Paskah dan Strategi Restorasi

0
Ilustrasi. Foto: IST

Roland de Vaux (1965:488-493) dalam bukunya yang berjudul Ancient Israel  menyebut Paska, atau Passover dalam bahasa Inggris, berasal dari kata Ibrani, Pesah. Kitab Suci menghubungkan kata itu dengan akar kata psh, yang artinya ‘timpang/ melangkahi/ melewati’ (lih. 2 Sam 4:4), (1Raj 18:21). Dalam tulah terakhir kepada bangsa Mesir, Allah melangkahi/ melewati rumah-rumah yang melakukan persyaratan Paska (Kel 12:13,23,27). Itu artinya, rumah yang diciprati darah, otomatis terhindar dari kemarahan hebat Tuhan yang bakal membunuh anak sulung dan seluruh allah orang Mesir.

Teori lain menyatakan bahwa pesah itu berasal dari kata pashahu (bahasa Akkadia yang banyak digunakan bangsa Mesopotamia kuno seperti Asyur dan Babilonia) yang artinya mendamaikan/menenangkan. Tapi ada juga yang mengartikan dengan sebuah pukulan.  Ibaratnya Allah sedang memukul bangsa Mesir dengan tulah. Namun arti yang terakhir ini kurang argumentatif, terkait posisi bangsa Israel terhadap bangsa Mesir kala itu.

Satu hal yang ingin dikatakan melalui perisiwa Paskah atau “Passover” atau “Pesakh” (Ibrani) atau “Pascha” (Yunani) adalah Allah sedang berbelarasa untuk melepaskan manusia dari hukuman, yang saat itu berupa tulah. Inisiatif  pelepasan atau pembebasan bukan usulan manusia, tetapi kemurahan Allah sebagai manifestasi kepedulian tanpa batas kepada manusia yang terjerat dosa.

Manusia sebagai pihak penerima dan Allah sebagai Subyek yang sedang bekerja memberi. Apa yang dilakukan Allah ada dalam bingkai kedaulatNya yang sama sekali tidak bisa diintervensi oleh manusia. Keberdosaan manusia akibat aneka pembangkangan perintah dan pelanggaran ketaatan telah menggeser hubungan Allah-Manusia menjadi pola relasi yang timpang. Allah dalam segala kedigdayaannya menghadapi manusia makluk ciptaan-Nya yang penuh ketidakberdayaan. Maka tidak ada cara lain untuk memulihkan relasi tersebut kecuali inisiatif Allah lebih mengasihi ketimbang membiarkan dan membinasakan.

Sekedar dicatat, apa yang tidak mungkin Allah lakukan? Ketika melihat polah tingkah manusia yang tidak lagi segambar dan serupa Dia, maka bisa jadi melalui kemaha kuasaaNya, manusia dengan mudah dibinasakan dan diganti dengan ciptaan edisi terkini semua.  Apa yang sulit bagi Allah?  Tidak ada. Tapi Ia tidak melakukan itu. Justru yang dilakukan Allah adalah memulihkan situasi yang ada agar pelan-pelan kembali seperti sedia kala.

Strategi Restorasi

Pemulihan relasi inilah yang bisa disebut dengan strategi restorasi. Bagi Allah mekanisme ini barangkali jauh lebih elegan ketimbang pembinasaan. Sekaligus itu juga wujud komitmen Allah bahwa setelah peristiwa air bah, Allah sudah mengikat perjanjian dengan manusia untuk tidak mengutuk bumi dan manusia, meski Ia tahu manusia itu hatinya jahat sejak kecilnya. (Kej.8:21).

Kuatnya komitmen tersebut mendorong Allah mereformasi strategi pemeliharaan ciptaan dari yang bergaya destruktif ke strategi konstruktif atau developmentalis. Dalam ketidakberdayaan mereka atau menafsir maksud Allah, saya berasumsi Allah sembari membenahi dan memulihkan ciptaan-Nya yang sudah jauh melenceng, Ia juga memberi keleluasaan kepada manusia sebagai ciptaan yang merdeka. Rancangan Allah, adalah rancangan damai sejahtera. Tapi jika kemudian, manusia meluluhlantakan dengan kehancuran karena tidak mampu mengendalikan diri, itu bukan karena Allah tetapi ulah manusia itu sendiri. Manusia sedang berimprovisasi menjadi allah-allah kecil yang seolah-olah ingin menunjukkan kuasa dan kehebatannya terhadap manusia lain. Penindasan, perang, konflik, praktik human trafficking, aksi terorisme, praktik dikatorianisme atau penguasa tiran   hingga saling ancam antara Donald Trump (Presiden AS) dan Kim Jung un (Presiden Korut) adalah contoh betapa ada sabotase kuasa yang Allah berikan demi kebaikan justru dipelintir untuk kerusakan alam dan ciptaanNya.

Manusia dan segala perilakunya meski sudah sedemikian rupa ditata untuk hidup lebih baik, tetap saja bernafsu besar untuk menyimpang bahkan cenderung tidak mau diatur dalam koridor yang dikehendaki Allah. Lalu apakah dengan maksud jahat yang terus dipelihara manusia itu Allah  marah dan memusuhi ciptaanNya? Ternyata tidak. Kasih dan kemurahanNya malah tak berkesudahan. Ia tawarkan sekali lagi, Yesus sang Putra Allah agar turun ke dunia sebagai sang Paskah baru. Lagi-lagi manusia dalam spirit independensi dalam menentukan pilihannya ambigu. Sebagian menyatakan mau ditolong, sebagian mempertanyakan dengan logikanya dan sebagian lagi terus terang menolak.

Resistensi manusia terhadap pertolongan Allah bukan tanpa sebab. Lantaran diberi kebebasan, mungkin manusia masih berpikir bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya tanpa pertolongan Allah. Allah ditempatkan di ruang terluar dari dirinya. Sehingga kehadiranNya tidak dirasakan sebagai Penolong yang sedang mengerjakan strategi restorasi. Strategi restorasi relasi Allah-Manusia tidak bisa diibaratkan pembangunan infrastruktur yang kasat mata. Tapi adalah wujud pengahayatan iman yang bisa dirasakan setiap pribadi secara berbeda, tergantung bagaimana ia memahami anugerah kebaikan Allah itu atas dirinya. Selamat Paskah.

Oleh: Gatut Priyowidodo, Ph.D. Ketua Pusat Kajian Komunikasi  Petra (PKKP) dan Dosen Tetap  Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini