Ketum MUKI, Djasarmen Purba : Rawat Toleransi dengan Pendekatan

0
Djasarmen Purba

Jakarta – Pimpinan umat Kristiani tanpa rasa kenal lelah terus meneriaki dan berjuang agar terjadi pemahaman yang sama soal toleransi antar umat beragama. Teriakan ini dikarenakan masih saja terjadi gesekan – gesekan di tengah – tengah praktik keagamaan di dalam bangsa ini.

Teriakan – teriakan toleransi dari pimpinan umat, seakan pada akhir Maret – awal April ini dikaburkan oleh terjadinya “pertikaian” dua orang menggunakan label pendeta, yang menjadi tontonan masyarakat umum lewat (media sosial).

Pertikaian kedua orang yang menyandang gelar pendeta itu sampai harus ditanggapi oleh agama lain. Bentuk tanggapannyapun dibuat dan ditayangkan di media sosial dengan mengatakan diinternal Kristen terjadi pertikaian. 

Sebenarnya, pertikaian kedua orang yang menyandang gelar pendeta itu dapat dihindari kalau keduanya mampu menahan diri atau memiliki semangat untuk toleransi. 

Media ini saat berbincang ringan dengan Ketua Umum (Ketum) Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), yang keanggotannya lintas golongan sinode di Kristiani, Djasarmen Purba, mengenai teriakan toleransi untuk kepentingan umat beragama tetapi bersamaan dengan itu di lingkungan Kristiani sendiri kata toleransi itu seakan masih jauh.

Djasarmen Purba menjelaskan tentang toleransi tidak hanya untuk diperkatakan dalam kepentingan lintas (antar) agama atau eksternal. Tetapi harus bersamaan dengan adanya toleransi di dalam satu agama atau internal.

“Jika kita bicara toleransi antar agama atau eksternal tentu ada strategi untuk menjaganya. Begitu juga dengan internal,” katanya.

Djasarmen menjelaskan dari sisi internal. Pertama, baik pimpinan umat atau umat itu sendiri harus mampu menekan rasa egonya, dalam hal merasa paling benar dari semua. 

“Kehadiran MUKI tidak bersentuhan dengan dogma atau doktrin, itu sebabnya seluruh denominasi Gereja ada di dalam, bersatu. Itu sebetulnya mengarah kepada oikumene,”paparnya. 

Adanya intoleransi, tidak lepas dari Ego yang merasa paling benar dan menyalah – nyalahkan yang lain. “Ini justru sesungguhnya yang menimbulkan konflik. Untuk itu saya mengajak kita untuk menghilangkan rasa ego, untuk supaya kita dapat bekerjasama satu dengan yang lainnya,”

BACA JUGA  Memperingati Hari Kesehatan Internasional, PGI : Cegah Stunting 

Kedua, Djasarmen Purba meminta baik pimpinan umat atau umat itu sendiri yang selalu mengatakan atau berharap pemeluk agama lain melakukan toleransi, untuk dapat intropeksi diri. 

“Kita sering mengatakan kepada orang lain toleransi – toleransi tetapi nyatanya diantara kita karena ada ego, toleransi tidak berjalan sempenuhnya. Ingat! Ini terjadi karena ego yang membuat kita tidak bisa bekerjasama satu dengan lainnya di internal Kristen,”

Ketiga, Djasarmen Purba juga menyinggung soal moderasi beragama. “ Saya tertarik dengan apa yang dikatakan moderasi beragama. Saya ikut acara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Manado baru – baru lalu. Moderasi beragama itu tidak hanya di antara agama, tetapi juga di internal agama juga perlu moderasi beragama.  Maksudnya, pemeluk – pemeluk agama dapat berpikir secara modern tanpa harus meninggalkan kearifan lokal,”

Kaitannya moderasi yang dimaksud Djasarmen Purba, dengan adanya moderasi di internal agama pemeluknya, maka rasa ego itu akan hilang, dan toleransi akan menguat.

Keempat, Djasarmen Purba menyinggung pentingnya  kehadiran Aras Nasional Gereja supaya komitmen toleransi di internal umat Kristiani dapat berjalan dengan baik. “Aras Nasional Gereja untuk memperkokoh rasa toleransi harus bisa menyikapi isu – isu yang terjadi di lingkungan umat Kristiani secara bersama – sama. Jangan masing – masing bersikap, lalu terjadi lagi perbedaan sikap. Sah -sah saja menyikapi masing – masing tetapi jauh lebih baik bila bersama – sama,”

Djasarmen Purba mengambil contoh soal masalah yang dihadapi oleh Saifuddin Ibrahim, dimana Aras Nasional Gereja tidak memiliki sikap yang sama dan tidak juga menyatakan sikap secara bersama – sama. “Usul kami yang konkrit, seandainya ada hal – hal yang menyentuh kepentingan Kristen alangkah baiknya Aras Nasional Gereja dapat menyikapi secara bersama – sama,”.

Setelah menjelaskan tentang internal, Djasarmen Purba, mengatakan untuk toleransi beragama atau eksternal diperlukan perawatan. “Kita perlu rawat dan dorong supaya toleransi itu tidak terjadi hanya di kalangan elite pimpinan agama tetapi juga menyebar kepada sendi – sendi masyarakat pada umumnya,” tuturnya dan memberikan contoh bagaimana MUKI yang mendapatkan kesempatan bersama dengan Imam Besar Masjid Istiqlal, dan dapat menggelar semacam seminar.

BACA JUGA  Rangkaian Kegiatan HUT SKA Lumajang ke 46

Pada saat seminar itu, Djasarmen Purba mengatakan bahwa toleransi atau hubungan baik di antara umat beragama, dalam hal ini elitnya terjalin dengan baik tetapi di masyarakat bawah belum tentu. 

“Contoh kecil, dan ini saya ungkapkan pada waktu seminar itu. Saya katakan, kita di sini hubungan nya sangat bagus, tetapi kami dari MUKI banyak mendengar bahwa untuk mengurus izin domisili rumah ibadah, ke RT, RW, banyak pejabat RT, RW yang tidak bersedia. Padahal semua persyaratan sudah lengkap. Ini yang saya maksud toleransi hanya terjadi di tingkat elite,”.

Lebih jauh, Djasarmen Purba menegaskan bila toleransi tidak terbangun dengan baik maka yang akan terjadi intoleransi. Kalau praktik – praktik intoleransi berkembang maka hal ini dapat menjadi bibit – bibit radikalisme.

“Sebenarnya radikalisme itu sepanjang positif, itu sah. Contoh ketika saya radikal kepada agama saya secara positif itu akan menjadi baik tetapi kalau negatif, itu akan berujung pada terorisme. Dan tentu kita tidak harapkan terorisme yang hadir itu mau mengganti Dasar negara Republik Indonesia,”tegasnya.

Rahasia agar toleransi dapat berjalan dengan baik dan dapat dirawat, Djasarmen Purba mengatakan diperlukan kemampuan untuk melakukan pendekatan. “Untuk dapat berjalannya toleransi dan modernisasi adalah pendekatan. Dan ini memerlukan proses, tidak bisa hanya sebatas berbicara toleransi atau modernisasi. Sekali lagi harus mampu melakukan pendekatan, sebab dengan pendekatan itu kita dapat menjalin hubungan yang erat dengan berbagai jaringan yang ada di dalam bangsa ini,”tuturnya.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini