Memahami Seni Tari dari Darmawan Dadijono

0

YOGYAKARTA – Menjadi dosen tari adalah panggilan hidupnya. Adalah Darmawan Dadijono atau sering disapa Iwan Darmawan, seorang Dosen Tari Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. “Sejak saya umur 5 tahun orangtua memberikan fasilitas serta dukungan lahir dan batin agar saya bisa menari. Para guru tariku, mereka melatih saya menari dengan baik dan mereka mampu mengasah bakat saya dengan cara mereka masing-masing,” kata Iwan Darmawan lelaki kelahiran Semarang 17 September 1967.

Sampai hari ini namanya tercatat masih aktif melayani dengan proses kreatifnya sebagai koreografer di beberapa gereja di Yogyakarta maupun di Indonesia. “Suatu saat Pastor Paroki gereja Katolik St. Antonius Padua (Kotabaru) Jogjakarta memberi kesempatan kepada saya untuk berkarya di gereja. Karya itu adalah berupa drama jalan salib (tablo), menjelang perayaan Paskah pada tahun 2001. Sejak saat itu berkarya di beberapa gereja merupakan sebuah pelayananku. Beberapa Pastor SJ (Serikat Jesuit) sering memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya di gereja. Karya-karya itu merupakan ekspresi keimananku di ruang religiositas ku,” tegas Iwan Darmawan yang pernah menempuh pendidikan Sarjana Seni Tari di ISI Yogyakarta.

Menurutnya, menjadi koreografer sekaligus pengajar tari tentunya memiliki pengalaman yang dinamis. Khususnya pengalaman spiritual pada saat tema-tema yang dikerjakan seputar kehidupan kristiani (relijisiutas). “Suatu saat saya berproses membuat tablo Jalan Salib di sebuah gereja Kristen di luar kota Jogja. Setelah latihan beberpa kali di kota itu, terdengar aturan dari salah satu pendeta gereja itu bahwa ‘semua pendukung drama jalan salib harus beragama Kristen’. Saya pun drop. Berita itu kemudian saya sampaikan kepada para pendukung karya jalan salib itu yang notabene mahasiswa jurusan Teater ISI Jogjakarta yang mayoritas muslim. Mereka kaget dan terdiam. Pikiran muncul antara melanjutkan proses ini sampai pentas atau stop. Ada seorang mahasiswa yang tunjuk jari…., ‘kita berkesenian bukan beribadah, dan kalaupun ada yang tanya agamamu apa, akan kami jawab kami punya Tuhan Allah satu yang sama’! Yaaaah itu komitmen kami saat itu dan terus berproses hingga pentas. Hal itu yang menguatkan saya bahwa perbedaan akan menjadi indah disatukan manakala mempunyai Nawaitu yang positif,” Kenangnya dalam salah satu karya tarinya.

Darmawan Dadijono dalam sebuah pertunjukan seni tari (Foto: DOK PRI)

Tari, bagi dirinya sudah menjadi jalan manages (jalan sejati) yang merupakan penuangan/ekspresi rasa, ide pribadi ke sebuah karya seni yang melalui proses kreatif yang banyak tantangan dan menyenangkan. “Dalam berkarya seni (terlebih seni pertunjukan) selalu melibatkan banyak orang. Karya seni di gereja pun melibatkan orang banyak yang notabene kadang mereka bukan umat/jemaat sebuah gereja, namun berkeyakinan lain misal Islam, Hindu dan Budha. Pada dasarnya saya selalu menjelaskan latar belakang, konsep karya saya kepada para pendukung karya itu. Pada prinsipnya saya tidak mengajak teman-teman non Nasrani utk masuk ke keyakinan saya yaitu Katholik. Saya hanya minta bantuan untuk mewujudkan sebuah karya seni. Namun ternyata ada beberapa teman yang ingin membaca kitab suci, serta referensi buku yang lain terkait dengan tema yang aku garap. Mayoritas teman berprinsip ‘ini berkesenian, bukan beribadah’…..,” kata lelaki yang lulus Pasca Sarjana Penciptaan Seni Tari di Instiut Seni Indonesia Surakarta dengan mengambil judul “Bunga di Atas Karang” kisah tentang sengsara Yesus Kristus.

Dosen yang lulus Doktoral di Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia Surakarta ini menjelaskan selalu melibatkan “tuan rumah” dalam penggarapan sebuah karya seni. Supaya mereka ikut merasakan proses kreatif dan berperan aktif dalam peristiwa itu. Memanusiakan manusia tidaklah mudah, tapi harus dilakukan.

Bagi dirinya, mengimani sebuah agama tidak melulu doa di tempat ibadah. Namun bisa melalui talenta yang diberikan sang pencipta yang harus dipelajari dan kembangkan sebagai bentuk ibadah juga dalam pelayanan. Kemudian karya itu harus diwujudkan sehingga memiliki makna dan nilai bagi masyarakat (khususnya masyarakat umat Nasrani).

Dalam meniti karirnya, Iwan Darmawan memiliki beberapa idola yang memberikan pengaruh positif, seperti Yesus Kristus, Mas Don (Sardono W Kusumua) – penari, koreografer, budayawan, dan Romo Mudji Sutrisno SJ.

Ia berpesan bagi siapapun yang ingin memilih dunia tari sebagai pilihan hidup atau cita-cita. “Jangan tinggalkan tradisi, tapi tumbuhkanlah tradisi kreatif dalam berkesenian. Karena, banyak seniman muda yang menganggap bahwa tradisi itu kuno dan membosankan. Tapi harus diingat karena tradisilah hingga ada modern/kekinian. Sebuah tradisi akan hidup dan berkembang jika ada sikap kreatif. Sebuah karya modern/kekinian pun akan berkembang dan bagus kalau ada sikap kreatif. Jadi mari kita sikapi, kreatif merupakan tradisi dalam berkesenian. Berkah Dalem,” pungkasnya. (EW)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini