Ketum INDOCER Baru Irwan Wijaja, Terpanggil Melayani Papua

0

MEMILIKI segudang kegiatan tentu akan menyita waktu seseorang. Begitu juga dengan pria yang satu ini. Kegiatan (rutinitas) yang ia jalani bukan hanya di Indonesia, melainkan sampai ke bangsa-bangsa. Tapi, ditengah kesibukannya ia tetap mampu membagi waktu untuk keluarga sekaligus melayani Papua lewat Indonesia Cerdas (INDOCER).

Namanya Fransiskus Irwan Widjaja. Sejak kecil, pria asal Jambi ini sudah menunjukan kelebihannya dalam bidang akademis. Tidak heran ketika lulus SMA, ia mendapatkan kesempatan kuliah di Oklahoma State University, Amerika jurusan Penelitian Satwa Liar khususnya mamalia besar. “Puji Tuhan, waktu itu saya juga pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Indonesia (PERMIAS) Oklahoma State University,” ungkapnya.

Lulus dari Amerika, pria yang akrab disapa Iwan (Irwan) ini pulang ke Jambi dan menjadi dosen honorer di Universitas Jambi sekaligus menjadi kepala laboratorium biologi. Cita-citanya ingin menjadi pegawai negeri, tapi sayang takdir berkata lain. “Karir saya mandek, mungkin karena saya Tionghoa dan Kristen. Jadinya saya keluar dan bekerja di Pusat Tanaman Industri (HTI) PT. Wira Karya Sakti-Sinarmas Grup,” kata pria kelahiran 3 Oktober 1966 ini.

Bekerja di hutan, karir Irwan justru lebih cemerlang. Mulai dari peneliti hingga bisa jadi “pengusaha hutan” (pembersih lahan-land clearing). Tapi sayang, karena ambisius Irwan justru terlilit hutang. “Umur saya waktu itu masih 26 tahun, tapi sudah memiliki hutang hampir 5M,” jelasnya.

Di saat yang sama, Irwan baru saja menikah. Hal tersebut otomatis membuat kondisi pernikahannya dalam keadaan yang terpuruk. Kurang lebih tujuh tahun ia bergelut dengan hutang hingga akhirnya Tuhan selesaikan semuanya sekaligus memanggil Irwan jadi seorang hamba. “Panggilan saya memang missionaris. Saya pun dipanggil Tuhan ketika sedang ada di hutan,” kata ayah dua orang anak ini.

9 September 1997 merupakan tanggal Irwan sepenuh waktu menjadi full timer. Pelayanannya dimulai dari kampung, daerah transmigrasi, hingga daerah pedalaman. Tiga tahun setelah itu atau tepatnya tahun 2000an, Irwan di pindah ke Batam. “Tuhan memproses saya sehingga saya memiliki komitmen untuk melayani sekaligus mengasihi Tuhan sepenuh waktu. Saya tidak mau hitung-hitungan dengan Tuhan,” urainya.

Berjalannya waktu, pelayanannya semakin berkembang. Mula-mula, ia membangun sekolah misi untuk membentuk para missionaris handal untuk melayani di bangsa bangsa, POAB (Pusat Orientasi Apostolik Bangsa Bangsa yang merupakan respon dari Transform World 2005, Indonesia akan mengutus 5 000 misionaris). Selannjutnya, Tuhan percayakan dirinya membangun Sekolah Tinggi Teologi (STT) REAL (Reap-Equip-Affirm-Lead). “Sampai saat ini puji Tuhan jumlah mahasiswa kami mencapai 1.100 orang,” katanya.

Di sisi akademis, Irwan juga terus mengembangkannya. Di bidang magister  dan Doktoral, ayah dua orang anak ini mengambil pendidikan jurusan leadership sekaligus Master of arts Intercultural education (khususnya untuk suku-suku terabaikan) dan juga Master of Misiologi dan Doktor Teologi. Dan kin ia sedang menempuh pendidikan doctoral (PhD)  ke dua di Singapore jurusan kontekstualisasi injil untuk suku terabaikan. “Cita-cita saya ingin menjadi professor missiology modern,” ucapnya.

Jadi ketua INDOCER

Sejak tahun 2009 atau tepatnya ketika membangun sekolah Misi, Irwan sudah memiliki hati untuk Papua. Kenapa? Karena ia yakin Tuhan memiliki rancangan yang luar biasa untuk Papua. “Papua terletak di Golden Gate (Pintu  gerbang emas). Di kota Yerusalem tua (old Jerusalem) di bagi 12 pintu gerbang, ada satu yang masih belum terbuka dan itu adalah pintu gerbang emas. Makannya tidak heran kalau dilihat secara spiritual, kekayaan Papua berlimpah, salah satunya emas. Kalau orang orang di Papua bangkit Secara rohani, sebagaimana firman Tuhan katakan Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia (Mat 24:27). Ada satu kebangkitan, kegerakan besar sebelum Tuhan datang,  kebangkitan dari anak-anak Papua yang luar biasa dan menjadi satu kekuatan baru dalam kebangkitan menginjil ke Indonesia Barat,” paparnya.

Dari sekolah misi miliknya, Irwan mulai mengutus para missionarisnya pergi ke Papua. Dari STT Real Batam, para alumni juga di utus menjadi guru. Bersama pengerja dan mission pastor juga melakukan mission trip dan membantu apa yang bisa ia bantu. Hingga beberapa saat, ia tergabung menjadi pemerhati di INDOCER (Indonesia Cerdas) dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Umum (Ketum). “Ketika diminta jadi Ketum Yayasan Transformasi Indonesia Cerdas (INDOCER), saya berpikir susah membagi waktu. Tapi saya ambil tawaran itu karena misinya sama yaitu melayani Papua,” kata Irwan.

Bagi dirinya, melayani di daerah pedalaman sudah menjadi makanannya sehari-hari sejak muda. Di INDOCER sendiri, ia tidak hanya bertindak sebagai pimpinan layaknya seorang bos, tapi ia juga ikut terjun langsung mendampingi para guru Pertra ketika melayani di Papua. “Kami bukan hanya rekrut (guru PETRA) lalu kirim. Kami juga peduli mereka. Kami senantiasa damping serta kunjungi, kami tinggal dan makan tidur bersama mereka. Walaupun hanya 2-3 hari, tapi setidaknya itu bisa membangun kebersamaan,” ungkapnya seraya menambahkan para guru harus diberikan apresiasi yang sepantasnya karena semangatnya melayani. “Tidak mudah merekrut anak-anak muda untuk melayai di pedalaman,”.

Kedepan, dalam waktu 10 tahun target yang ingin dicapai INDOCER adalah bisa mengirim 10.000 guru yang memiliki hati membangun Papua. Untuk mencapai visi tersebut salah satu cara yang dipakai INDOCER adalah senantiasa merekrut lulusan baru (fresh graduate) anak anak Tuhan dari berbagai universitas yang ada di Indonesia.

“Dengan 10.000 guru dalam sepuluh tahun, asusmsi kami mereka sudah bisa melayani 1 juta orang. Karena 1 guru bisa melayani 30 anak sekaligus para orang tuanya. Jadi 1 guru sama saja dengan melayani 100 orang. Dari 100 orang kemudian dikali 10.000, hasilnya 1 juta. Kalau sudah 1 juta, maka sudah 30 persen penduduk Papua yang bisa dilayani firman Tuhan,” urainya.

Irwan pun mengajak pada gereja maupun gembala membantu pelayanan INDOCER, baik secara moril maupun finansial. “Kalau tidak bisa membantu secara tenaga, bantu kami dengan doa. Kalau gereja punya keuangan yang kuat, mari adopsi guru untuk back up paling tidak selama 1 tahun. Kalau mau ambil bagian, mari kita langsung terjun ke lapangan agar wawasan semakin terbuka, karena rasanya akan berbeda ketika kita mengunjungi daerah misi,” jelasnya.

Waktu untuk keluarga

Saat ini Irwan bisa disebut sebagai salah satu hamba Tuhan yang memiliki segudang kegiatan baik di dalam maupun luar negeri. Selain mengembalakan GBI My Home Tanjung Pinang Pulau Bintan di Kepulauan Riau, ia juga duduk sebagai Executive Commite (Leader) Global Church Planting Network-jaringan penanaman gereja yang berpusat di London.

Selain itu, pria yang murah senyum ini juga duduk di salah satu badan dunia yang berpusat di Amerika sebagai peneliti suku-suku terabaikan yang tidak terkoneksi di Indonesia (Indonesian Hub, Gpbe Serve). Dan sampai sekarang ia juga masih dipercaya membantu Ps. Johan Handojo jadi Mission Director di Bethany Church Singapore. “Pembagian waktunya sekarang seperti ini, Senin-Selasa pagi biasa ada di kantor  Batam. Selasa malam sampai rabu or kamis jika tidak ada tugas keluar, saya ada di Tanjung Pinang. Satu bulan sekali, saya berkantor di Singapore, kemudian satu tahun sekali saya berkantor di London. Dan satu lagi, setiap bulan saya pasti ke Jakarta untuk mengurus INDOCER,” jelasnya.

Tapi, dari kesibukannya yang begitu padat, Irwan tidak lantas melupakan keluarga. Di sela-sela kesibukannya ia pasti menghubungi istri atau anak untuk menanyakan kabar. Dan setiap 2 kali setahun, ia selalu menyediakan waktu khusus bagi keluarganya. “Yang pertama sama keluarga (istri dan anak-anak). Lalu yang kedua khusus hanya sama istri. Biasanya kita tentukan tempat mau liburan di mana,” kata Irwan. (Nuel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini