Ev. Harry Mandagi

JAKARTA – Benarkah orang yang menyebut dirinya orang Kristen pasti selamat? Pertanyaan lebih spesifik: Apakah setiap orang yang rajin ke Gereja pasti selamat? Termasuk juga mereka yang setia terlibat di dalam pelayanan? Ada orang-orang Kristen berpandangan dengan satu presuposisi (asumsi dasar) bahwa orang yang aktif dalam pelayanan adalah orang-orang yang sudah bertobat.

Apa yang dikatakan kebenaran dari asumsi tersebut harus dibandingkan dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab, firman Allah yang tertulis; Di inspirasikan oleh Roh Kudus kepada para penulis-penulisnya untuk menuliskannya (2 Tim 3:16). Orang Kristen sejati percaya inerrancy of the Bible (ketidakbersalahan Alkitab/Alkitab tidak mengandung kesalahan) dan inffalability of the Bible (ayat-ayat dalam Alkitab tidak ada yang saling bertentangan). Alkitab mempunyai otoritas tertinggi melampaui Gereja, di atas pemimpin Gereja, di atas Ketua Sinode, di atas apapun di dunia ini; yang menjadi dasar atau tolok ukur kebenaran.

Siapakah yang pertama kali mendirikan Gereja? Satu-satunya Injil yang menerangkan bahwa Gereja itu didirikan oleh Tuhan Yesus di dalam pernyataan-Nya di dalam Injil Mat 16:18 “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”.

Ayat ini menjadi perdebatan selama berabad-abad hingga hari ini, apakah “Petrus” (petros – rock / batu karang kecil) yang menjadi dasar jemaat atau “batu karang” (petra – cliff / batu karang besar)? Ada Gereja yang menafsirkan “batu karang” itu adalah Petrus dan ada pula yang menafsirkan “batu karang” itu menunjuk kepada Kristus.

Pandangan dasar Gereja dibangun di atas Petrus yang adalah batu karang, itu adalah tafsiran yang tidak tepat karena walaupun dia seorang rasul Kristus, dia adalah seorang manusia biasa yang bisa jatuh dalam dosa. Bahkan dosa yang sangat serius pernah dilakukannya yaitu menyangkal Kristus sebanyak tiga kali pada waktu Kristus diadili di hadapan Makhkamah Agama (Mat 26:69-75).

Bagaimana dengan penafsiran “batu karang” adalah Kristus? Tafsiran ini walaupan tidak sepenuhnya salah tapi kurang tepat, apabila dilihat dari konteks ayat tersebut. Satu prinsip dalam penafsiran adalah “Alkitab menafsirkan Alkitab”; Artinya apabila menjumpai ada ayat-ayat yang sulit dimengerti dalam Alkitab, dapat ditafsirkan dengan membandingkan konteks parallel (keselarasan) dari ayat-ayat tersebut di dalam bagian lain di seluruh Alkitab yang lebih mudah dipahami.

Apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus? Ajaran Gereja berdasarkan ajaran yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru, artinya Kristus yang menjadi pusatnya (Ef 2:19-20). Dengan demikian apa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan “batu karang” di Mat 16:18 ? Jika melihat konteksnya, Tuhan Yesus sedang menunjuk kepada pengakuan iman dari Petrus yang mengatakan “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (ay. 16) waktu Dia bertanya “siapakah Aku ini?” (ay. 15).

Ini diperjelas dengan kata “batu karang” dalam bahasa Yunani menggunakan gender kata dalam bentuk feminin, bukan maskulin; Artinya bukan menunjuk kepada suatu pribadi. Berdasarkan penjelasan ini, tafsiran yang lebih bertanggung jawab adalah “batu karang” menunjuk kepada satu doktrin (pengajaran) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus yang menjadi pusatnya.

Satu analogi: Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia dalam UUD 1945, bukan berdiri di atas dasar manusia, tapi berdiri di atas doktrin (ajaran) yang menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam suku bangsa. Banyak orang yang mengatakan, doktrin itu adalah penyebab pemecah-belah dalam kekristenan, buktinya Gereja terpecah menjadi banyak aliran dengan berbagai doktrin yang berbeda-beda. Apakah benar doktrin sebagai penyebab perpecahan? Doktrin yang benar, yang kembali kepada Alkitab sebagai otoritas tertinggi (Sola Scriptura), justru sebagai pemersatu, bukan pemecah belah; contohnya seperti negara Republik Indonesia yang berdiri berasaskan (berlandaskan) Pancasila dan UUD 1945 itu. Dengan demikian statement bahwa doktrin penyebab perpecahan, itu satu statement yang terbalik, doktrin khususnya yang fundamental (mendasar) yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab justru yang menjadi penyebab perpecahan itu. Bukan hanya Sola Scriptura (hanya oleh Kitab Suci/Alkitab) yang menjadi dasar ajaran kekristenan tetapi juga Tota Scriptura yaitu isi dari keseluruhan Alkitab yang saling terkait (terintergrasi) secara komprehensif, harmonis, holistik dan tidak ada satupun pertentangan ayat dalam penafsirannya.

Ajaran yang benar itu juga tidak boleh lepas dari apa yang terjadi dalam sejarah gereja dan itu berjalan secara berkesinambungan karena Allah bekerja melalui sejarah. Bahkan Allah memakai sejarah itu, karena Allah pencipta sejarah itu. 7 konsili Ekumenis Pertama yang pernah diadakan dalam sejarah Gereja, masa Reformasi dan post Reformasi juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan iman Kristen.

Pertanyaan berikut adalah siapakah orang-orang yang ada di dalam Gereja ini? Apakah Gereja berisi kumpulan orang-orang pilihan Allah? Jika demikian, benarkah semua orang yang rajin ke Gereja adalah orang-orang yang diselamatkan? Sepintas kalimat ini bisa dipahami benar tapi sesungguhnya tidak sepenuhnya benar.

Perlu dipahami ada 2 istilah: Gereja yang kelihatan dan Gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang kelihatan adalah bagunannya secara fisik dan orang-orang didalamnya. Gereja yang tidak kelihatan, sesuai namanya “tidak kelihatan” karena hanya Allah yang mengetahuinya, adalah orang-orang pilihan Allah. Dengan demikian gereja yang kelihatan terdiri dari kumpulan/campuran orang-orang pilihan dan bukan pilihan Allah. Untuk mengetahui maksud dari 2 istilah ini, mari simak penjelasan berikut ini.

Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat 13:24-30) dan kemudian Tuhan Yesus sendiri yang menjelaskan arti dari perumpamaan tersebut ketika murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya (Mat 13:36-43). Dalam kehidupan ini seringkali sulit membedakan sesuatu yang asli dan yang palsu apabila yang palsu itu sangat mirip dengan yang asli. Hal yang sama juga terjadi dengan orang Kristen sejati dan orang Kristen palsu. Konsep ini dijelaskan Tuhan Yesus ketika Ia membentangkan suatu perumpamaan antara lalang dan gandum untuk mengajarkan adanya perbedaan warga kerajaan Allah dan yang bukan, nanti sebelum tiba akhir zaman.

Dalam perumpamaan itu dikatakan, ada seorang penabur menaburkan benih yang baik di ladang, kemudian pada waktu semua orang tidur, datanglah seorang musuh menaburkan lalang di antara gandum, setelah itu dia pergi. Bentuk lalang ini mirip dengan gandum sehingga akibatnya lalang dan gandum itu sulit dibedakan sampai waktu kedua tanaman itu bertumbuh hingga berbulir (ay. 26). Sang penabur benih adalah Anak Manusia yaitu Kristus (ay. 37) dan yang ditabur adalah benih yang baik yaitu anak-anak Kerajaan atau orang-orang pilihan-Nya (ay. 38); sedangkan musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis (ay. 39). Ayat 37 ini secara eksplisit mengatakan Allah sendiri yang memilih orang-orang pilihan-Nya, bukan manusia yang memutuskan memilih Allah; itu karya Allah sepenuhnya.

Mengapa pemilik ladang itu yaitu sang penabur itu melarang hamba-hambanya untuk mencabut lalang tersebut? Lalang dan gandum ini tumbuh dengan akar saling melilit, sehingga mencabut yang satu, yang lain akan ikut tercabut karena gandum belum berakar dengan kuat.

BACA JUGA  Pdt. Yohanes L Mendapatkan Dukungan untuk Maju Calon Ketua MD GPdI Jawa Barat

Apa makna di balik perkataan Tuhan Yesus untuk membiarkan lalang itu tumbuh bersama di antara gandum itu sampai waktu panen (menuai)? Yesus lebih tertarik kepada bagaimana gandum tetap bertumbuh daripada bagaimana memusnahkan lalang. Yesus mengajari anak-anak-Nya untuk belajar bertahan di tengah-tengah ancaman lalang dan tetap bertumbuh. Jangan banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan, bagaimana menyingkirkan lalang, tapi fokuslah bagaimana sebagai gandum tetap bisa bertumbuh sekalipun harus berdampingan dengan lalang.

Gandum disini menunjuk kepada orang-orang pilihan, sedangkan lalang adalah orang-orang diluar pilihan Allah. Gandum dan lalang ada di ladang yang sama, adalah satu gambaran, ada dua jenis orang dalam Gereja yaitu orang-orang pilihan dan orang-orang bukan pilihan Tuhan. Kedua jenis orang dalam Gereja ini sangat sulit dibedakan seperti membedakan gandum dan lalang didalam ladang.

Sebagai orang Kristen kita tidak mempunyai hak untuk menghakimi orang lain itu selamat atau tidak karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu apakah mereka adalah orang-orang pilihan atau bukan, semua itu eksklusif ada dalam otoritas Tuhan dalam kedaulatan-Nya, dimana Tuhan sendiri yang akan memisahkan antara gandum dan lalang pada masa menuai (akhir zaman).

Di dalam realita hidup, kita sering menjumpai banyak orang yang memiliki perilaku tertentu mirip pengikut Kristus; rajin ke Gereja, persekutuan, bahkan memberikan sumbangan ke Gereja, yatim piatu dan janda, rumah jompo, dan banyak aksi sosial lainnya; Misalnya ada sisi lain yang tidak terekspos dari kehidupan mereka, mungkin cara mereka berpikir bukanlah cara Kristen, dan lain sebagainya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang aktif terlibat dalam pelayanan. Mungkin ada motivasi-motivasi tertentu yang terselubung dalam pelayanan, sehingga sesungguhnya manusia tidak ada yang mengetahuinya, hanya Tuhan yang tahu mana orang-orang pilihan-Nya dan mana yang bukan. Berbuat baik itu satu keharusan tetapi itu bukan syarat untuk keselamatan. Lalang dan gandum itu sulit untuk dibedakan, itulah realita gambaran orang pilihan dan bukan pilihan didalam gereja Tuhan dimana manusia tidak bisa membedakannya, hanya Tuhan yang dapat membedakannya.

Mengapa Tuhan Yesus memakai perumpamaan gandum dan lalang untuk mengambarkan orang pilhan dan bukan pilihan? Gandum adalah gandum dan lalang adalah lalang. Lalang tidak dapat berubah menjadi gandum, begitu juga sebaliknya, gandum tidak dapat berubah menjadi lalang.

 “Lalang” dalam teks Yunaninya zizanion dari kata zizania yang berarti “rumput liar yang menganggu di ladang gandum”. Pertanyaannya mengapa Tuhan tidak mau menyingkirkan lalang-lalang itu sehingga tidak menggangu kehidupan dan menghambat pertumbuhan gandum itu? Untuk menyingkirkan lalang, bagi Tuhan itu satu perkara yang terlalu mudah tapi kenapa Tuhan tidak melakukannya? Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya dan Dia seringkali memakai situasi yang kelihatannya tidak menyenangkan (tidak baik) dalam pandangan manusia, justru untuk mendatangkan kebaikan dalam membentuk kerohanian anak-anak-Nya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Lalang tumbuh di antara gandum sampai masa penuaian yaitu menunjuk kepada akhir zaman, dimana Tuhan memisahkan antara gandum dan lalang; lalang akan diikat dan dibuang kedalam dapur api (ay. 30, 42) yaitu hukuman kekal, sedangkan gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan.

Hal serupa juga dicatat di Mat 25:31-46 tentang penghakiman terakhir dimana orang-orang pilihan juga dipisahkan dari bukan pilihan seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Matius memakai gambaran domba untuk orang-orang pilihan dan kambing untuk bukan orang pilihan. Tuhan memakai istilah-istilah yang mudah dimengerti oleh manusia, bahwasanya domba tidak dapat berubah menjadi kambing dan sebaliknya juga demikian. Alkitab selalu konsisten memakai gambaran-gambaran seperti ini untuk menjelaskan satu kebenaran bahwa orang percaya sejati tidak mungkin berubah menjadi bukan orang percaya, sebagaimana domba tidak dapat berubah menjadi kambing dan gandum tidak dapat berubah menjadi lalang. Hanya memang dari tampak luar, seringkali orang pilihan dan bukan pilihan dalam gereja, mereka sulit dibedakan. Kita tidak perlu mencurigai, apalagi menghakimi siapapun, baik mereka ada didalam gereja yang sama maupun yang berbeda, karena kita bisa terkecoh dengan penampilan dan perilaku orang. Manusia melihat apa yang nampak tapi Tuhan melihat apa yang manusia tidak dapat melihatnya didalam kedaulatan-Nya.

Hal ini juga dikatakan oleh Yohanes tentang antikristus dimana banyak pengikut-pengikutnya itu ada bersama-sama dengan orang percaya tapi sesungguhnya mereka itu bukan orang percaya. 1 Yoh 2:19 “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.

Kalimat “mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita” mengindikasikan bahwa pengikut-pengikut antikriskus itu ada bersama-sama dengan orang-orang percaya, tetapi sesungguhnya mereka bukan orang percaya. Dimanakah mereka ini berada? Mereka juga ada di dalam gereja bersama-sama dengan kumpulan orang-orang percaya. Kambing dan domba, lalang dan gandum ada bersama-sama didalam gereja. Mungkin saja mereka adalah jemaat biasa, tidak tertutup kemungkinan juga mereka adalah orang-orang yang aktif terlibat didalam pelayanan karena secara tampak luar kita tidak dapat membedakan mereka, hanya Tuhan yang tahu.

Apakah mungkin seseorang yang berstatus pendeta juga termasuk didalamnya? Ingat, jabatan tidak menjadi jaminan keselamatan tapi orang yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, orang itu yang akan diselamatkan karena dia akan diberikan iman yang sejati untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Kita mungkin bisa tertipu karena iman yang sejati dan iman yang palsu seringkali sulit dibedakan dari melihat penampilan luar dan perilaku orang-orang dalam gereja tapi hanya Tuhan lah yang mengetahui semuanya itu. Jangankan seorang pendeta, jabatan seorang rasul pun belum tentu ada jaminan keselamatan, contohnya Yudas Iskariot.

Kenapa Tuhan Yesus memilih Yudas Iskariot? Apakah Tuhan Yesus salah memilih Yudas Iskariot menjadi rasul-Nya? Apakah Tuhan Yesus tidak tahu bahwa suatu hari nanti Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya? Tuhan Yesus tidak pernah salah memilih. Tuhan hanya memilih dia untuk jabatan rasul, bukan memilih untuk diselamatkan; ini dua hal yang berbeda. Ini mirip dengan raja Saul yang dipilih oleh Tuhan untuk jabatan raja, untuk suatu tugas tertentu untuk menggenapi rencana-Nya, bukan pilihan untuk keselamatan.

Satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh banyak orang, apa signifikansinya Tuhan Yesus memilih Yudas Iskariot kalau Dia tahu dikemudian hari akan dikhianati olehnya? Memang ini satu pertanyaan tidak mudah dijawab karena pikiran Allah dan pikiran manusia sangatlah berbeda. Akan tetapi renungkanlah penjelasan ini: Tuhan memilih Yudas Iskariot supaya dia menjadi contoh sepanjang zaman bahwa didalam gereja Tuhan, selalu ada lalang; didalam gereja Tuhan selalu ada kambing, bukan hanya domba semuanya. Yudas Iskariot menjadi contoh abadi. Dia bukan sekedar aktivis, bukan sekedar pendeta; dia rasul, tangan kanan-Nya Tuhan Yesus sendiri, murid-Nya Tuhan Yesus sendiri, yang selama 3 tahun x 24 jam ikut Tuhan Yesus, tapi realita mengerikan, Yudas Iskariot bukan orang pilihan Tuhan. Ini menjadi satu contoh, satu peringatan bagi gereja Tuhan sepanjang zaman; jangan berpikir orang yang melayani di gereja dengan jabatan sebagai hamba Tuhan, majelis dsb, semuanya orang pilihan Tuhan – belum tentu. Mungkin ada “Yudas-Yudas” didalamnya.

BACA JUGA  Apakah Pemberian Buah Sulung Masih Relevan?

Ingat kisah di Injil Matius pasal ke 7 mengenai “hamba Tuhan” didalam pelayanannya mengadakan banyak mukjizat, bernubuat dan mengusir setan demi nama Tuhan Yesus tetapi mirisnya Tuhan Yesus menolak mereka (ay. 23). Dikatakan Tuhan Yesus tidak mengenal mereka; bukan Tuhan Yesus tidak tahu siapa mereka tetapi maksudnya mereka ini bukan orang-orang pilihan-Nya (band. Yoh 10:14), sehingga Yesus memakai kata-kata yang keras “enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan”. Siapakah mereka ini yang dimaksud Tuhan Yesus tidak mengenal mereka dan pembuat kejahatan ini? Ini konteksnya merujuk pada ayat 15 dimana dikatakan “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”. Mereka adalah nabi-nabi palsu yang berpenampilan luar seperti domba (“hamba Tuhan”), tetapi bagian dalamnya adalah serigala yang buas (nabi-nabi palsu). Mirisnya nabi-nabi palsu ini tidak sadar bahwa mereka adalah nabi-nabi palsu dan dipakai oleh iblis menjadi antek-anteknya. Ini tercermin dari ayat 22 dimana mereka seolah-olah protes kepada Tuhan Yesus bahwa mereka sudah melakukan hal-hal yang baik yaitu membuat banyak mukjizat, bernubuat dan mengusir setan. Inilah spirit dari nabi palsu yaitu mengharapkan imbalan (berkat/balasan) dari Tuhan atas “kerja keras” mereka melayani Tuhan, seolah-olah Tuhan berhutang budi kepada mereka atas jasa-jasa “pelayanan” mereka. Hamba Tuhan yang sejati mengenal siapa dirinya, dia hanya seorang hamba; dalam bahasa Yunani kata “hamba” dipakai kata “doulos” yang secara hurufiah berarti “budak”. Jangankan mengharapkan imbalan, seorang budak tidak mempunyai hak apapun selain tunduk dan taat kepada perintah tuannya.

Ada satu bagian lain yang juga sering menjadi perbedaan pemahaman diantara banyak gereja perihal tentang murtad. Ibr 6:4-6 (Ay 4) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, (Ay 5) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, (Ay 6) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ibr 6:4-6 ini perlu digali lebih dalam untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya apa yang dimaksud oleh firman Tuhan itu sendiri. Salah satu prinsip dalam hermeneutika adalah tidak boleh menafsir ayat bertentangan dengan ayat-ayat yang lain didalam seluruh Alkitab, semuanya harus sinkron dan terintegrasi secara harmonis. Membaca sepintas Ibr 6:4-6 ini terkesan orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, bisa meninggalkan imannya alias murtad. Orang yang dikatakan didalam kitab Ibr 6 ini terkesan adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, dibuktikan dengan dia sudah pernah mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang (ay. 5), tetapi orang itu meninggalkan imannya dan tidak pernah berbalik kembali. Ini kesan yang muncul ketika membaca ayat tersebut. Benarkah cara penafsirannya seperti itu? Sekali lagi, ayat yang sulit dimengerti, perlu dibandingkan dengan ayat-ayat parallel lainnya didalam Alkitab sesuai konteksnya, yang lebih eksplisit (jelas) dan lebih mudah dimengerti.

Apa sebenarnya makna dibalik Ibr 6:4-6 ini, apakah benar ditujukan kepada anak-anak Tuhan yaitu orang percaya sejati? Ibr 6:4-6 ini parallel (selaras) dengan apa yang tertulis di 1 Yoh 2:19 “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita…..”. Orang-orang yang meninggalkan imannya alias murtad itu, sesungguhnya mereka bukan orang-orang percaya sejati, mereka bukan orang yang beriman, iman mereka adalah iman yang palsu, hanya mereka berpenampilan seperti orang percaya, sehingga manusia sering terkecoh dalam menilai seseorang karena manusia adalah ciptaan yang terbatas.

Sesungguhnya Ibr 6:4-6 ini adalah satu pengandaian yang tidak mungkin akan terjadi kepada orang-orang pilihan-Nya yang mempunyai iman yang sejati, sebagaimana yang dijelaskan pada ayat yang ke 9. “Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan”.

Perhatikan kalimat “sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan”; satu kalimat pengandaian ditujukan kepada orang-orang pilihan, yang menunjuk kepada ayat 4-6 bahwa hal itu tidak mungkin terjadi kepada mereka karena mereka sudah memiliki keselamatan itu. Dengan kata lain Ibr 6:9 menjawab sekaligus menganulir Ibr 6:4-6 bahwa ayat itu tidak dimaksudkan bisa terjadi kepada orang-orang pilihan-Nya karena mereka sudah memiliki keselamatan itu sehingga tidak mungkin meninggalkan imannya karena Allah Tritunggal menjamin keselamatan mereka (Yoh 10:28-29, 1 Yoh 5:18, Ef 1:21-22, Yoh 17:12).

Kalau sudah memiliki keselamatan, lalu apa signifikansinya Ibr 6:4-6 dikemukakan kepada anak-anak Tuhan? Itu hanya satu pengandaian yang bersifat peringatan bagi anak-anak Tuhan supaya mereka sadar akan status mereka sebagai anak-anak Tuhan untuk tidak berperilaku seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Inilah satu realita yang perlu diketahui sebagai orang Kristen untuk tidak meninggikan diri dengan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Banyak orang Kristen menganggap diri lebih baik dari orang lain dan tanpa sadar telah memakai standard diri mereka sendiri untuk mengukur orang lain. Ini perilaku yang tidak boleh terjadi kepada anak-anak Tuhan. Secara natur semua manusia itu berdosa dan Yesaya berkata kesalehan manusia seperti kain kotor didalam pandangan Allah (Yes 64:6). Oleh karena perbuatan baik manusia tidak dapat memenuhi standard Allah, maka didalam Rm 5:8 Paulus berkata “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”.

Satu hal yang harus dicamkan, perbuatan baik bukan syarat untuk keselamatan tetapi keselamatan adalah murni karena anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia sehingga tidak ada andil sedikitpun untuk manusia memegahkan diri (Ef 2:8-9). Perbuatan baik adalah buah yang dihasilkan dari keselamatan; jangan dibalik karena perbuatan baik tidak menghasilkan keselamatan. Ini dijelaskan pada ayat selanjutnya (Ef 2:10) “….. kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik …”; artinya Allah menyelamatkan kita bukan karena Allah tahu kita akan melakukan pekerjaan baik, tetapi Allah menyelamatkan kita untuk kita melakukan pekerjaan baik. Inilah satu kesadaran yang Allah berikan kepada anak-anak-Nya untuk terus hidup bergantung kepada anugerah Allah. Soli Deo Gloria

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
1
+1
0

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini