MD GPdI Jatim Memecat Pengurus Struktur yang Aktif Mengikuti LKG

0
Foto: IST

JAWA TIMUR – Pada bulan Maret 2019, beberapa hamba Tuhan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang ada di Jawa Timur (Jatim) menerima surat Pemberhentian dari Jabatan (tugas) struktur Majelis Daerah (MD) GPdI Jatim yang dipimpin oleh Pdt. Adi Sudjaka, khususnya pada struktur kepengurusan Komisi Daerah (KD) ataupun Majelis Wilayah (Mawil).

Setelah ditelusuri tabloidmitra.com, pemberhentian tersebut di karenakan beberapa nama hamba Tuhan tersebut mengikuti seminar dari lembaga yang dibentuk oleh para mantan pengurus MD Jatim periode lalu, diantaranya mantan Ketua MD Jatim, Pdt. Samuel Jianto.

Lewat sambungan telepon beberapa waktu lalu, Pdt. Samuel Jianto membenarkan telah terjadi pemberhentian (pemecatan, red) kepada beberapa orang yang mengikuti kegiatan seminar dari Lembaga Kajian Gerejawi (LKG) Suara Kasih yang didirikannya dan saat ini dipimpin oleh Ketua DepDikJar MP GPdI, Pdt. Dr. Doni Heryanto, MTh. “Hamba-hamba Tuhan yang dipecat itu bukan dipecat dari gembala tetapi dari struktur, semisal yang duduk di Majelis Wilayah atau KD-KD,” cerita Pdt. Samuel Jianto.

Pdt. Samuel Jianto (Foto: IST)

Namun Pdt. Samuel Jianto tidak mengetahui pasti alasan pemberhentian tersebut. “Alasannya saya tidak tahu. Pasalnya sejak awal kita (pengurus LKG) sudah audensi sama MD GPdI Jatim, kami sudah menjelaskan semua tentang LKG. Sampai Pdt. Noch Mandey dari Bendahara Umum Majelis Pusat berkata bersedia tahun depan seminar LKG dibuat di tempatnya,” ungkap Pdt. Samuel Jianto dan memperjelas selama dua tahun berdiri LKG sudah menggelar 8 kali seminar yang rata-rata diikuti oleh 260 peserta. “Pernah seminar di Malang diikuti 300 peserta.”

Setelah LKG berjalan, Pdt. Samuel Jianto melihat ada semacan kekeliruan informasi yang diperoleh MD Jatim tentang kegiatan LKG. Kekeliruan yang dimaksud, LKG dilihat sebagai bentuk membangun kekuatan. Padahal LKG justru mendoakan pengurus MD Jatim. Bahkan bila ada yang bertanya eksistensi kepemimpinan MD Jatim dalam seminar LKG, sudah menjadi kesepakatan LKG tidak akan memberikan jawaban. “Saya sebagai pendiri LKG tetap terus dan tidak bosan-bosan berkata pada hamba-hamba Tuhan GPdI yang ikut LKG untuk dapat menghormati dan terus loyal kepada MD GPdI Jatim. Juga saya berkata bagi pengurus organisasi GPdI yang tidak mau ikut LKG, tidak apa-apa karena kehadiran LKG hanya untuk membantu dalam bidang pendidikan,” tegasnya.

Pdt. Samuel Jianto melihat, MD GPdI Jatim begitu keras kemungkinan karena LKG sudah didaftarkan ke notaris dan akan segera didaftarkan ke Kemenkumham. “Mungkin saya salah melihat. Tapi perlu saya jelasin semua yang dibuat LKG ini agar LKG memiliki badan hukum untuk menerbitkan buku-buku teologia dan ada lembaga hukum yang bertanggungjawab ketika menggelar seminar. Juga dengan adanya badan hukum, memperjelas bahwa LKG bukanlah badan di bawah MD GPdI Jatim tetapi lintas denominasi gereja,” terangnya.

Jika dilihat dari struktur pengurus, tambah Pdt. Samuel, banyak yang terlibat di dalamnya bukan dari GPdI. “Kalau saya jadi Ketua MD, saya akan rangkul LKG untuk menjadi partner pelayanan yaitu mencerdaskan,” harapnya.

Saat dikonfirmasi kepada Pdt. Noch Mandey, keberadaan LKG di Jatim setahunya tidak ada masalah. Bahkan membenarkan pernah menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah dalam seminar yang dibuat LKG. “Tujuan LKG hanya mengadakan seminar-seminar, itu saja. Selebihnya itu saya tidak memahami apa isi dalam seminar. Juga saya tidak tahu apa tujuan membentuk LKG ini. Kalau saya, sudah biasa saja, tidak usah diributkan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Pdt. Noch Mandey mengatakan tidak tahu dan tidak mengerti bila MD GPdI Jatim melakukan pemberhentian terhadap pengurus organisasi MD yang ikut seminar LKG. “Saya tidak mengerti soal pemecatan. Begini, karena sudah dipanggil dan mereka (pengurus LKG) sudah menghadap semua, bagi saya selama mereka mempunyai motivasi atau tujuan bagus, mengapa tidak,” terangnya dan menambahkan kalaupun ada orang LKG merongrong terhadap MD mestinya tidak langsung melakukan pemecatan tapi diberikan nasihat dulu.

Pdt. Happy W Komaling, salah seorang yang disebut-sebut menerima surat pemberhentian dari Wakil Ketua KD Pelayanan Mahasiswa Pantekosta (Pemap) berkata, pemecatan itu diberlakukan terburu-buru karena tidak ada surat peringatan pertama, apalagi kedua. “Mereka sebenarnya pemenang Musyawarah Daerah (Musda), ternyata bukan kami yang belum move on melainkan mereka yang belum move on,” katanya.

Pdt. Happy W Komaling (Foto: Dok pribadi)

Alasan pemecatan, kata Happy W Komalin karena keterlibatannya di LKG. Padahal LKG itu sendiri adalah lembaga resmi, berbadan hukum dan tidak tergabung dalam GPdI. “Kayaknya LKG tidak disukai karena para pendiri adalah mantan-mantan MD periode yang lalu. Sampai sekarang ini masih ada orang di MD yang berpikir bahwa itu merupakan sebuah saingan. Kami saja tidak habis pikir, istilahnya MD masih banyak pekerjaan yang perlu dipikirkan malah mereka memikirkan hal-hal yang tidak ada sangkut paut dengan pekerjaan mereka,” tandasnya.

Pdt. Happy W menyangkan sikap MD yang terus memantau LKG dengan melarang hamba-hamba Tuhan GPdI yang ada dalam struktur mengikuti seminar-seminar LKG. Tapi kalau ikut seminar yang digelar oleh lembaga-lembaga lain dari LKG seperti, PPHTGD atau Garis Depan, Pria Sejati, boleh.

Diakhir, Pdt. Happy W dengan beberapa temannya yang diberhentikan dari organisasi dalam kedudukan struktural berkata, pemecatan yang diberikan itu tidak memberikan dampak banyak karena memang mereka kosentrasi dalam dunia pengembalaan gereja lokal. “Saya tidak terlalu pusing dengan pemecatan ini karena saya berpikir kalau dipecayakan melakukan kerjaan saya kerjakan kalau tidak, ya sudah. Saya mau kosentrasi saja di pelayanan di gereja lokal saja,” kata salah satu hamba Tuhan yang menerima surat pemberhentian MD dari struktur organisasi yang dikirim lewat pos.

Sementara itu, kepada tabloidmitra.com Ketua MD Jatim Pdt. Adi Sujaka membantah melakukan pemecatan. Sebab yang benar adalah mendisiplinkan orang-orang yang duduk dalam struktur organisasi MD Jatim. “Kami MD bukan memecat. Begini loh, MD mendisiplinkan anggotanya, seperti MD, KD dan Mawil,” katanya melalui sambungan telepon.

Pdt. Adi Sujaka (Foto: Dok MITRA INDONESIA)

Lebih jauh, Pdt. Adi Sujaka menjelaskan penyebab melakukan pendisiplinan karena LKG menggelar kegiatan dengan melibatkan hamba-hamba Tuhan GPdI di Wilayah Jatim tetapi tidak mau permisi kepada pengurus MD Jatim. “Karena tidak kulo nuwun atau melaporkan maka kami sebagai MD melarang, bukan memecat,” tuturnya dan melengkapi bahwa yang ada melakukan pendisiplinan bagi yang melawan MD. Melakukan pendisiplinan itu bukan asal, melainkan sudah memperingati terlebih dahulu.

Pdt. Adi Sujaka berkata yang dilakukan penertiban organisasi itu hanya beberapa orang. Bagi yang mengindahkan peringatan yang diberikan MD, tidak dilakukan penertiban. “Ada beberapa orang itu sudah berubah. Ada yang secara pribadi sudah datang kepada saya meminta maaf. Jadi sekali lagi kalau yang tidak mau mengindahkan, ya kita tertibkan,” tegasnya.

Pdt. Adi Sujaka pun menceritakan asal muasal sampai ada oknum-oknum yang terus berbeda dengan MD. Bermula dari adanya oknum yanv hanya siap menang dalam Musyawarah Daerah (Pemilihan Ketua MD) tetapi tidak siap kalah. Setelah kalah, sudah menaruh rasa negatif kepada majelis Daerah terpilih. “Seperti mertua yang tidak suka pada mantunya walau mantunya sudah masak enak,” tuturnya.

Pada dasarnya, Pdt. Adi Sujaka berkata tidak ada masalah dengan LKG. Hanya saja kalau membuat kegiatan di Jawa Timur yang melibatkan hamba-hamba Tuhan GPdI, hendaknya memberitahu (bukan izin) kepada MD. “Saya harap LKG ada komunikasi baik dengan MD. Itu saja,” paparnya.

Surat edaran tentang MD GPdI Jatim tentang keberadaan LKG (Foto: IST)

Di akhir, Pdt. Adi Sujaka secara tidak langsung memperingati para hamba Tuhan GPdI yang duduk di struktur organisasi untuk tidak hadir di seminar LKG Jember agar terhindar dari tindakan pendisiplinan MD GPdI Jatim. “Misalnya, seorang gembala mengangkat jemaat untuk jadi pengurus atau majelis. Lalu diantara pengurus atau majelis tersebut bikin kebaktian atau seminar sendiri dengan mengundang anggota jemaat tanpa memberitahu kepada gembala. Sikap apa yang akan diambil gembala? Begitulah dengan MD Jatim,” demikian analogi yang dipakai Pdt. Adi Sujaka. (NBS)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini