Apakah Pemberian Buah Sulung Masih Relevan?

0
Harry Mandagi sedang memberitakan Injil.

JAKARTA – Buah sulung adalah satu istilah yang tidak asing bagi umat Kristiani. Banyak Gereja yang mempraktikkan pemberian “buah sulung”. Bahkan ada yang mewajibkan jemaatnya untuk melakukannya. Akan tetapi ada Gereja yang tidak mempraktikkannya karena dianggap sudah tidak relevan dalam  konteks Perjanjian Baru. 

Apakah benar “buah sulung” wajib dijalankan oleh Gereja bagi jemaatnya? Apa sebenarnya arti “buah sulung”? Untuk itu, sebelum melakukan praktik, diperlukan untuk mengetahui terlebih dahulu. Sebagai penulis tidak ada maksud untuk melarang atau meniadakan ataupun mengiyakan, termasuk menyetujui. Tetapi biarlah dengan membaca ini, pembaca dapat mengambil kesimpulan, apakah diperlukan atau tidak mempraktikkan atau memberikan “buah sulung”.

Perlu diketahui, “buah sulung” dalam konteks Perjanjian Lama (PL) adalah hasil panen pertama yang dipersembahkan kepada para imam, kaum Lewi dan orang-orang asing (Ul 26:11). 

Apakah hasil seluruh panen yang dipersembahkan itu menjadi perdebatan dikalangan rabi Yahudi pada masa itu?. Ini disebabkan oleh istilah yang dipakai seberkas atau sebakul (Im. 23:10-11; Ul. 26:2) sehingga ada indikasi tidak seluruhnya. 

Dalam konteks kekinian, Gereja-gereja yang mempraktikkan “buah sulung” ini adalah pemberian seluruh gaji atau penghasilan pertamanya ke Gereja pada setiap awal Tahun. Perlu diketahui, buah sulung adalah suatu upacara yang berhubungan dengan hukum Taurat. Untuk mengerti apa itu hukum Taurat, perlu melihat hukum ini dari 3 aspek: – hukum moral, – hukum seremonial, – hukum sipil.

Apakah ketiga hukum ini masih barlaku saat ini?  Pertama, hukum moral adalah hukum yang dikenal sebagai dekalog; 10 hukum Allah yang diturunkan oleh Allah melalui Musa. Hukum ke 1- 4 adalah hukum yang bersifat vertikal antara manusia dengan Allah sedangkan hukum ke 5 – 10 berkaitan hubungan horisontal antar manusia. Ini semua bersifat kasih, itulah hukum moral. Hukum ini adalah hukum universal yang bersifat permanen yang berarti tetap berlaku sampai masa kini. 

Kedua, hukum seremonial adalah berbagai macam upacara yang dilakukan oleh orang Yahudi misalnya mempersembahkan binatang untuk korban sembelihan penghapus dosa, sunat, hari raya roti tidak beragi (Paskah Yahudi), dan banyak lagi hari raya-hari raya lainnya. Hukum ini sudah tidak berlaku lagi karena sudah digenapi dengan kematian Kristus (Ef 2:15). 

Ketiga, hukum sipil atau hukum kemasyarakatan adalah hukum yang berlaku pada zaman PL misalnya mengenai perzinahan, hukumannya adalah hukuman mati dirajam dengan batu. Hukum ini sudah tidak berlaku lagi zaman kini karena konteks yang berbeda pada setiap negara. 

Ef 2:15. Kematian Kristus membatalkan hukum Taurat, yang dimaksud disini adalah hukum Seremonial. Dan Ibr 9:10 -11. Hukum seremonial berlaku sampai tiba saat pembaruan (ayat 10) yaitu sampai dengan Kristus datang (ayat 11). Dengan hadirnya Kristus, hukum seremonial ini dengan sendirinya sudah tidak berlaku lagi. 

Apa saja hukum seremonial itu? Baca Kel 23:14 -19, dimana terdapat berbagai upacara – upacara perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi yang dikenal sebagai hukum seremonial. 

Ayat 14, “perayaan” di sini adalah kegiatan seremoni yang dilakukan orang Yahudi. Ayat 15 “Hari raya Roti Tidak Beragi” adalah Paskah Yahudi. Ayat 16 “hari raya menuai buah ungaran”, “bunga ungaran” dalam Alkitab bahasa Inggris disebut “first fruits”, yang artinya “buah sulung”. Ayat 16 “hari raya pengumpulan hasil” itu adalah hari Pentakosta yang dirayakan sebagai ucapan syukur orang Yahudi karena hasil panen. Ayat 18 “persembahan darah korban sembelihan” ini adalah seremoni/upacara yang adalah bayangan dari Kristus yang akan disembelih dengan mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa umat manusia di atas kayu salib. Ayat 19 hasil panen terbaik dari “buah ungaran” (buah sulung) harus dibawa ke rumah Tuhan. 

BACA JUGA  Paradoks Natal : Datang untuk Mati Supaya Hidup

Dari semua upacara hari raya ini apakah masih berlaku hari ini? Semua upacara ini adalah bayang-bayang dari apa yang akan digenapi oleh Kristus, itulah yang dikatakan Paulus di Ef 2:15 dengan matinya Kristus, hukum Taurat dalam konteks hukum seremonial ini dibatalkan alias tidak berlaku lagi karena sudah digenapi oleh Kristus. 

Pemberian buah sulung dihubungkan dengan korban bakaran dan persembahan-persembahan lain (Im. 23:12-14). Ada korban bakaran, sajian, api-apian, dan curahan di hadapan TUHAN. Jika persembahan buah sulung tetap diwajibkan, mengapa semua korban yang lain ini tidak diwajibkan lagi? 

Mengapa penebusan Kristus hanya menggenapi semua persembahan, kecuali persembahan buah sulung? Jadi, kalau semua korban lain sudah digenapi di dalam Kristus, tidak ada alasan mengapa buah sulung dipertahankan.

Alasan di balik pemberian buah sulung merujuk kepada ayat favorit: Ams 3:9 -10 (9) Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, (10) maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Apa yang dimaksud dari Ams 3:9 -10 itu? Kitab Amsal adalah jenis sastra (genre) yang memuat banyak pengamatan tentang kehidupan, apa yang tertulis di sana belum tentu adalah sebuah janji Ilahi, melainkan suatu penjelasan atas apa yang umumnya terjadi. 

Penafsiran yang bertanggung jawab harus memperhatikan jenis sastra apa dari sebuah kitab. Kitab-kitab dalam Alkitab ditulis dalam jenis sastra tertentu, sehingga menuntut prinsip penafsiran yang berbeda sesuai dengan jenis sastra masing-masing. Kitab Amsal, sesuai hakikatnya, berisi pernyataan-pernyataan yang digeneralisasikan sesuai dengan pengamatan secara umum. Tujuannya lebih ke arah memberikan nasihat daripada menawarkan janji atau menerangkan bagaimana cara kerja Allah yang baku.

Teks berikut ini mungkin bisa menjadi contoh yang baik. Ams 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. Ayat ini kecenderungannya akan terjadi apabila dilakukan sesuai nasihat itu, akan tetapi kenyataannya tidak selalu pasti akan terjadi demikian.  Pernahkah menemukan orang tertentu yang di masa tuanya menjauh dari TUHAN walaupun sejak kecil sudah dididik secara rohani dengan baik? Jenis sastra (genre) kitab ini bukanlah suatu pola yang baku pasti akan terjadi tetapi lebih kepada suatu hikmat atau nasihat untuk dituruti agar apa yang baik diharapkan terjadi.

Teks yang kurang jelas dalam Alkitab seharusnya ditafsirkan berdasarkan teks lain yang lebih jelas. Dalam kasus pemberian “buah sulung”, misalnya, Alkitab menyediakan teks-teks lain yang secara konsisten melihat buah sulung lebih sebagai ucapan syukur atas berkat-berkat TUHAN, bukan umpan untuk mendapatkan berkat-berkat itu (Im. 23:9-14; Ul. 26:1-11). Berdasarkan kedua teks tersebut, orang Kristen tidak lagi terikat dengan praktik pemberian buah sulung. Apa alasannya? 

BACA JUGA  Apakah Baptisan Mempengaruhi Keselamatan?

Perintah ini lebih ke arah ucapan syukur atas penyertaan Allah (dari Mesir sampai Kanaan) daripada sarana mendapatkan berkat Allah (Im. 23:10; Ul. 26:1, 5-10). Sejak awal pemberian peraturan ini, tidak ada ide tentang berkat yang melimpah sebagai balasan dari Allah. Teks di Amsal 3:9-10 sebaiknya dipahami bukan sebagai pola yang umum. Mungkin itu hanyalah sebuah janji khusus pada situasi yang khusus pula. Apabila menjadikan “buah sulung” sebagai umpan berkat adalah tidak Alkitabiah. Teks-teks Alkitab yang berkaitan dengan buah sulung secara konsisten memandang pemberian buah sulung sebagai ucapan syukur atas berkat Allah, bukan pancingan untuk mendapatkan berkat-berkat yang lain.

Apabila ada yang menafsirkan Ams 3:9-10 sebagai janji, kita harus berhati-hati untuk menerapkannya. Jika ingin konsisten dengan teks, “janji” ini hanya terbatas pada orang-orang yang sudah kaya. Mengapa demikian? Kata “lumbung” dan “bejana pemerahan” di ayat ini berbentuk jamak, sedangkan pada masa itu yang memiliki lumbung dan bejana pemerahan hanyalah orang-orang kaya. Jika hasil pemberian buah sulung adalah lumbung dan bejana pemerahan yang penuh, bagaimana nasib yang memberikan buah sulung tapi tidak memiliki lumbung maupun bejana pemerahan?

Jika teks ini ditujukan hanya kepada orang-orang kaya, kita selanjutnya perlu bertanya mengapa hal itu dikhususkan bagi mereka. Dugaan yang paling masuk akal adalah sikap hati mereka yang cenderung mencintai harta secara berlebihan. Mereka mungkin kuatir bahwa dengan memberi maka kekayaan mereka akan berkurang.

Justru TUHAN memberikan nasihat ini kepada orang-orang semacam itu sebagai suatu “teguran”. Bukan itu saja, bila dibaca dengan teliti esensi dari ayat ini mengajarkan untuk tidak tamak. Tidak ada janji tentang penambahan lumbung atau bejana pemerahan. Allah hanya “berjanji” untuk memenuhi yang sudah ada. Jika Allah memberikan melebihi daripada yang mereka butuhkan atau yang mereka biasa dapatkan, itu berarti Allah ingin mereka bisa berbagi lebih banyak daripada biasanya. Semakin banyak diberi, semakin banyak memberi. Jangan dibalik: semakin banyak memberi, semakin banyak diberkati. Ini ajaran yang memutarbalikkan teks Alkitab. 

Walaupun praktik pemberian “buah sulung” sudah tidak berlaku lagi dalam konteks Perjanjian Baru, akan tetapi esensi di balik pemberian ini masih perlu dilakukan. Gereja perlu memperlengkapi jemaat dengan pengertian yang benar tentang prinsip memberi yang benar. 

Dengan memahami prinsip memberi yang benar ini, jemaat tidak perlu dipaksa atau di “takut-takuti” untuk memberi persembahan, sebaliknya mereka akan memberi dengan sukacita, dengan hati yang tulus, tanpa paksaan. Memberi bukan karena terpaksa tetapi keluar dari hati yang bersyukur atas berkat dan pemeliharaan Allah. Memberi karena sudah menerima segala berkat dari Tuhan. Jangan dibalik: memberi bukan untuk mengharapkan dapat berkat.

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini