Mahasiswa Katolik Agen Perubahan Membangun Kesadaran Diri Sesuai Spritualitas Laudato Si

0
Misa dipimpin Romo Franki

BANDUNG – Bertempat di Eco Camp di Jalan Juanda, Cibural Kec. Cimenyan, Bandung, sekitar 23 mahasiswa Katolik yang tergabung dalam keluarga Mahasiswa Katolik dan AKPK Pendidikan Agama Katolik, dari perguruan tinggi umum Paroki Salib Suci, Purwakarta, Keuskupan Agung Bandung, mengadakan gladi rohani.

Sedangkan mahasiswa dari luar paroki Salib Suci, Purwakarta, seperti dari Kalimantan, Sumatera Utara dan Jakarta, ada yang ikut tetapi melalui aplikasi zoom meeting.

Acara yang dimulai pukul.06.00 – 21.00 WIB itu tetap mematuhi, bahkan menjalankan protokol Kesehatan dengan ketat. Semua yang hadir diharuskan cek suhu, pakai masker, jaga jarak (hindari kerumunan) dan selalu cuci tangan.

Lewat acara ini, para mahasiswa mendapatkan materi-materi yang membuka cara berpikir lebih luas lagi terhadap permasalahan sosial yang ada di sekitar. Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut memiliki kemampuan untuk menggerakan perubahan, termasuk mental.

Pada acara tersebut, Bimas Katolik Provinsi Jawa Barat berharap orang muda Katolik berani memerangi hoaks. Penyebaran hoaks di media sosial yang semakin mengkuatirkan, diharapkan pemuda-pemudi Katolik dapat menyaring, mana informasi yang harus ditolak karena hoaks dan mana yang harus diteruskan karena memiliki unsur kebenaran.

Pembimas Katolik juga meminta dengan sangat agar pemuda-pemudi katolik dapat menjauhi narkoba. “Berhati-hatilah dalam bergaul,” katanya.

Di waktu yang berbeda, Pastor FX Franki meminta para pserta untuk tidak takut jatuh cinta, tapi tampil dan menyadari panggilan sebagai agen perubahan. “Kita harus menyadari dan menjadi orang Indonesia  100% dan pemuda-pemudi katolik 100%, yang terpanggil untuk mencintai, termasuk mencintai lingkungan hidup. Kita mesti semakin terlibat ramah lingkungan,” katanya.

BACA JUGA  BPH GBI Panggil Pdt. Gilbert Lumoindong Terkait Doktrin Allah Tritunggal

Ketua Panitia, Yohanes Babtista S.SPd menjelaskan dengan dipilihnya Laudato Si, untuk pemuda-pemudi dapat menjawab pesan keadilan, ekologis, keadilan sosial, ekonomi, perubahan struktural, gaya hidup, transformasi pendidikan, spiritualitas dengan mendasarkan diri pada semangat partisipatif dan roh komunitas.

Peserta gladi rohani di Bandung

Adapun tujuan pokok Laudato Si,terdiri dari jawaban tangisan bumi yang berfokus pada upaya mengatasi krisis lingkungan dan mengupayakan perkembangan hidup bersama, berkelanjutan.

Dicastery mendorong penggunaan lebih banyak energi bersih terbarukan dan mengurangi bahan bakar fosil untuk mencapai karbon netral dan usaha-usaha untuk melindungi keanekaragaman hayati, ketersediaan air bersih bagi semua makhluk hidup.

Jawaban atas tangisan yang miskin, mencakup langkah – langkah serius untuk pembelaan kehidupan manusia, mulai konsepsi hingga akhir hayatnya dan segenap bentuk kehidupan dimuka bumi, dengan perhatian khusus, perhatian pada kelompok rentan,misalnya migran, perbudakan anak, masyarakat adat dll.

Dicastery melihat problem utama dari peradaban manusia kontemporer yang tidak ramah lingkungan adalah dianutnya ekonomi yang menjadikan eksploitasi dan dominasi manusia atas alam sebagai prinsipnya.

Model ekonomi ini harus di ubah melalui penulisan kembali model-model bisnis yang lebih lestari dan menghormati kehidupan.

Penerapan gaya hidup sederhana,seluruh gereja dan masyarakat di dorong untuk mampu membangun hidup sederhana, di antaranya dengan mengurangi penggunaan sumber daya energi dari fosil, menerapkan makan nabati, kurangi konsumsi daging, lebih banyak menggunakan transportasi umum dan menghindari moda transportasi yang mencemari.

Mulai sekarang didiklah anak anak dengan pendidikan ekologis yang menjadi dasar umat manusia. Tidak hanya mendidik unggul dalam teknologi tapi perlu juga pengaturan  secara emosional dalam arti dengan hati yang bening dan takut akan Tuhan, yang penting mampu mengembangkan hidup berkualitas Bersama – sama alam lingkungannya. Kehidupan manusia harus di kembalikan pada kesatuan organiknya pada alam.

BACA JUGA  Pesan Pdt. Nathan Setiabudi: Jangan Cobai Tuhan dengan Menyepelekan Covid-19

Untuk itu di perlukan kurikulum yang membumi dan reformasi lembaga pendidikan dalam semangat ekologis untuk menciptakan kesadaran dan tindakan ekologis, misalnya, sekolah alam agar mendapatkan panggilan ekologis, kaum muda, guru, dosen, pemimpin pendidikan, pemuka masyarakat dan pemuka agama.

Spiritualitas ekologis, alam harus dipulihkan sebagai sesama yang membawa wajah Allah di segenap aspek kehidupan dan tendensi hegemoni manusia sebagai puncak piramida harus di ubah menjadi ekosistim cinta kasih dari semua ciptaanNYA.

Untuk itu perlu memulihkan visi religius dari ciptaan Allah,mendorong hubungan yang lebih besar dengan alam dalam semangat keajaiban, pujian, kegembiraan dan rasa syukur, mengembangkan ajaran iman (katekese), doa, retret, formasi ekologis. Untuk itu partisipasi dan inisiatif warga harus menjadi landasan dasar dari bangunan ekonomi integral.

Berangkat dari pemikiran di atas perlu adanya kegiatan gladi rohani katolik untuk membangun semangat komunitas murid – murid Kristus dan pengembangan dalam proses pembinaan rohani.

Cita cita MGR. Soegiyopranoto dalam bukunya 100% katolik,100% Indonesia masih tertanam di benak orang muda katolik, namun tetap pada semangat Laudato Si. (Kontributor: AS)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini