Prof Gayus Lumbuun: Gereja Harus Siapkan SDM Untuk Duduk di Ultra Struktur Politik Negara

0
Gayus Lumbuun (Foto: IST)

JAKARTA – Membaca atau mendengar nama Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun, SH, MH tentu spontan berkata dia politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), itu benar. Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun yang akrab disapa Prof. Gayus pernah dua periode menjadi Anggota DPR-RI dari PDIP, dari Daerah Pemilihan Malang Raya (Kota/Kabupaten Malang dan Kota Batu). Juga ada yang spontan berkata, dia Hakim Agung RI, itu benar. Prof. Gayus, baru saja pensiun dari Hakim Agung.

Pertanyaannya, Prof. Gayus saat apa kesibukannya kalau sudah tidak di legislatif dan tidak menjadi Hakim Agung? Hari-hari ini Prof Gayus sibuk menjadi pengajar di bidang hukum dibeberapa Universitas, termasuk di antarnya Universitas Indonesia.

Pada pertemuan dengan MITRA INDONESIA, Prof. Gayus banyak bercerita tentang kehidupan yang melekat dengan dirinya,termasuk dari keluarga dan daerah mana ia berasal.

Prof. Gayus mengaku orang tuanya berasal dari Sulawesi Utara, tepatnya daerah Langoan. “Ayah saya fam (marga) Lumbuun dan ibu fam Sondakh,” katanya dan menjelaskan keluar dari Langoan Sulawesi Utara bukan karena keinginannya tetapi karena harus mengikuti ayahnya saat itu sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berpindah-pindah tugas. “Orang tua saya TNI, jadi kemanapun ditugaskan selalu keluarga ikut. Saya keluar dari Sulawesi Utara kelas III SD (usia 9 tahun) ke, diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Jakarta,” ceritanya dan memberikan informasi ayahnya pensiun saat bertugas di Ungaran Jawa Tengah.

Pria kelahiran Manado, Januari 1948 ini menginjakkan kaki di Jakarta sejak tahun 1965. Walau sudah begitu lama di Jakarta tapi tidak membuat Prof Gayus lupa dengan daerah asalnya. “Saya hampir setiap Desember berusaha mudik. Apalagi Saya masih mempunyai keluarga di Langoan,” katanya, dan dengan nada pelan berkata tidak memiliki makanan favorit masakan Manado. Sebaliknya makanan favoritnya itu masakan khas Jawa. “Mungkin karena memang besar di Jawa. Tapi, kalau orang tua saya menyediakan masakan Manado tetap masuk juga,” ungkapnya seraya senyum.

Kalau melihat daerah asalnya, dapat ditebak Prof. Gayus pasti beragama Kristen. Iya benar. Bahkan ia mengaku sangat aktif dan setia bergereja di Gereja Pantekosta di Indonesia Kelapa Gading yang digembalakan Pdt. Michael Kairupan. “Saya sejak 1992 bergerja di GPdI Kelapa Gading dan setiap minggunya berusaha tidak pernah absen,” katanya dan mempertegas dirinya sejak kecil, bahkan dari orang tuanya sudah bergereja di GPdI.

Alasan Prof. Gayus bertahan di GPdI sampai hari ini, bahkan anak-anaknya juga tetap di GPdI, ternyata sangat simpel yaitu karena GPdI sebagai gereja tertua aliran pentakosta yang ada di Indonesia. “Dulu itu namanya Gereja Pinkster. Kalau bicara tokoh GPdI dahulu sangat saya kenal, diantaranya, Opa Bolang, Opa Rungkat. Saya waktu SMA sudah sekolah minggu di GPdI Ketapang, saat itu Oma Rungkat yang jadi gembala. Sampai hari ini saya terus berada di GPdI,” tegasnya.

Prof. Gayus berkata, di tengah keluarganya kadang ada diskusi mengenai gerejanya (GPdI), di mana anaknya kadang-kadang mengungkapkan GPdI lagunya konvensional. “Iya, benar, kalau lihat buku Sekolah Minggu tahun saya dan lihat sekolah minggu tahun sekarang, hampir semuanya sama. Bagi generasi sekarang lagu-lagu tersebut membosankan tapi bagi saya  itu sebuah kebanggaan,” katanya dan bersyukur anak-anaknya tetap di GPdI sampai hari ini dan lebih bersyukur lagi tetap percaya dan menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat.

Dari pengalamannya bergereja di GPdI, Prof. Gayus berharap GPdI dapat membuat komisi, khususnya komisi lagu untuk dapat menyaring lagu-lagu yang disebut lagu rohani tetapi sebenarnya tidak layak disebut lagu rohani. “Saya menemukan banyak lagu yang tidak memenuhi syarat untuk dinyanyikan di gereja. Kita harus menjaga kesaklaran Gereja, jadi jangan sembarangan lagu yang disebut lagu rohani dimasukkan ke dalam gereja,” tegasnya dan berkata puji Tuhan di GPdI masih banyak lagu yang layak.

Ayah dari Sisca Lumbuun, Ronald Lumbuun dan Abraham Lumbuun ini memilih aliran politik PDIP karena PDIP adalah partai yang anti diskriminasi sosial seperti SARA. Juga karena anggotanya sebagian dari komunitas wong cilik (orang kecil sederhana)-sama dengan umat Tuhan di GPdI. “Saya katakan ini karena saya pernah jadi pemimpin di PDIP. Saya melepas jabatan pimpinan di PDIP sejak terpilih menjadi Hakim Agung, karena itu syaratnya,” tuturnya dan berkata PDIP cocok buat orang yang beragama Kristen yang ingin berpolitik. Tentu ada banyak partai juga yang bisa dan baik.

Soal Prof. Gayus saat ini tidak mengikuti pencalonan anggota legislatif supaya terus terjadi regenerasi di PDIP dan juga ia ingin membagikan ilmunya kepada generasi-generasi muda yang berada di bangku kuliah di mana tempatnya mengajar. “Saya ditanya oleh PDIP untuk ikut tetapi saya melihat biarlah generasi muda yang tampil. Sudah saatnya saya mengajar. Kita harus pahami semua orang ada waktunya dan waktunya ada orangnya,” tegasnya seraya mengungkap salah satu anaknya, Ronald Lumbuun, pada usia 28 tahun pernah menjadi hakim termuda dan saat ini bertugas di Kementerian Hukum.

Di usianya yang ke-70, Prof. Gayus berkata umat Kristiani dapat  masuk yang namanya wilayah yang disebut ultra struktur politik Negara. “Kita hidup di negara ini, pada umumnya berada di wilayah infrastruktur dan yang satunya ultra struktur politik Negara. Infra struktur adalah orang-orang yang ada di dalam kelompok, termasuk kelompok gereja, kelompok partai politik (perkumpulan)—itu infra. Mereka yang punya kualitas terbaik nanti masuk supra struktur yaitu lembaga Negara, misalnya di Kementerian dan di TNI/Polri. Itu semua disebut orang-orang yang berada pada ultra struktur politik Negara,” jelasnya.

Lebih jauh, Prof. Gayus berharapan para pemimpin gereja dapat memotivasi orang-orang gereja agar menyiapkan diri dengan baik untuk masuk kelompok yang punya kekuasaan. “(Kristen) di MA cuma ada 5 orang dari 49 orang. Kemudian di Polri dan TNI tidak sampai 10 persen. Gereja harus mampu menyediakan SDM untuk masuk di dalam, ini bukan soal SARA tapi soal mempersiapkan dan memotivasi agar ada SDM yang siap masuk ke dalam struktur,” tegasnya dan mengakhiri perbincangan dengan menyebutkan ayat emasnya, “Jadilah Garam dan Terang dunia.” (NBS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini