Foto Ki - Ka: Anak ke-4 Clement, Anak ke-2 Jonathan, Anak ke-3 Janice, Anak ke-1, Melissa, (Susan dan Harry Mandagi)

JAKARTA – Tulisan Harry Mandagi yang diterbitkan dalam media ini pada 18 April 2023 dengan judul “Harry Mandagi : Didik Anak dengan Cinta Disertai Ketegasan dan Keras” mendapatkan banyak tanggapan dari pembaca.

Pembaca merasa diberkati. Sebab Harry Mandagi menjelaskan dengan begitu mudah dicerna dan dimengerti karena sesuai dengan perjalanan umat Kristiani. Melihat tanggapan positif itu, media ini meminta untuk Harry Mandagi dapat menulis secara rutin dalam kolom “SULUH”. Puji Tuhan, ditengah kesibukannya, ia bersedia demi pelayanan kepada Tuhan.

Pada tulisan pertamanya di kolom “SULUH” ini membahas dunia politik yang dilihatnya masih banyak yang menganggap kotor. Untuk itu ikutilah tulisan – tulisan memberkati dari Harry Mandagi di kolom “SULUH” media ini setiap bulan dua kali.

Tahun 2023 – 2024 masyarakat Indonesia diramaikan dengan berbagai kegiatan politik. Pasalnya pada tahun 2024 Indonesia akan ada hajatan besar yaitu pemilihan legislatif (DPRD, DPR, DPD) dan eksekutif (Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden). 

Di masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan umat Kristiani masih ada yang berpandangan politik itu “kotor”. Pandangan itu sah – sah saja. Sebab semua di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, tidak ada yang bersih tanpa cacat, tidak ada yang kudus, semuanya sudah tercemar sejak kejatuhan manusia Adam dalam dosa.

Semua di dalam dunia ini memang sudah tercemar, sudah “dikotori” akibat dosa, serta dunia kerohanian pun tidak “kebal” terhadapnya. Lihat saja, ada kelompok – kelompok yang mengembangkan pelayanan yang berpusat pada kepentingan pribadi, bukan berpusat kepada Tuhan. Sesungguhnya ini bukan melayani Tuhan tetapi melayani perut sendiri. 

Itu semua terjadi karena memang dosa sudah mencemari manusia. Untuk itulah Tuhan Yesus Kristus hadir ke dalam dunia ini menebus manusia dari dosa kebinasaan dan mendamaikannya dengan Allah. Umat Kristiani yang sudah menerima penebusan, tentu tidak diminta diam oleh Tuhan Yesus Kristus. 

BACA JUGA  Ketua MD GPdI Papua, Pdt. Timotius Dawir, Sampaikan Firman Tuhan di Pembukaan SAC, Jawa Barat

Ingat! ada perintah yang terkenal dengan amanat Agung—”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Perintah ini diterjemahkan dengan kata mandat Injil. Bersamaan dengan itu harus menjalankan yang namanya perintah Tuhan yang diterima oleh Adam yaitu mengelola taman (dunia) yang diberikan Tuhan. Ini yang disebut dengan mandat budaya atau menjadi terang dan garam. Banyak hal yang dapat dikerjakan dengan tujuan menjadi terang dan garam dunia — bukan hanya gereja yang melaksanakan mandat budaya ini.  

Baik mandat Injil maupun mandat budaya, bukan hanya dikerjakan oleh para pendeta, setiap orang Kristen wajib melakukannya, menjadi pemberita Injil yaitu kabar baik dan menjadi saksi-saksi Kristus, menjadi terang dan garam bagi sesama manusia. 

Arti mandat budaya itu sangat luas, misalnya menjadi orang-orang profesional dibidangnya masing-masing (dokter, insinyur, guru, perawat, dll) untuk menjadi berkat bagi orang lain. Berkecimpung dalam dunia politik adalah salah satu bagian dari mandat budaya, menyuarakan, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa ini. Memang bukan perkerjaan yang mudah tapi ini adalah perintah yang harus dikerjakan. Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda pada setiap orang dan dituntut untuk melipat-gandakan talenta itu bagi kemuliaan Allah. 

Gereja perlu menyemangati (mendorong) para jemaat yang memiliki “talenta” dibidang politik untuk terlibat di dalamnya tetapi sebaliknya sebagai Pendeta atau Gembala Sidang tidak dianjurkan terlibat dalam politik praktis karena panggilan hidup mereka adalah murni menjalankan mandat Injil alias memberkati jemaat dengan makanan rohani.

BACA JUGA  Dua Pesan Pdt DR Ir Niko Njotorahardjo Untuk Pemilu 2019

Masuk dan terlibat dalam politik, bukan berarti mendirikan Partai Politik “bernafaskan” Kristiani, bukan. Tetapi masuklah ke dalam partai – partai politik, kalau di Indonesia bergabunglah dengan partai – partai besar yang nasionalis  yang memang memiliki “kans” atau peluang untuk berada di DPR – RI. 

Kesalahan banyak orang Kristen memahami politik itu kotor dan banyak yang “mengharamkan” untuk masuk di dalamnya. Padahal siapapun yang terpanggil untuk menjalankan mandat budaya, bukan harus menjadi “kotor” tetapi menjadi terang dan garam bagi dunia ini.

Perintah Tuhan itu memelihara dan mengembangkan bukan mengekploitasi alam. Lihat saja pemandangan yang ada di dalam dunia ini, banyak oknum – oknum bukannya memelihara malah mengekploitasi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Sekali lagi, ini semua terjadi karena memang pada dasarnya keadaan manusia sudah tercemar oleh dosa dan tindakannya cenderung kepada kepentingan pribadi. 

Kalau semuanya terjun dalam menjalankan mandat Injil, siapa yang mengerjakan mandat budaya, dalam hal ini politik? Apalagi melihat umat Kristiani di Indonesia masih ada yang diperlakukan diskriminasi, khususnya masalah ijin mendirikan Rumah Ibadah, dan mendapatkan pelarangan dalam kegiatan beribadah.

Untuk itu diperlukan pembinaan, dorongan dari para pelaku mandat Injil (gembala dan pendeta jemaat) kepada jemaat agar mau melaksanakan mandat budaya—menjadi garam dan terang, khususnya yang dibicarakan dalam topik ini politik demi memelihara berbangsa dan bernegara. Amin.

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini