak dan dikutuk dalam sejarah Gereja. 

Marilah gereja-gereja menginstropeksi diri, apakah sudah menganut pandangan yang orthodoxy dari Trinitarian dan dwi-natur Kristus atau masih menganut pandangan yang sudah ditolak dan dikutuk dalam sejarah gereja dimasa lampau? Dengan menganut pandangan tesebut, bukan manusia yang dilawan tapi Alkitab, Firman Allah, yang dilawan!

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
1
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini