Mengetahui Dunia Penerjemah Hamba Tuhan dari Daniel Wisnu

0
Daniel WP ketika menjadi penerjemah DR Morris Cerullo

JAKARTA – Kemampuannya berbahasa Inggris dengan baik dipakai Tuhan untuk bertemu dengan para hamba Tuhan “besar” dari luar negeri. Ia senantiasa diminta menjadi penerjemah dalam acara keagaaman Kristen. Dari pelayanannya tersebut, ia merasakan ada banyak nubuat dan berkat yang diterima dirinya.

Ia adalah Daniel Wisnu Pradana. Kemampuanya dalam berbahasa Inggris didapatkan dirinya secara otodidak karena pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. “Dulu saya sekolah di luar negeri. Namun pada tahun 1998 saya kembali ke Indonesia,” ungkapnya.

Daniel tiba di tanah air ketika kondisi sedang tidak kondusif. Ada banyak penjarahan dan kerusuhan di mana-mana. Kondisi tersebut juga membuat dirinya seakan hilang arah, tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Ada banyak pertanyan dalam diri saya waktu itu. Di saat itu teman saya mengajak saya beribadah ke gereja Kristen. Di sana saya langsung tertarik dengan pengajaran yang diajarkan Tuhan melalui Alkitab,” ujarnya. Sebelumnya, Daniel merupakan seorang Kristen namun bukan dari kalangan Protestan.

Setelah hadir dalam ibadah tersebut, Daniel yang saat itu masih mencari jati dirinya, merasa semakin tertarik mempelajari (memperdalam) pengetahuannya dalam Kristen. Hingga ia bisa menemukan dan berjumpa secara pribadi dengan sosok Tuhan Yesus Kristus. “Memang proses perjumpaan saya dengan Tuhan tidak dramatis seperti orang-orang yang sudah sekarat atau hampir mati. Kalau saya lebih pada sifat adanya kehausan yang membuat saya secara agresif mencari Tuhan. Dalam satu minggu saya bisa pergi ke gereja 14 kali, pokoknya di mana ada KKR saya datangi,” paparnya.

Dari apa yang dilakukannya, Daniel menjadi tahu siapa pribadi Tuhan Yesus. Beberapa perubahan juga terjadi di dalam hidupnya. “Di tengah pengejaran kepada Tuhan, saya mengalami lawatan, manifestasi dan hal-hal yang supranatural. Saya pun mengerti tentang kematian Dia, sehingga saya mengambil langkah bahwa hidup saya harus untuk Tuhan,” kata ayah dari dua orang anak ini.

Untuk memuaskan “rasa dahaga” dirinya akan kebenaran firman, Daniel memutuskan masuk Bethany Bible College (BBC) – saat ini namanya The New STTB The Way. “Saya masuk sekolah Alkitab bukan untuk menjadi pendeta melainkan untuk mendalami firman Tuhan. karena saya adalah tipe orang yang tidak setengah-setengah ketika mempelajari suatu hal supaya saya bisa optimal,” jelasnya.

Menjadi penerjemah

Selain mendapatkan pengetahuan tentang firman Tuhan, ayah dari Joan Tiffany ini juga mendapatkan kesempatan dari Tuhan dalam bidang pelayanan yang tidak pernah terpikir olehnya, yaitu menjadi seorang penerjemah. Semua berawal saat pimpinan BBC waktu itu yang merupakan orang Amerika membutuhkan seorang penerjemah. “Dia (kepala sekolah) mengalami kesulitan menemukan penerjemah yang benar-benar sesuai dengan kriterianya. Lalu dia memilih saya karena tahu latar belakang saya pernah bersekolah di luar negeri,” paparnya.

Mengawali pelayanannya sebagai penerjemah, Daniel diajak untuk pelayanan di wilayah Cilegon, Banten. Ia ingat betul bahwa tempat yang ia layani bukanlah sebuah gedung yang megah dengan jemaat ribuan, melainkan hanya sebuah ibadah di rumah. “Itu seperti Komsel. Ketika sampai di sana, kami pun turun di pinggir jalan lalu masuk ke gang-gang sampai bertemu rumah yang kami tuju,” jelasnya seraya mengungkapkan motivasi dirinya mau menjadi penerjemah semata-mata untuk belajar. “Apapun pelayanan yang disodorkan kepada saya, akan saya ambil,”.

Karena ketekunan dan motivasi yang dimiliki Daniel, pelayanannya semakin berkembang. Dirinya mulai dijadwalkan menerjemahkan hamba Tuhan dari luar negeri dalam ibadah hari Minggu. Beberapa hamba Tuhan yang pertama kali berpartner dengan dirinya seperti Sandra Nair, Jacob Currien, David Lai dan lain-lain. Hingga Tuhan berikan kesempatan Daniel menjadi penerjemah hamba Tuhan di acara-acara besar, salah satunya Rev. Morris Cerullo. “Sudah sangat banyak hamba Tuhan yang saya pernah terjemahkan,” katanya.

Bagi ayah dari Sharon Naomi, menjadi penerjemah memiliki kesulitannya tersendiri, seperti soal kosa kata. Namun, hal itu menjadikan Daniel untuk terus belajar agar bisa menjadi lebih baik. “Penerjemah harus bisa fokus dua sisi. Satu kepada pembicara, dua kepada jemaat. Dan harus berpikir cepat dalam memilih kalimat yang digunakan untuk jemaat agar mudah dimengerti,” paparnya.

Awalnya, Daniel belajar hal-hal teknis dalam menerjemahkan, seperti seberapa akurat dan cepat menangkap pesan yang disampaikan hamba Tuhan. Namun hal lain yang tidak kalah penting dan utama yang harus dijaga adalah soal kekudusan. “Kita bukan hanya menerjemahkan semata. Tapi di situ selain kita harus mampu menerjemahkan bahasa, juga harus mampu menerjemahkan setiap pengurapan, manisfestasi yang pembicara lepaskan. Jangan sampai ketika pembicara sudah power full, tapi penerjemahnya tidak. Penerjemah harus bisa menjadi saluran,” ungkapnya.

Di sisi lain, untuk mendukung kemampuannya sebagai penerjemah, Daniel juga terus membaca firman Tuhan agar pengetahuannya terus bertambah dan berkembang. “Ketika menerjemahkan saya akan lebih fokus pada pesan yang disampaikan pembicara dan saya sampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna jemaat (memakai kata sehari-hari). Fokus saya pesan tersebut harus sampai,” katanya.

Sementara itu, menjaga hubungan (kedekatan) dengan pembicara adalah hal yang wajib dilakukan. Seperti pepatah bilang ‘tak kenal maka tak sayang’. “Saya slelau membangun hubungan dekat dengan pembiacara, dengan datang terlebih dulu, mengobrol hingga memberikan mereka servis sampai mereka merasa nyaman,” jelasnya seraya menambahkan apa yang dilakukannya tersebut membuat ia menjadi akrab seperti seorang sahabat dengan para pembicara. “Banyak pembicara yang akhirnya menjadi teman saya karena seringnya menerjemahkan mereka,”.

Ia bersyukur Tuhan memberikan pelayanan pada dirinya menjadi seorang penerjemah karena bisa menerima banyak nubuat, dan urapan dari hamba Tuhan yang menjadi partnernya.

Kini, ia juga memiliki kesibukan sebagai pengkhotbah keliling sekaligus memiliki sekolah penginjilan. “Tuhan berikan saya visi untuk bangkitkan generasi yang baru. Definisi saya yang spesifik soal generasinbaru adalah, semua orang yang ada di dalamnya menemukan panggilannya masing-masing. Saya percaya kalau mau melihat kota ini berubah, semua idividu di dalamnya bertumbuh sesuai panggilannya,” kata suami dari Monalisa Oktaviani. (NW)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini