Harry Mandagi bersama cucunya.

JAKARTA – Praktik puasa banyak dilakukan oleh berbagai agama di dunia, tanpa kecuali agama Kristen. Dasar dan tujuan berpuasa serta makna disetiap agama untuk berpuasa tentu berbeda-beda, begitupun dalam agama Kristen. Ada kelompok Gereja yang mengatakan puasa wajib dilakukan bagi setiap orang percaya, ada pula kelompok Gereja yang mengatakan bukan suatu keharusan. Apa yang Alkitab katakan tentang puasa?

Kata “puasa” dalam Alkitab LAI-TB muncul 68 kali. Dalam Kitab Suci, seluruh bangsa Israel harus berpuasa satu kali dalam setahun yaitu pada hari raya pendamaian (Im 16:29-34; Im 23:26-32, Bil 29:7-11). Akan tetapi para pengikut Yohanes Pembaptis maupun golongan Farisi rutin berpuasa (Mat 9:14; Luk 5:33).

Murid-murid Yohanes Pembaptis kemungkinan mengikuti ajaran/teladan Yohanes Pembaptis (Mat 11:18) dan pada momen-momen tertentu karena kedukaan yang mendalam setelah penangkapan Yohanes Pembaptis. Kemungkinan lain murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa karena terpengaruh dengan orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi rutin berpuasa dua kali dalam seminggu yaitu hari Senin dan Kamis (Luk 18:12). Orag Farisi yang melakukan Puasa sangat membanggakan diri dengan hal tersebut dengan menunjukkan sebagai orang yang religius dan taat kepada agama yaitu Yudaisme (Luk 18:12). Gereja mula-mula juga menerapkan puasa, terutama dalam situasi-situasi yang khusus (Kis 13:2-3; 14:23).

Di dalam Mat 6:16-18, Tuhan Yesus tidak memerintahkan para pengikut-Nya untuk berpuasa, Ia hanya mengajarkan tentang cara berpuasa yang benar. Perkataan Tuhan Yesus ini sekaligus menyindir cara dan motivasi orang-orang Farisi yang mempraktikkan puasa dengan cara sengaja memperlihatkan kepada orang lain bahwa sedang berpuasa dengan sungguh-sungguh agar terlihat hebat dan begitu saleh dimata orang lain.

Apa yang orang Farisi lakukan masuk dalam kategori munafik karena mengharapkan pujian dari manusia (Mat 6:16). Apa yang terlihat dari luar tidak sama dengan apa yang ada di dalam! Penampilan dan motivasi tidak selaras. Alkitab berkali-kali mengaitkan berpuasa dengan merendahkan diri (Im 16:29, 31; 23:27, 29, 32; Ez 8:21). Berpuasa seharusnya disertai dengan pengakuan dosa (Dan 9:3-6), tetapi ironinya orang-orang Farisi justru berbuat dosa melalui puasa yang dilakukan. Puasa itu bukanlah cara untuk terlihat lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan penuh sukacita.

Pertanyaan kemudian, apakah puasa wajib bagi orang Kristen? Puasa itu bukan sesuatu syariat agama Kristen tetapi menjadi syariat bagi agama-agama tertentu termasuk agama Yahudi, sehingga hukumnya wajib. Sedangkan bagi orang Kristen, puasa bukan satu kewajiban tetapi boleh dilihat sebagai satu disiplin rohani.

Orang Kristen bila ingin berpuasa, tidak ada larangan. Begitupun bila tidak ingin berpuasa, juga tidak berdosa. Kenapa? Karena puasa itu sebuah pilihan, bukan keharusan. Esensi berpuasa itu bukan sekedar tahan lapar dan tahan haus, tetapi itu lebih kepada pengekangan keinginan jasmani. Juga tentu ada semacam pandangan, dengan berpuasa seseorang dapat memfokuskan diri kepada perkara-perkara rohani. Didalam berpuasa memungkinkan seseorang bisa dapat memberikan waktu yang lebih banyak bersekutu dengan Tuhan; dengan berdoa dan membaca Alkitab.

Ada begitu banyak pengertian yang berbeda-beda diantara orang – orang Kristen dalam memaknai puasa. Ada yang mengatakan dengan berdoa dan berpuasa yang dilakukan dapat merubah suatu keputusan yang Tuhan sudah rencanakan, apalagi doa dan puasa dilakukan secara komunal dan dengan bersungguh-sungguh.

Argumentasi yang sering dipakai adalah tentang kisah bangsa Niniwe di kitab Yunus 3 dimana dalam waktu empat puluh hari lagi, Allah akan menghancurkan kota ini karena kejahatan penduduknya, dan Allah mengutus Nabi Yunus untuk menyampaikan berita ini kepada penduduk Ninewe.

Alkitab mencatat, mendengar berita dari Nabi Yunus ini, bangsa Niniwe sadar akan murka Allah yang akan menimpa. Pada saat itu penduduk Ninewe memutuskan untuk melakukan puasa nasional, baik orang dewasa maupun anak-anak, bahkan sampai kepada ternak-ternak. Semua berpuasa dengan sungguh-sungguh dengan menyesali dosa-dosa atau kejahatan sambil berteriak dengan keras memohon pengampunan dari Allah. Ketika melihat ada pertobatan yang sungguh-sungguh dari bangsa Niniwe, Allah mengurungkan niat-Nya dan tidak jadi menghukum mereka. Bahkan dikatakan Allah menyesal karena telah merancangkan penghancuran kota Niniwe.

BACA JUGA  “Jalan” yang Berliku Ibadah Onsite Pasca Covid-19

Apakah puasa yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh bangsa Niniwe ini bisa merubah rencana Allah? Salah satu prinsip mendasar dalam menafsirkan Alkitab dengan bertanggung jawab, ayat-ayat dalam Alkitab tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan ayat-ayat lainnya diseluruh isi Alkitab. Apa yang disaksikan dalam peristiwa Niniwe ini perlu dilihat dari dua sudut pandang; dari sudut pandang manusia dan dari sudut pandang Allah. Apa yang terlihat dari sudut pandang manusia adalah Allah menyesal dan membatalkan rencana-Nya untuk menghancurkan Niniwe setelah pertobatan orang-orang Niniwe.

Bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang Allah? Allah adalah Allah yang berdaulat dan membuat rencana-Nya sebelum dunia dijadikan bahkan dari sejak kekekalan. Rencana Allah adalah sempurna dan dibuat tanpa tergantung pada siapapun dan tidak terpengaruh oleh apapun juga yang ada diluar diri-Nya.

Sempurna artinya tidak akan direvisi/diubah seperti rencana manusia yang kerapkali berubah-ubah tergantung kepada hasil akhirnya. Sekali Allah membuat rencana, itu pasti akan terjadi dan tidak pernah akan ada perubahan sedikitpun karena rencana-Nya sempurna dan dibuat dari sejak kekekalan (1 Kor 2:7).

Pertanyaan penting yang harus direnungkan, apakah Allah sesungguhnya ingin menghancurkan Niniwe? Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting, apakah Allah tidak tahu kalau bangsa Niniwe akan bertobat? Kalau Allah tidak tahu bahwa bangsa Niniwe akan bertobat, berarti Allah itu bukan Allah yang mahatahu dan konsekuensi logisnya adalah rencana Allah ternyata gagal alias tidak sempurna sehingga perlu diubah. Kalau Allah itu Allah yang mahatahu, dan Dia tahu bangsa Niniwe akan bertobat, mengapa Dia ingin menghancurkan Niniwe? Kalau Allah tidak ingin menghancurkan Niniwe, mengapa Dia memerintahkan Nabi Yunus untuk membawa berita mengerikan ini kepada mereka?

Melihat peristiwa Niniwe ini dari sudut pandang manusia itu sangat terbatas dan manusia cenderung melihatnya dari fenomena-fenomena yang terjadi yaitu apa yang terlihat di permukannya saja. Allah tahu bangsa Niniwe akan bertobat, sesungguhnya Dia tidak akan menghukum Niniwe, tetapi mengapa Allah memerintahkan nabi Yunus untuk memberitahu penduduk Ninewe? Ini adalah sebagai satu “ancaman”, dan melalui ancaman inilah penduduk Niniwe ini akan bertobat. Itulah cara Allah agar penduduk Niniwe ini bertobat.

Dari sudut pandang manusia, Allah menyesal dan berubah pikiran, tidak jadi menghukum Niniwe tetapi sesungguhnya dari sudut pandang Allah, Allah tidak pernah merencanakan kehancuran Niniwe, Allah tidak pernah merubah rencana-Nya karena rencana Allah adalah sempurna.

Lalu apa yang dimaksud Allah “menyesal” pada kitab Yun 3:9 ini? Apakah menyesalnya Allah sebagaimana manusia menyesal? Allah adalah Pencipta dan tidak terbatas sedangkan manusia adalah ciptaan dan terbatas. Bagaimana yang terbatas ini bisa memahami yang tidak terbatas? Itu suatu hal yang mustahil, maka dari itu Allah “membatasi” diri-Nya dengan menggunakan bahasa dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh manusia, atau dikenal dengan bahasa anthropomorfisme. Allah tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal (1 Sam 15:29). Perlu dipahami “menyesal”nya Allah bukan seperti layaknya manusia menyesal, itu hanya sekedar satu ungkapan “menyesal”nya Allah yang digambarkan dalam bahasa manusia.

Manusia tidak dapat menyelami pikiran Allah yang begitu dalam, dan Dia tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun dan oleh apapun juga karena Allah adalah Allah yang berdaulat (Rm 11:33-36 – kutipan Yes 55:8, 40:13). Doa dan puasa manusia tidak akan bisa mengubah keputusan Allah dalam rencana-Nya yang sempurna, kecuali doa permintaan orang percaya itu seturut/selaras dengan rencana-Nya (1 Yoh 5:14).

Satu argumentasi lagi yang sering dipakai oleh orang-orang dalam membenarkan pemikiran bahwa rencana atau keputusan Allah dapat diubah asal dengan sungguh-sungguh berdoa memohon kepada Tuhan seperti kisah raja Hizkia yang jatuh sakit dan hampir mati (2 Raj 20:1-6).

BACA JUGA  Dibenarkan oleh Allah: Istilah yang Seringkali Disalahpahami

Seperti yang Alkitab katakan, Nabi Yesaya menyampaikan pesan Tuhan kepada raja Hizkia bahwa dia tidak akan sembuh dari sakitnya dan akan mati. Mendengar berita tersebut Hizkia berdoa kepada Tuhan sambil menangis dengan amat sangat sedihnya. Belum lagi Nabi Yesaya meninggalkan pelataran tengah dari tempat raja Hizkia, datanglah firman Tuhan kepadanya untuk disampaikan kepada raja Hizkia bahwa Allah telah melihat air matanya dan mengabulkan doa Hizkia (2 Raj 20:5). Allah akan memperpanjang umur Hizkia 15 tahun lagi.

Atas dasar bagian inilah banyak orang yang mengatakan bahwa doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh dapat mengubah rencana Allah. Benarkah doa Hizkia mengubah rencana Allah?

Apabila kisah Hizkia ini dilihat dari sudut pandang manusia yang terbatas ini, hanya fenomena yang diperhatikan bahwa Tuhan mengubah rencana-Nya dengan mengabulkan doa Hizkia karena berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Sekali lagi, Allah tidak pernah mengubah rencana-Nya yang sempurna itu, karena Dia tidak pernah dapat dipengaruhi oleh siapapun dan oleh apapun di luar diri-Nya.

Bagaimana dengan Allah memperpanjang umur Hizkia 15 tahun lagi padahal sebelumnya Allah berkata Hizkia tidak akan sembuh bahkan akan mati? Bagaimana menjelaskan rencana Allah yang sempurna ini dan tidak dapat dirubah oleh siapapun juga, melihat faktanya Allah menambah umur Hizkia 15 tahun lagi?

Raja Hizkia mempunyai seorang anak bernama Manasye yang menggantikan tahta kerajaannya ketika dia meninggal (2 Raj 20:21). Pada saat Raja Hizkia meninggal, Manasye yang saat itu berumur 12 tahun, menjadi raja menggantikan ayahnya (2 Raj 21:1). Ketika raja Hizkia “diperpanjang umurnya 15 tahun lagi” oleh Allah, 3 tahun kemudian lahirlah Manasye. Dengan kata lain, andaikata Allah tidak “memperpanjang” umur Hizkia, Manasye tidak akan pernah ada didunia ini.

Tahukah dalam silsilah Yesus Kristus di Matius 1:1-17, nama Manasye muncul dalam silsilah itu sebagai salah satu orang yang menurunkan Yesus Kristus (Mat 1:10)? Bukankah silsilah Yesus Kristus sudah ada di dalam rencana Allah sejak dari kekekalan? Rencana Allah itu sempurna, tanpa pernah di revisi, tanpa ada perubahan, sekali Allah membuat rencana, pasti semuanya tergenapi. Tidak ada satu makhlukpun, termasuk peristiwa apapun yang terjadi, dapat mengubah rencana Allah.

Di tinjau dari sudut pandang Allah, sesungguhnya Allah tidak pernah memperpanjang umur raja Hizkia 15 tahun lagi, karena memang itulah umur Hizkia yang sudah Allah tetapkan dalam rencana-Nya sejak kekekalan. Hanya dari sudut pandang manusia saja yang melihatnya seolah-olah Tuhan menambahkan umur Hizkia 15 tahun lagi. Itu hanya suatu bahasa anthropomorfis, bahasa yang bersifat manusiawi agar manusia dapat memahaminya.

Inilah penafsiran yang ditinjau dari sudut pandang Allah, Dia adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Bagaimana manusia sebagai ciptaan dan terbatas ini dapat mengubah keputusan Sang Pencipta yang tidak terbatas itu? Kalau manusia dapat mengubah keputusan Allah, bukan Allah yang berdaulat tetapi manusialah yang berdaulat.

1 Yoh 5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Allah akan mengabulkan doa kalau apa yang di doakan itu adalah seturut/sesuai dengan kehendak Allah, bukan kehendak manusia.

Dengan demikian, doa dan puasa bukanlah cara membuat Allah melakukan apa yang manusia inginkan. Doa dan puasa mengubah manusia bukan mengubah Allah. Doa dan puasa untuk membangun relasi manusia dengan Tuhan agar manusia semakin dibuat mengerti untuk menyesuaikan dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. Soli Deo Gloria.

Penulis : Harry Mandagi, adalah seorang pemerhati yang memiliki panggilan pelayanan untuk umat Kristiani di Indonesia lintas Sinode Gereja.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini