Perceraian Tidak Menjadi Kehendak Allah

0

Perceraian Tidak Menjadi Kehendak Allah

Diskusi tentang boleh tidak bercerai di lingkungan Kristiani dilihat dari sudut pandang firman Tuhan saat ini makin seru. Diskusi di mulai dengan mengambil ayat firman Tuhan yang ada di Matius 5 : 32 dan Matius 19 : 9, dengan kata “…Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah,… “

Kata “kecuali karena zinah” ditafsirkan sebagai bentuk kata yang memperbolehkan terjadinya perceraian. Menanggapi hal itu, Ketua Pelaksana Harian, Persekutuan dan Pelayanan Hamba Tuhan Garis Depan (PPHTGD), Pdt. Paul R Widjaja berkata perceraian dalam Matius 5 dan 19 itu bukan karena Allah mau atau perbolehkan tetapi karena kekerasan hati manusia. “Kalau melihat kondisi waktu itu, ada Rabi bernama Hillel, yang mengajarkan boleh bercerai dengan alasan tertentu. Tapi di zaman itu juga ada Rabi Shammai berkata tidak bisa bercerai, kecuali karena perzinahan. Secara kontekstual pada waktu itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada semuanya tentang Matius 19, sebenarnya kata zinah di situ adalah kata Pornea, itu percabulan,”paparnya dan menambahkan seseorang yang sudah menikah harus mempertahankan diri dalam pernikahan karena tidak bisa dipisahkan.

Lalu bagaimana kalau ada yang berbuat “Porneo” (cabul), apakah pihak yang tidak berbuat cabul bisa menceraikan? Pdt. Paul R Widjaja dengan tegas berkata, kenapa hal itu menjadi pertanyaan, kenapa tidak melihat sisi lain tentang kasih? Ingat! Perceraian itu bukan kehendak Allah. “Kalaupun di antara pasangan suami – istri ada yang berbuat cabul maka yang tidak berbuat cabul harus upayakan untuk mengampuni. Tuhan telah mengajarkan tentang mengampuni (Baca Matius 18 : 22 ) dan harus diingat! Allah membenci perceraian,”tegasnya.

Tambahnya, apapun alasannya perceraian bukan jalan keluar. “Kalau bicara sudah jadi satu daging maka kalau dipisahkan pasti akan terasa sakitnya dan yang tidak tahan rasa sakitnya bisa mati. Sebenarnya sudah jelas, apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan (diceraikan) oleh manusia. Ini point pentingnya. Ini standard dari Tuhan soal hubungan pernikahan suami – istri. Kesimpulan dari saya, tidak boleh bercerai,”katanya.

Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th, berkata perceraian sudah menjadi masalah sejak munculnya peradaban. Masalah perceraian bukan dihadapi oleh umat saja tetapi juga para rohaniwan.

Walau masalah perceraian sudah muncul sejak adanya peradaban bukan berarti membuat Ketua Badan Musyawarah antar Gereja (BAMAG) Jawa Timur, Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th setuju dengan perceraian. “Saya tidak setuju dengan perceraian apapun alasannya, apapun argumentnya. Masalahnya jelas, itu sebuah kegagalan bangunan hubungan antara suami – istri. Perceraian itu tidak dikehendaki oleh Tuhan,”kata pendeta yang mengembalakan 48 Gereja lokal ini.

Lanjutnya, umat Tuhan harus memahami pernikahan itu bukanlah hal yang biasa atau main-main tetapi dipakai oleh Tuhan sebagai gambaran hubungan Tuhan dengan jemaatNya. “Coba renungkan kalau hubungan Tuhan dengan umatNya diceraikan atau bercerai?,”tanyanya.

Lebih jauh,  Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th, mengatakan ketidak setujuannya soal perceraian bukan berarti membatasi dirinya untuk berdampingan dengan orang yang sudah bercerai. “Ketika saya berjumpa dengan orang yang sudah bercerai, apakah saya harus menjust dia sebagai pendosa? Tidak. Sebaliknya, saya harus menerimanya, apalagi dia orang yang membutuhkan pembimbiangan kerohanian,”katanya.

Disinggung bila salah satu dari pasangan yang menikah itu sudah berbuat zinah, apakah jalan keluarnya masih ada selain cerai? Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th berkata tidak boleh bercerai. “Kalaupun ada salah satu dari pasangan pernikahan yang ketangkap basah sedang melakukan hubungan suami – istri dengan bukan pasangannya tidak harus diakhiri dengan perceraian. Sebab kasih itu menutupi segalanya. Tetap harus ampuni. Memang sakit tetapi sakit itu masih tertanggung,”tegasnya.

Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th, sempat berkata bingung dengan berita perceraian dari seorang tokoh Kristiani nasional. “Saya juga bingung, kenapa berita percerian ini muncul setelah saya bertemu dengannya, 10 Oktober 2017.  Waktu itu seperti diatur, saya bertanya hanya tiga, bagaimana saat anda menerima vonis di penjara, bagaimana keadaan anda di penjara dan bagaimana ketika anda sudah di luar penjara nanti? Padahal waktu itu saya ada perasaan untuk bertanya soal keluarganya, tetapi saya mengerti kalau pertanyaan itu diungkapkan akan merusak suasana pertemuan itu. Tapi waktu saya diminta oleh dia berdoa. Saya masih ingat! Saya mendoakan kesehatannya, mendoakan apa yang akan dikerjakan setelah bebas dari penjara, terakhir saya lebih banyak menggunakan waktu berdoa untuk keluarganya, termasuk pernikahannya,”ceriteranya.

Soal perceraian tokoh Kristiani nasional itu, dalam pandangan Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th, semuanya kental dengan aroma politik.  “Perceraian ini terjadi lebih banyak oleh karena tekanan politik. Saya menyimpulkan ini setelah melakukan crosscheck atas semua cerita yang berkembang,”ceriteranya seraya menutup dengan tegas bahwa dirinya tidak setuju dengan perceraian.

Mantan Bendahara Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, MTh, kepada MITRA INDONESIA berkata jangan salah menginterpretasikan Matius 5 dan 19. “Saya tetap berpegangan pada ajaran Tuhan yaitu apa yang disatukan oleh Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia. dan, Allah membenci perceraian. Kalau mau maksa-maksa alias mau keluar dari perintah Tuhan yaitu tetap maksa bercerai, resikonya tidak bisa kawin lagi,’katanya singkat. (Suratinoyo)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini