KKR HMC Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo Memasuki Usia ke 12

0

Pelayanan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo dengan tagline “MUJIZAT ITU MASIH ADA atau MUJIZAT ITU NYATA” sudah sangat familiar bagi umat Kristiani lintas denominasi di seantero Indonesia.

Pasalnya, Perjalanan pelayanan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo dan Healing Movement Crusade atau sering disebut  Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan Kesembuhan Ilahi (KI), di tahun 2018 ini memasuki usia ke 12 Tahun.

Juga hampir setiap digelarnya KKR-KI di setiap pelosok Indonesia ini ditayangkan di TV swasta yang memiliki basic penonton dengan jumlah besar.

Lewat pelayanan KKR-KI yang tagline-nya “MUJIZAT ITU MASIH ADA dan MUJIZAT ITU NYATA telah banyak membawa warga bangsa Indonesia makin dekat pada Tuhan, bahkan menerima mujizat dari Tuhan.

Tapi apakah semuanya tahu bagaimana sampai Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo terjun dalam pelayanan kesembuhan? Ceritanya, pada tahun 2006 atau bertepatan 100 tahun Assusa Street, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, sedang berada di Amerika, tepatnya di rumah William Seymour. Disitu ada mimbar Kathryn Kuhlman

Berada di dekat mimbar Kathryn Kuhlman, tiba-tiba Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo mendengar suara Tuhan. “Ketika saya ada di dekat mimbar itu, tiba-tiba Tuhan bicara kepada saya, kamu nanti pelayanannya akan sama dengan dia (Kathryn Kuhlman)”.

Tentu saja mendengar suara Tuhan itu, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo kaget, lalu disertai bingung, karena dalam benak pikirannya banyak orang tahu Rev. Benny Hinn lah yang telah mendapatkan impartasi dari Kathryn Kuhlman. “Saya kaget mendengar suara Tuhan itu, saya bingung, mau bersaksi bagaimana, William Seymour sudah di klaim oleh Rev. Benny Hinn kalau dia dapat impartasi dari Kathryn Kuhlman,” cerita Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo.

Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, di tengah kebingungan, masuk ke kamar doa William Seymour untuk berdoa. “Setelah mendengar suara Tuhan, saya masuk ke kamar doa William Seymour, disitu saya mendapatkan pengurapan. Apa yang saya dapatkan, saya hanya ceritakan ke istri dan tanpa ada orang lain yang tahu,” tuturnya.

Dua bulan kemudian, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo berada di Yerusalem. Saat itu, ada seorang “nabi” datang kepadanya dengan melontarkan pertanyaan, “Anda yang waktu itu di rumahnya William Seymour kan?” belum saja Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo memberikan jawaban, orang itu berkata dengan nada bertanya “Anda ada didekat mimbar Kathryn Kuhlman kan?” lagi belum dijawab Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, kembali orang itu berkata “Tuhan berbicara pada Anda, kalau waktu itu (zamannya) Kathryn Kuhlman yang membawa kemulian-Nya maka pada zaman ini kamu yang akan bawanya”.

Kontan pernyataan dari “nabi” itu membuat Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo yakin akan suara Tuhan yang didengarnya di dekat mimbar Kathryn Kuhlman. Sejak itu, ia mulai memperkatakan visi yang Tuhan berikan kepadanya. “Setelah itu saya mulai memperkatakan visi, bahwa Tahun 2006, tahun kesembuhan. Kalau ada orang tanya kenapa begitu, saya jawab tidak tahu, pokoknya kalau Tuhan suruh katakan, saya (katakan) aja,” katanya.

Setiap kali Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo katakan visi yang diterima dari Tuhan, selalu mendapatkan jawaban “AMIN”. Bulan pertama “AMIN” nya masih keras, bulan kedua “AMIN” nya mulai melemah, bulan ketiga “AMIN” nya tidak ada sambil bertanya-tanya apa maksud dari yang Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo katakan. “Saya mulai stress dan bertanya-tanya, kenapa? Ada apa?,” ceritanya.

Di tengah kegalauan yang dihadapinya, datanglah Pdt. David Tjakra Wisaksana, dan berkata untuk meresponi visi Tuhan yang Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo maka GBI Sukawarna akan menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan Kesembuhan Ilahi (KKR) atau disebut KKR Healing Movement Crusade disingkat KKR HMC.

KKR HMC Perdana

Tepat, Selasa (08/8/2006), pertama kali KKR HMC digelar di gedung Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor Bandung dan dihadiri menurut panitia waktu itu, lebih dari 8000 umat Tuhan.

Sementara berjalannya kebaktian (ibadah), Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo tiba di lokasi KKR HMC. Panitia yang ada langsung membawa ke tempat yang sudah disediakan.

Beginilah suasana umat Tuhan yang hadir di KKR perdana tahun 2006 di IPDN

Dalam perjalanan menuju tenda yang bertepatan ada di depan, seorang panitia (diaken) dengan tangannya menunjuk kepada umat Tuhan. Ia berkata sekitar 2000 orang yang duduk di depan itu adalah orang sakit yang membutuhkan doa kesembuhan. “Saya tidak bisa ngomong waktu itu, hanya ngangguk-nganggu. Saya duduk di kursi yang sudah disediakan sambil lihat kiri, kanan dan belakangnya,” katanya.

Saat lihat kiri-kanan dan belakangnya itu, pemandangan yang tersedia di mana hanya orang-orang yang duduk di kursi roda dan orang-orang yang terbaring di ranjang seperti yang biasa ditemui di rumah sakit. “Saya empot-empotan, saya benar-benar tidak siap,” tegasnya.

Ketidak siapannya melihat fakta yang ada membuat dirinya blank dan tidak tahu mau memberitakan firman Tuhan apa saat sudah berada di depan mimbar. “Tiba giliran saya memberitakan firman Tuhan. Di mimbar, mendadak saya blank dan tidak tahu harus khotbah apa. Yang ada di pikiran saya hanya tentang kisah Bartimeus, seorang pengemis buta di kota Yeriko. Saya hanya bersaksi tidak lama dan selesai,” katanya.

Usai memberitakan firman Tuhan, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo mengajak umat Tuhan yang hadir menyembah Tuhan dan jemaat ikut menyembah Tuhan.

Suasana penyembahan yang begitu menarik kuasa Allah turun, ternyata tidak mampu membuat Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo tenang. “Hati saya tetap empot-empotan,” tuturnya.

Apalagi dalam suasana penyembahan itu, Tuhan meminta Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo untuk mengajak orang yang sakit maju untuk didoakannya. “Hati saya masih empot-empotan. Saya bertanya bagaimana ini Tuhan?”

Disaat masih memiliki pertanyaan kepada Tuhan, bersamaan dengan itu Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo mengikuti perintah Tuhan. Jemaat yang maju didoakannya.

Tidak beberapa lama dari mendoakan umat Tuhan, suasana masih dalam pujian dan penyembahan, Tuhan berkata kepada Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo untuk meminta umat Tuhan yang sudah sembuh dapat naik ke atas panggung. “Sempat saya berpikir bagaimana kalau tidak ada yang sembuh? Akhirnya saya katakan saudara yang sembuh mari naik ke panggung. Saya katakan sambil lutut ini gemetar,” ceritanya.

Tidak beberapa lama dari ajakannya itu, begitu banyak orang yang disembuhkan antri untuk naik ke panggung.

Kesaksian-kesaksian dari umat yang sakit itu, ada yang tadinya buta dapat melihat, ada yang tadinya lumpuh dapat berjalan dan berbagai penyakit aneh lainnya disembuhkan oleh Tuhan malam itu. “Saudara perlu dengar kesaksian ini, bahwa saya bisa menyembuhkan orang bukan karena saya hebat, tapi karena Tuhan yang hebat,” tegasnya.

Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo Diutus Tuhan

Pengalaman yang dramatis malam itu ternyata tidak berakhir di situ. Sebaliknya, malam itu menjadi cerita awal Tuhan mengutus Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardo untuk mengunjungi berbagai tempat di Indonesia yang Tuhan tunjuk untuk menggelar KKR HMC. “Kamu (Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo) akan Aku (Tuhan) utus ke kota-kota yang aku tunjuk. Kamu kumpulkan gereja-gereja dan membawa orang yang berkekurangan, termasuk orang sakit, orang yang tidak punya pengharapan, sebab Aku akan menyembuhkan mereka” demikian Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo mengungkapkan perintah Tuhan yang didengarnya.

Mendapatkan perintah itu, sebagai hamba Tuhan, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, siap untuk menjalankan tugas. Tapi perintah Tuhan, tidak berhenti di situ. Melainkan, sampai dan ayang diperlukan untuk menggelar KKR HMC harus disediakannya sendiri.

Mendengar perintah Tuhan tersebut, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo yang sedang membutuhkan dana pembangunan Sentul International Convention Center (SICC), tidak banyak menjawab kepada Tuhan selain patuh dan taat.

KKR HMC di Madura, pada November 2010

Puji Tuhan, KKR HMC sudah berjalan memasuki 12 tahun dan telah menggelar KKR-HMC di berbagai pelosok provinsi. Diantaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Ambon, NTT, Papua, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Bangka Belitung, dan masih banyak lagi. Di tahun ke 12 atau di tahun 2018 ini, kota-kota yang mendapatkan jadwal untuk KKR HMC, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, diantaranya, bulan Maret di Banyuwangi dan Lumajang, bulan April di Pare dan Tulungagung, bulan Juni di Pahuman dan Singkawang, bulan Juli di Pati dan Jepara, bulan Agustus di Borobudur dan Prambanan, bulan September di Soe dan Kupang, bulan Oktober di Palangkaraya dan Kasongan serta bulan November di Banjarnegara dan Wonosobo.

Ayo, umat Tuhan di kota-kota yang akan digelarnya KKR HMC, perhatikan jadwalnya, doakan dan hadirilah serta rasakan kuasa Allah dan alami mujizat Tuhan, sebab “MUJIZAT ITU MASIH ADA dan MUJIZAT ITU NYATA. (Suratinoyo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini