Dr. Jeane di HUT GSPDI Ke -72 : Kebenaran Alkitab Berusaha Diganti dengan Kebenaran Manusia.

0
Ketum GSPDI, Pdt. Paul Massie, Ketua Majelis Pertimbangan Rohani, Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman, Ibu Dirjen Bimas Kristen, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th.,M.Pd., dan penguins GSPDI lainnya di HUT GSPDI Ke-72

JAKARTA – Dalam rangka memperingati 72 tahun usia sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI), Majelis Pusat GSPDI bersama dengan Majelis Daerah DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Babel mengadakan Ibadah Syukur, pada 29 Juni 2023, secara nasional diselenggarakan secara hybrid (onsite dan online), dari ( bertempat ) di GSPDI House Of Filadelfia Bellezza, Jakarta, pengembalaan Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman.

Tema besar yang diangkat dalam HUT GSPDI ke-72 “A Journey with God”, diambil dari Ulangan 8:2 ini dihadiri, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th.,M.Pd., Majelis Pusat GSPDI, Pengurus Majelis Daerah DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Babel, hamba – hamba Tuhan di Wilayah Jakarta Banten, Lampung dan Babel serta jemaat lokal GSPDI HoF Bellezza Jakarta selaku tuan rumah.

Ibadah Syukur berlangsung sederhana namun terasa khidmat ini diawali tampilnya paduan suara dari jemaat GSPDI Bellezza dengan memakai pakaian daerah. Dilanjutkan dengan pemutaran video kilas balik perjalanan sejarah GSPDI selama 62 tahun (Tercatat sudah 7 Ketua Umum) sejak didirikan Pdt. Prof. Dr. Theodorus William Korompis, sampai era kepemimpinan Pdt. Paul Daniel Massie. 

Ibadah Syukur dibuka dengan Doa oleh Pdt. Dra. Merryam Jone Onibala, selaku Bendahara Umum MP GSPDI. Pdm Ernie D Ginting, membawa jemaat memuji dan menyembah Tuhan. Sedangkan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Paul J. Sapteno, salah satu hamba Tuhan senior GSPDI yang saat ini menggembalakan GSPDI Jemaat Filadelfia Sumedang. 

Usai penyampaian Firman, doa syafaat dan doa bagi bangsa dan negara dipimpin oleh Pdt. Danie F. Wulur, M.Miss selaku Kabid Pendidikan dan Misi MP. Tiba saatnya, Ketua Umum GSPDI, Pdt. Paul Daniel Massie, menyampaikan sambutannya dengan pesan bahwa modal hamba-hamba Tuhan (GSPDI) adalah melekat dan melakukan firman Tuhan, ditengah-tengah “persaingan” yang sedang terjadi di gereja Tuhan, tapi orang yang menjaga kebenaran Firman Tuhan akan tetap hidup. 

“Menjadi tetap kuat dan melakukan Firman, bukan hanya jadi agen-agen tapi kita dituntut melakukan firman Tuhan itu sendiri,”terang Ketua Umum GSPDI, Pdt. Paul Daniel Massie. 

Sebagai puncak acara adalah sambutan dari Dirjen Bimas Kristen, Agama Dr. Jeane Marie Tulung, berkata dalam perjalanan pelayanannya terdapat dua tantangan besar yang dihadapi gereja saat ini. 

Tantangan yang pertama ialah tantangan eksternal dimana gereja hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia yang majemuk. Kemajemukan bangsa ini ditandai oleh adanya perbedaan dalam kesatuan sosial budaya seperti suku, ras, bahasa, adat istiadat serta agama. Perbedaan dalam kesatuan sosial ini merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah dan tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya.

Perbedaan tersebut, pada satu sisi dapat dipandang sebagai faktor penghalang terjadinya integrasi masyarakat. Tetapi pada sisi lain, perbedaan tersebut menjadi aset bangsa dalam rangka mempermudah kemajuan bersama. Dengan demikian, apakah perbedaan tersebut menjadi penghalang atau pendorong integrasi, tergantung sikap dan cara dalam mengelola perbedaan tersebut.

“Selama ini kita mengetahui akan perbedaan tersebut dan telah terbiasa hidup berdampingan secara damai dalam balutan semangat kesatuan bangsa. Akan tetapi pengetahuan saja tidaklah cukup dalam menjadi perekat perdamaian. Perlu kesadaran dan pemahaman yang mendalam akan arti dan esensi pluralitas itu. Pemahaman semacam ini penting mengingat sebagian besar umat beragama masih sangat rentan terhadap pengaruh primordialisme dan egosentris individu maupun kelompok,”paparnya.

Lanjutnya, masalah hubungan antar umat beragama biasanya disebabkan oleh dua faktor besar yaitu faktor keagamaan dan faktor non keagamaan. Faktor non keagamaan seperti faktor politik dan ekonomi sesungguhnya adalah yang paling sering mengakibatkan terjadinya konflik. Hanya saja faktor-faktor tersebut berhimpitan dengan faktor lain seperti kesukuan atau etnik, agama dan lain-lain sehingga permasalahan tersebut kemudian menjadi sangat komplek. 

BACA JUGA  PGPI Sebaiknya Lakukan Klarifikasi Pengajaran Pendeta ES yang Dianggap Menyimpang

Untuk itu keempat persoalan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia, yakni kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, dan bencana ekologis juga hendaknya menjadi pokok perhatian utama gereja-gereja di Indonesia. Persoalan tersebut hendaknya diatasi bersama dengan seluruh komponen bangsa sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. 

Melalui ibadah syukur Hari Ulang Tahun ke 72 Gereja Sidang Pentakosta Di Indonesia (GSPDI) diharapkannya umat GSPDI tumbuh semangat dan motivasi baru dalam mengimplimentasikan iman, menggairahkan kebersamaan dan mewujudkan keadilan di tengah masyarakat.

Sedangkan tantangan kedua ialah tantangan internal gereja. Dalam perjalanan pelayanan terkadang dapat terjadi egosektoral dalam lembaga gerejawi. Faktor egosentris organisasi inilah yang justru menjadi penghambat pertumbuhan dan kesaksian gereja. Fenomena saling menjatuhkan dan saling menjelekkan sepertinya sangat sulit dikikis dari  dalam gereja, akibatnya muncullah perpecahan dalam gereja, satu dengan lainnya tidak menerima kritik  dari orang lain. 

Disamping itu kerap kali terjadi gereja sibuk dengan pembenahan gedung, urusan organisasi dan mengabaikan  persekutuan. Atau sebaliknya gereja terlalu sibuk dalam persekutuan hingga akhirnya mengabaikan fungsi sosialnya. Padahal sejatinya gereja harus menyeimbangkan fungsi sosial dan persekutuan. 

Gereja juga tuturnya, diserang oleh ajaran-ajaran yang berasal dari kaum intelek, yang mengandalkan rasio dan pengetahuan modern sebagai justifikasi terhadap kebenaran Alkitab. Kritik terhadap kekristenan terus-menerus dilancarkan. Kebenaran Alkitabiah berusaha diganti dengan kebenaran manusia. Injil Kristus diganti dengan ajaran-ajaran manusia yang mengandalkan intelektual semata-mata. Jika gereja tidak memberikan fondasi yang kuat kepada jemaat tentang kebenaran Alkitabiah yang disertai dengan eksegese dan eksposisi yang akurat terhadap teks Alkitab, maka dapat dipastikan bahwa jemaat yang dihasilkan adalah jemaat yang ”rapuh” dan ”keropos” imannya.

Menyikapi tantangan tersebut, dilihatnya bahwa gereja dituntut untuk terus menerus memperbaharui dirinya. Semboyan Ecclesia Reformata Semper Reformanda, yang berarti gereja yang senantiasa diperbaharui.  Artinya pembaharuan itu tidak boleh berhenti, karena ketika pembaharuan itu berhenti, gereja itu menjadi gereja yang mati. Gereja harus terus-menerus diperbaharui, bukan supaya up date dengan trend dunia, melainkan berjalan sesuai kebenaran Firman Tuhan, Gereja harus mampu menghadirkan kebenaran yang seutuhnya ditengah perjalanan dan perlawanan jaman meski harus melalui kerikil-kerikil tajam.

Diakui oleh Dirjen Bimas Kristen, Agama Dr. Jeane Marie Tulung, GSPDI telah menunaikan perannya yang besar dalam melakukan pembinaan kehidupan beragama dan tentu termasuk memberikan sumbangan dalam penyelesaian berbagai permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat. 

Untuk itu, pemerintah berharap agar GSPDI dapat menjadi organisasi gereja yang sehat. Indikator yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dalam mengukur sebuah organisasi keagamaan yang sehat ialah: 1.Sehat organisasi, 2. Sehat pelayanan, 3. Sehat pengajaran, 4. Sehat kesaksian, 5. Sehat penganggaran. 

Dr. Jeane Marie Tulung, berkata jika kelima indikator ini dijalankan secara baik, maka GSPDI dapat dikategorikan sebagai lembaga keagamaan yang sehat. Tetapi jika indikator itu tidak berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan upaya peningkatan kualitas pelayanan. 

“Organisasi yang tidak sehat cepat atau lambat dapat menimbulkan berbagai konflik dalam organisasi sehingga upaya perbaikan dan peningkatan kualitas perlu terus menerus dilakukan untuk lebih baik lagi di masa depan,”diingatkannya.

BACA JUGA  Pdt. Bambang Yonan di GSPDI Filadelfia Belleza

Acara ditutup dengan doa berkat oleh Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, selalu Ketua Majelis Pertimbangan Rohani, sekaligus sebagai Gembala jemaat GSPDI HoF Bellezza. 

New Up Grading  GSPDI

Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dikalangan para hamba Tuhan GSPDI dan mendorong agar Gereja dapat berfungsi maksimal maka Majelis Pusat GSPDI pada tanggal 29 Juni -1 Juli mengadakan Program New Upgrading untuk seluruh pejabat GSPDI di Majelis Daerah DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Babel, diikuti 70 peserta dan  bertempat di GSPDI House of Filadelfia Bellezza Jakarta.

Tema New Upgrading 2023 adalah Hidup Menggenai Firman Tuhan, Lukas 1:38 (TB)  Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Sub tema : Menjadi Kuat, Ef 6:10 (TB) “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya,”. 

Adapun para pembicara New Upgrading adalah, Ketua Umum GSPDI, Pdt. Paul Daniel Massie sekaligus sebagai Keynote Speaker, Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman dengan topik Sinergitas Pastoral dalam Membangun nilai – nilai Kerajaan Allah di GSPDI, Pdt Samuel Stefanus Silas, M.Th, dengan topik Integritas Pastoral, Pdt. Dr. Manahan Uji Simanjuntak, MA.,M.Pd.K dengan topik Strategi Misi dalam Perspketif Pastoral, Pdm. Ray G. Manurung, SE. dengan topik Pengembangan Ekonomi Kerajaan Allah dan Pdt. Natanael Makawarung dengan topik Kepemimpinan yang Akkitabiah.

Upgrading  berjalan dengan semangat Kasih Persaudaraan yang tinggi ini  dibuka dengan Ibadah dipimpin oleh team dari Majelis Daerah Jakarta, Banten, Bangka Belitung, Lampung. Firman Tuhan yang sangat Powerful dibawakan Ketua Umum Pdt. Paul D. Massie.

Para peserta dibakar kembali semangatnya untuk melakukan pelayanannya atas dasar kehendak Tuhan, dengan melihat bahwa dunia pelayanan saat ini banyak doktrin – doktrin yang menyesatkan, dan hanya berupa sensasi, bukan menurut kebenaran Firman. 

Pesan firman Tuhan yang disampaikan oleh Ketua Umum, sangat memberkati para hamba Tuhan saat itu. Para peserta yang mengikuti upgrading dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok gembala, pengurus MD, dan non gembala.

Dalam New upgrading ini juga dilaksanakan Diklat Manajemen GSPDI bagi para pejabat GSPDI oleh Kabid Penatalayanan dan Sekretaris Umum. Acara New Upgrading ditutup dengan Panel Diskusi menghadirkan seluruh pembicara sebagai Narasumber. Pantauan media ini, peserta mengikuti seluruh rangkaian sesi dengan sangat antusias. 

Panitia New Upgrading pada hari terakhir mengundang Pembimas Kristen, Kanwil Kemenag Prov Banten, Dr. Junit Sihombing untuk menyampaikan prosedur perijinan dan pendirian rumah ibadah. 

Seluruh rangkaian acara HUT 72 dan New Upgrading di tutup dengan perjamuan Tuhan. Pdt. Simon Alfaso Torris dalam penyampaian pesan firman Tuhan yang sangat luar biasa. Di antaranya mengingatkan kembali para hamba Tuhan, memotivasi serta memperlengkapi hamba-hamba Tuhan.  

Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman menutup seluruh rangkaian dengan perjamuan Tuhan, dan mengingatkan bahwa diseluruhnya ada Tubuh dan Darah Tuhan yang menjadi inti pelayanan sebagai seorang hamba Tuhan. Saling mengampuni dan saling mengasihi dalam kasih Filadelfia.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini