Kesaksian Agus Rianto

0

Agus Rianto
Hidup Sesuai Kehendak-Nya

Agus Rianto, adalah seorang pria asli Purwokerto, Jawa Tengah. Sejak kecil, dirinya sudah “akrab” dengan dunia pelayanan karena ajaran (didikan) kedua orang tuanya. Namun, jika dilihat dari pertumbuhan rohani, bisa dibilang biasa-biasa saja karena belum mengerti sepenuhnya akan kebenaran firman Tuhan. “Saya anak ke 2 dari 4 bersaudara. Sejak kecil saya rajin sekolah minggu dan ketika bertumbuh remaja aktif mengambil pelayanan-pelayanan,” katanya.

Dalam hal akademis, Agus memiliki otak yang pintar. Buktinya, ketita lulus SMA ia mendapatkan kesempatan menuntut ilmu di luar negeri, tepatnya di Ohio State University, Amerika jurusan Finance dan Manajemen. Lulus S1, Agus langsung melanjutkan ke jenjang magister di salah satu kampus di Los Angeles (LA), Amerika jurusan marketing.

Di LA inilah Tuhan mulai panggil Agus lebih dalam untuk mengerti kebenaran firman Tuhan. “Saya merasa haus rohani. Tuhan bilang ‘kamu (saya) cari gereja’. Saya ikuti. Minggu pertama di gereja A dan minggu kedua di gereja B. Di gereja yang kedua inilah saya merasakan kecocokan,” ungkapnya.

Nama gereja yang dimaksud Agus adalah Indonesia Full Gospel Fellowship atau di kenal dengan sebutan IFGF. Di gereja beraliran karismatik tersebut, ayah dari empat orang anak ini merasakan imannya semakin bertumbuh. Mulai aktif mengikuti Carecell, pelayanan misi hingga menyerahkan dirinya dibaptis selam.

Setelah mengalami lahir baru, Tuhan mulai berikan berkat-berkatnya. Salah satunya, keluarganya, mulai dari orang tua hingga kakak dan adiknya, satu persatu dijamah Tuhan hingga mengalami lahir baru. Kakak saya juga sama, ketika berkunjung ke LA, dia lagi sakit kakinya. Ketika saya ajak ibadah ke IFGF, secara mujizat sakitnya sembuh dan mengalami lahir baru,” papar ayah dari Natasia Adeline ini.

Tahun 1993, Agus ikut dalam Summer Mission ke daerah di Indonesia seperti Batam, Pekanbaru, Padang, Tangerang, Semarang dan beberapa kota lainnya. Ketika di Semarang, Agus mengundang kedua orang tuanya datang untuk menghadiri KKR yang di adakan. Di sinilah Agus kembali melihat keajaiban Tuhan, kedua orang tuanya mengalami lahir baru. “Setelah khotbah selalu ada altar call. Saya kaget ketika orang tua saya ikut maju minta didoakan. Setelah itu orang tua saya mengalami jamahan Tuhan,” urainya.

Agus melihat apa yang terjadi dalam keluarganya adalah sebuah rancangan Tuhan yang sempurna karena selama ini ia tidak pernah menginjili keluarganya apalagi memaksa. “Saya melihat Tuhan betul-betul memerankan sebuah setting-up (perkara-perkara baik). Pada dasarnya, saya bukan dari keluarga yang berantakan, tapi apapun background kita, Tuhan memang sayang sama kita. Itu saya lihat sebagai kasih-Nya yang pertama-tama diberikan mulai dari saya lalu menular ke saudara hingga orang tua,” katanya.

Saat ini Agus bersama keluarga aktif melayani di Jakarta City Blessing sejak tahun 2000. Dan pada tahun 2009 Agus ditahbiskan menjadi salah satu penatua.

Alami mujizat

Tidak ada kata berhenti untuk pertumbuhan iman seseorang. Sama seperti yang dirasakan ayah dari Nastasia Adeline ini. Tahun 2006 merupakan titik balik perjalanan rohaninya. Hal itu ia dapat setelah mendengarkan khotbah dari seorang hamba Tuhan dari luar negeri. “Perubahan dalam arti saya lebih mengerti firman Tuhan. Mindset saya jadi berubah bahwa kita hidup di perjanjian baru bukan perjanjian lama,” jelasnya.

Di tahun yang sama juga, istrinya (Susana Djuniwar) akan melahirkan anak ke empat. Namun, karena disaat bersamaan istrinya sedang menderita demam berdarah, proses persalinannya menjadi berbahaya. “Dokter memberikan dua pilihan, menyelamatkan ibunya dulu atau anaknya dahulu. Dan akhirnya memutuskan untuk mengobati istri saya terlebih dahulu sampai trombosit istri saya bisa naik. Namun ketikan posisi trombosit masih di level 27.000, dimana sangat berbahaya sekali apabila ada luka pada istri saya, air ketuban dalam perut istri saya pecah,”.

Secara psikis, pikiran Agus kalut, tapi tidak untuk imannya. Di tengah kondisi genting tersebut, Agus tetap berusaha tenang dan menyerahkan semuanya dalam Tuhan. Hanya satu keyakinannya saat itu, Tuhan pasti akan membela. “Dokter ambil tindakan operasi Caesar. Di sinilah mujizat terjadi. Ketika perut istri dijahit, tidak ada satupun darah menetes. Itu berbahaya sebenarnya karena ketika darah dalam kondisi encer, bisa saja jahitan tersebut ‘bocor’,” jelas ayah Nicholas Joel Santosa ini.

Sesuai dengan nama anaknya yang terakhir Christabel Charissa Santosa. “Christ artinya Kristus. Abel artinya cantik. Charis artinya anugerah Jadi seperti Kristus cantik yang penuh anugerah,” ungkapnya.

Usaha restoran

Tahun lalu, tepatnya 10 Juni 2017 Tuhan menganugerahkan bisnis baru pada Agus berupa ayam goreng kremes. Kuliner bukan keahilannya, tapi ia tetap jalani karena Tuhan yang taruh visi. “Saya ga punya basic dalam bisnis kuliner karena sebelumnya selama sekian belas tahun bisnis saya bergerak di bidang advertising,” katanya.

Bisnis ini bermula dari adiknya di Purwokerto yang memiliki kenalan seorang koki.  Kemudian Agus mengirimkan dua orang untuk belajar memasak ayam goreng kremes karena waktu itu koki tersebut berjanji mengajarkan cara memasak ayam yang baik.

Setelah selesai belajar, sesuai dengan tuntunan Tuhan, Agus memberanikan diri membuka Restoran Ayam Kremes Gading yang teletak di  Jalan Raya Kelapa Hybrida Blok RA3 No.2, Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Ayam kita lunak meskipun tidak dipresto. Yang membedakan yaitu kualitas penyajian ayamnya. Puji Tuhan banyak yang suka dan beberapa perusahaan besar sudah menjadi pelanggan kami,” ungkapnya.

Kedepan, Agus senantiasa berusaha dekat pada Tuhan agar bisa mendapatkan hikmat yang baru. “Saya rindu merasakan pewahyuan-pewahyuwan akan kebaikan Tuhan dalam hidup. Saya ingin itu termanisfestasi dalam bisnis yang saya geluti dan saya juga ingin membuka bisnis di bidang lain,” kata ayah dari Derick Philander Santosa ini. (Nuel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini