Pemilik Taman Safari Indonesia Diundang Hadir Konferensi Konservasi Satwa Liar Internasional

0
Jansen Manansang bersama Menteri LHK saat di Taman Safari Indonesia (Foto. dok. Republika)

Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Dewan Kepresidenan Ceko dari Dewan Uni Eropa, bekerja sama dengan Komisi Eropa, menggelar Konferensi Internasional tentang Konservasi Satwa Liar (International Conference on Wildlife Conservation), pada 13 – 15 September di Hotel, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Selama tiga hari, konferensi internasional ini dibagi dengan dua agenda. Pada tanggal 13 – 15, peserta mengikuti konferensi hybrid di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Pada tanggal 15 (hari terakhir) peserta melakukan kunjungan ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk dan terlibat langsung dalam pelestarian ekosistem dengan menanam tanaman bakau.

Untuk menghadiri konferensi ini, pihak panitia mengundang para pegiat satwa liar dari berbagai negara. Salah satu yang diundang hadir, Jansen Manansang, mewakili Yayasan Badak Indonesia, juga pemilik dari Taman Safari Indonesia. 

Mengutip isi surat undangan kepada peserta, pihak penyelenggara mengundang sebagai bentuk komitmen untuk melaksanakan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati, khususnya sehubungan dengan kebutuhan untuk mempromosikan kerja sama internasional, regional, dan global untuk konservasi keanekaragaman hayati dan penggunaan komponennya secara berkelanjutan.

Kehadiran salah satu konglomerat pemilik Taman hiburan di Indonesia, Jansen Manansang, tentu dengan maksud untuk mendukung diskusi tentang Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Pasca 2020 dan implementasi Strategi Uni Eropa untuk Kerjasama di Indo-Pasifik.  “ Konferensi Internasional tentang Konservasi Satwa Liar bertujuan untuk menunjukkan penerapan praktik terbaik seperti upaya dan inisiatif konservasi terpadu baru mulai dari perencanaan dan kebijakan hingga tindakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat local,”

BACA JUGA  Willem Frans Ansanay SH, M.Pd, : Ingin Memutus Rantai Pelanggaran HAM di Papua? Kembalikan Tanah Ulayat 

Dikutip dari website Kementerian Lingkungan Hidup, menlhk.go.id, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong, hadir memberikan pemaparan keberhasilan upaya konservasi di Indonesia. Itu terjadi karena Pemerintah Indonesia secara regional dan global, telah melakukan upaya besar untuk menjawab tantangan dalam melestarikan satwa liar di bumi.

Dijelaskan, Alue Dohong, konservasi satwa liar mengacu pada praktik dalam melakukan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari sesuai prinsip World Conservation Strategy terhadap spesies liar dan habitatnya. 

Alue Dohong, mengatakan dengan meningkatnya risiko kepunahan spesies secara global dan dalam konteks konservasi satwa liar, sangat diperlukan mengambil langkah-langkah agar keterancaman suatu spesies dihentikan, dan tentu memperbaiki habitat yang ada.

Indonesia, papar Alue Dohong menjelaskan sedikitnya terdapat 5 implementasi semangat Reverse the Red yang telah dilakukan Indonesia dalam konservasi spesies yaitu: Pertama, selama pandemi COVID 19, Indonesia telah melepasliarkan 335.047 individu satwa liar dari banyak taksa ke habitat aslinya sebagai upaya untuk meningkatkan populasi dan variasi genetik di alam.

Kedua, melakukan penangkaran ex-situ jalak bali (Leucopsar rothschildi) dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan stakeholder terkait, serta melakukan pelepasliaran (reintroduksi) secara massif ke alam, sehingga populasi jalak bali di alam meningkat dari 15 pada tahun 2000 menjadi 452 pada tahun 2022 di Taman Nasional Bali Barat.

Ketiga, Keberhasilan penangkaran badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) secara in situ di Suaka Badak Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas yang didirikan pada tahun 1998, dan telah menghasilkan 3 ekor anak badak. Melalui program ini direncanakan setiap tahun akan lahir badak sumatera baru.

BACA JUGA  Bambang Widjaja Meminta Komjen Listyo Sigit, Mengayomi Tanpa Membedakan

Selain itu, Alue Dohong berkata melakukan teknologi inseminasi buatan pada populasi satwa liar dengan memasukkan sperma dari jantan ke dalam saluran reproduksi betina dengan bantuan manusia untuk menghindari depresi genetik dari populasi yang terfragmentasi/populasi kecil seperti Banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran dan Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas.

Tambahnya, pemantauan satwa liar menggunakan teknologi GPS Collar terhadap satwa langka gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dalam upaya mencegah adanya konflik dengan manusia, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dilepasliarkan ke alam bebas dan pemasangan radio telemetri pada Orangutan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) untuk monitoring pasca pelepasliaran di alam.

“Kami berharap kegiatan yang kami laksanakan ini menjadi wujud tanggung jawab kami dalam menjaga kelestarian hutan, konservasi dan bermanfaat bagi masyarakat. Bersama-sama, kita dapat memainkan kontribusi yang lebih berdampak untuk memastikan keberlanjutan spesies dan konservasi ekosistem. Dan kita harus siap memberikan dukungan penuh untuk memajukan tujuan ini,” pungkas Alue Dohong, dalam sambutannya saat membuka acara International Conference on Wildlife Conservation, di Jakarta (13/9).

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini