Kebenaran

0
Ilustrasi. Foto: IST

Apapun yang menurut penilaian kita adalah tepat tetapi tidak selalu dipandang oleh orang lain juga dikatakan tepat. Tiap manusia dalam mencari kebenaran ada kalanya tidak hanya terpancang pada 1 (satu) hal saja. Manusia perlu mencari informasi dari berbagai sudut pandang dahulu sebelum memutuskan untuk bertindak. Dalam mencari kebenaran, manusia tidak harus pandai secara akademik, tetapi jeli dalam menghadapi segala fenomena. Bila ingin mendapatkan kebenaran, janganlah menghindar dari permasalahan yang ada tetapi hadapilah, maka kita akan dapat menyimpulkan hasil akhir dan dipakai sebagai pelajaran hidup di hari depan. Untuk mendapatkan kebenaran tidaklah selalu seketika itu juga, melainkan bisa berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun.

Banyak orang Kristen dalam menghadapi hidup ini dengan cara apatis, kurang memiliki semangat dan gairah, bahkan pola pikirnyapun sudah jauh berbeda dari kebenaran Firman Tuhan. Banyak orang sekarang yang berbicara tentang Tuhan tetapi tidak berbicara dengan Tuhan, padahal hanya dengan berbicara kepada Tuhan maka kebenaranlah yang akan didapatkan. Hal itu juga yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia perihal kebenaran dari ketidak-pastian dalam hidup ini. Kebenaran yang hakiki terdapat dalam nubuatan di Alkitab yang sifatnya pasti dan tidak mungkin gagal, itulah yang kita pakai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Hanya kepada Tuhan saja kita meletakkan harapan kita akan kebenaran, sebab Dialah yang pasti. Dalam Firman Tuhan ada janji yang luar biasa, “Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23 : 18). Perihal masa depan yang disediakan-Nya dan kebenaran harapan yang akan terwujud, itu semua hanya Tuhanlah yang mampu memberikannya kepada kita. Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan di masa depan, ada hal-hal yang harus kita lewati dan ada harga yang harus kita bayar.

Ada tertulis, “dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8 : 32). Masih ingatkah dengan kisah Yusuf, seorang anak muda yang punya cita-cita dan pengharapan. Ia mendapat mimpi dari Tuhan, bagaimana 11 berkas gandum sujud kepada berkas gandumnya. Ini merupakan satu visi bahwa Tuhan akan mengangkat hidupnya, ia akan menjadi pemimpin. Saudara-saudaranya marah terlebih karena Yusuf sangat dimanja dan diistimewakan oleh orang tuanya. Mereka iri kepada Yusuf dan membuat suatu rencana jahat. Saat Yusuf pergi mencari saudara-saudaranya, mereka menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sumur. Setelah itu ia dijual ke pedagang Mesir kemudian dijual lagi kepada Potifar sebagai budak. Di rumah Potifar, ia mengalami hal yang pahit, ia difitnah karena tidak mau berbuat dosa sehingga dimasukkan ke dalam penjara. Yusuf yang disertai Tuhan tidak menyerah dalam situasi apapun. Ia mampu mengubah rasa putus asa menjadi prestasi karena Yusuf tahu rencana Tuhan akan menjamin masa depannya. Setelah Yusuf memiliki kedudukan di Mesir, mendapatkan kebenarannya dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, apakah Yusuf akan menekankan kembali tentang kebenaran dirinya dan membalas tindakan mereka dengan kejahatan? Tentu tidak, karena orang yang direndahkan manusia akan diangkat oleh Tuhan.

Apabila ada oknum-oknum yang dengan sengaja menyembunyikan atau membelokkan suatu kebenaran Tuhan, yang dapat kita lakukan adalah berusaha meluruskannya. Kalaupun tetap tidak bisa, kita tidak perlu untuk memaksakan diri, cukup dengan mendoakannya karena Tuhan sendirilah yang akan meluruskan kebenaran tersebut.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat karena kebenaran dalam Yesus adalah mempercayai dan lihatlah, bukan sebaliknya. Kita harus selalu berserah kepada kehendak Tuhan karena segala sesuatu berada dibawah kuasa-Nya, bahkan kesempatan untuk melakukan apa yang kita rencanakan pun berada di bawah kendali-Nya. Jangan menyerah pada keadaan tetap percayai Firman Tuhan. Tuhan akan menggenapi setiap kebenaran firman-Nya dalam kehidupan kita.

Mengapa Tuhan terkadang tidak menjawab setiap doa yang kita panjatkan? Seperti doa orang yang membutuhkan rumah atau memohon kesembuhan atas penyakit ataupun yang lainnya. Mengapa Tuhan tidak membuka mata dari orang yang tidak mempercayai-Nya untuk datang kepada-Nya, apalagi ketika semua bukti dan kebenaran berada tepat di depannya. Disetiap situasi, kita harus menunggu untuk melihat apa yang terjadi, belajar bagaimana Tuhan memberikan jalan keluarnya lewat kebenaran firman-Nya. Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, asalkan kita tetap sabar, berdoa dan berusaha menantikan waktu Tuhan bekerja untuk kita.

Dengan dasar iman percaya, kita lakukan apa yang menjadi bagian kita, selanjutnya Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya. Tanpa disadari selama kita menunggu, Dia telah banyak membentuk iman kita.

Oleh: Yudhi Widyo Armono

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca tabloidmitra.com, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini