Pdt. Mulyadi Solaeman: Pandemi Covid-19 Tidak Akan Mampu Mematikan Gereja

0
Pdt Mulyadi Sulaeman
Pdt Mulyadi Sulaeman

JAKARTA – Sejak 2 Maret 2020 pertama kali Indonesia mengkonfirmasi telah terjadi penjangkitan Covid-19. Masyarakat Indonesia dibuat pusing. Berbagai pekerjaan (kegiatan) terhenti dan semuanya dikerjakan dari rumah, termasuk kegiatan ibadah, Kristen ibadah minggu.

“Saya melihat dengan adanya pandemi Covid-19, akan terjadi banyak perubahan dalam gereja, termasuk penggembalaan. Kebanyakan gereja Pantekosta, dalam hal keuangan gereja diatur oleh gembala jemaat. Sedangkan sisanya, gembalanya telah membentuk tim yang mengatur keuangan gereja, yang di dalamnya ada bendahara, tim diakonia, ada bagian misi dan sebagainya,” terang Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman kepada tabloidmitra.com.

Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman melihat selama tiga bulan pertama pandemi Covid-19 berjangkit di Indonesia telah terjadi “kepanikan” di lingkungan gereja karena menyesuaikan dengan keadaan yang ada, dan tidak mudah. Apalagi tiba-tiba tidak bisa beribadah (melangsungkan ibadah gereja). “Tidak semua gereja memiliki peralatan untuk streaming, untuk video atau beribadah melalui Youtube. Itu sebabnya di awal, banyak gereja yang tetap beribadah offline dengan pandangan apapun yang terjadi Tuhan yang bela,” tuturnya.

Tetapi ketika resmi ada himbauan pemerintah, semua gereja langsung menghentikan ibadah offline. Bersamaan dengan itu, tidak dapat dihindari gereja harus mengelola persembahan yang kegiatannya sudah berubah, dari offline menjadi online.

“Mulai terasa di bulan kedua dan bulan ketiga (April-Mei) karena income gereja mulai berubah. Sebab yang tadinya semua jemaat memberikan persembahan tetapi dalam ibadah online tidak semuanya memberikan persembahan, termasuk perpuluhan dan lain sebagainya dengan berbagai alasan. Saya percaya memasuki masa tiga bulan kedua gereja mulai terbiasa dan sudah memulai mencari bentuk untuk masa depan,” terangnya karena Covid-19 tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman, berkata mau tidak mau dan tidak bisa dihindari gereja saat ini harus hidup berdampingan dengan Covid-19 selama belum ada vaksin.

“Kita saat ini hidup berdampingan dengan Covid-19, dengan istilah sekarang new normal. Gereja dalam hal ini harus menemukan model keputusan atau sikap atau kebiasaan baru yang cocok di daerah masing-masing, dengan latarbelakang jemaat yang ada. Percayalah Tuhan pasti memberikan jalan untuk menghadapi Covid-19. Berapapun besar yang diperlukan gereja akan menyesuaikan diri dengan kemampuan jemaat. Saya percaya gereja akan bertumbuh, paling tidak dapat bertahan dimasa-masa sulit. Apalagi bagi gereja yang sudah punya gedung sendiri,” tuturnya dan yakin gereja akan tetap bertahan. Tetapi gereja-gereja yang manajemen seperti sekuler akan mengalami kesulitan setelah 6 bulan.

“Sekarang ini mereka tetap akan memimpin teamnya dengan full timer sampai akhir tahun ini. Tetapi kalau kegoncangan ini makin besar, yang disebut-sebut gereja “mega church” tergantung berapa banyak cadangan dana yang ada.”

https://www.youtube.com/watch?v=-iXeS6nYX-ghttps://www.youtube.com/watch?v=-iXeS6nYX-g

Lebih jauh, Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman melihat gereja-gereja yang sewa di mall tidak akan bertahan alias tidak melanjutkan sewanya.

“Mereka akan mengakhiri sewanya dan mencari tempat yang lebih murah atau terjangkau. Tetapi saya percaya gereja Tuhan tidak akan mati, karena menyelenggarakan gereja online (virtual church) tentu kebutuhan keuangannya pun akan berbeda,” tegasnya seraya mengulangi gereja tidak akan mati, apalagi gereja yang mampu memuridkan jemaatnya dan tertanam. (NBS/JYN)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini