“Anyaman Pdt. Killing” Menjadikan Pdt. Franky Rewah Caketum MP GPdI Periode 2022 – 2027

2
Pdt. Franky Rewah saat mengikuti Ibadah Ucapan Syukur 51 Tahun Pengembalaan dan 45 Tahun Pernikahan Pdt. Adrian Sairongsong dan Pdt Katoutje Karauwan

Jakarta – “Saya menjadi hamba Tuhan pertama di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) itu di Jawa Barat, di pengembalaan Pdt. Killing,” kata Pdt. Franky Rewah dalam sela-sela penyampaian Firman Tuhan di Ibadah Ucapan Syukur 51 Tahun Pengembalaan dan 45 Tahun Pernikahan, Pdt. Adrian Saroinsong dan Pdt. Katoutje Karauwan, yang diselenggarakan Jumat (10/12/2021) di GPdI Betlehem Pondok Gede

“Saya dibentuk diajarkan melayani, berdoa dan berpuasa serta berharap kepada Tuhan, oleh (Om) Pdt. Killing,”ungkap Pdt. Franky Rewah.

Lalu bagaimana sampai Pdt. Franky Rewah bisa berada di Sulawesi Tengah? Dalam perjalanan pelayanan di Jawa Barat, ia mengalami pergumulan di usia 18 tahun.

“Saat saya jadi pengerja di (Om) Pdt. Killing, tiba-tiba rambut saya mulai rontok. Karena masih muda, rontoknya rambut ini menjadi masalah besar,”terang Pdt. Franky Rewah.

“Saya masih muda, saya belum laku (punya pacar) bisa – bisa tidak ada yang mau,”tuturnya.

Untuk menghentikan rambut rontok, Pdt. Franky Rewah yang diajar oleh Pdt. Killing untuk berharap dan meletakkan seluruh persoalan kepada Tuhan, mengambil “langkah” tegas dengan melakukan doa dan puasa 3 hari 3 malam.

BACA JUGA  Pdt. Dr. Samuel Tandiassa : Perdamaian atau Penyerahan Aset GPdI di JL HW?

“Saat puasa 3 hari 3 malam itu saya berdoa, Tuhan tolong hentikan rontok rambut saya ini. Kalau Tuhan tidak hentikan, (saya “ancam Tuhan”) saya akan pergi dari Jawa Barat,”demikian doanya yang sedikit mengancam Tuhan.

Diungkapnya, Pdt. Killing sempat bertanya alasannya untuk berpuasa 3 hari 3 malam. “Saya jawab puasa urusan pribadi,”

Ancaman yang diberikan Pdt. Franky Rewah, tidak membuat Tuhan bergeming, doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Sebaliknya, rambutnya makin rontok.

“Setelah puasa, saya coba (tangannya menarik rambutnya). Hasilnya makin banyak rontoknya. Saya langsung sampaikan kepada (Om) Pdt. Killing bahwa saya akan pulang kampung,”

“Kamu (Pdt. Franky Rewah) jangan pulang, (Om) Pdt. Killing sudah siapkan tempat pengembalaan. Saya jawab, saya masih usia 18 tahun Om,”

Setelah itu, Pdt. Franky Rewah mulai mempersiapkan untuk pulang kampung. Tidak beberapa lama, ada Jambore Nasional GPdI di Jakarta.

“Sebelum pulang kampung saya ikut Jambore. Saat itu saya ketemu (Om) Pdt. Didi Saerang ditawarkan untuk ke Sulawesi Tengah,”

BACA JUGA  Refleksi Akhir Tahun GAMKI: Indonesia Darurat Pancasila

“Saya akhirnya ke Sulawesi Tengah dan ketemu pendamping hidup (Pdt. Linda). Kalau tidak ke Sulawesi Tengah tidak ketemu Linda,”katanya.

Berbekal “anyaman” Pdt. Killing dari Jawa Barat, Pdt. Franky Rewah mulai “mengukir prestasi di Sulawesi Tengah sampai akhirnya dipercayakan duduk menjadi Ketua Majelis Daerah Sulawesi Tengah dan Ketua Sekolah Alkitab Tentena.

Bahkan saat ini, Pdt. Franky Rewah telah dicalonkan oleh belasan Ketua Majelis Daerah GPdI untuk menjadi Calon Ketua Umum GPdI periode 2022 – 2027. 

Bila saja Pdt. Killing menyaksikan hasil “anyamannya” yaitu Pdt. Franky Rewah bisa seperti ini maka suatu ucapan syukur kepada Tuhan akan di naikkan.

Pada kesempatan itu, Pdt. Franky Rewah dengan yakin berkata hamba – hamba Tuhan GPdI di Jawa Barat, tidak akan melupakannya. Amin.

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
7
+1
1
+1
1
+1
3
+1
1
+1
1
+1
2

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini