Keamanan di Mukernas GPdI 14-16 Mei 2019 Dipertanyakan

1
Suasana pembukaan MUKERNAS GPdI 2019 tanggal 14 Mei 2019 di Malang. (Foto Tabloid Pantekosta)

MALANG – Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang diselenggarakan tanggal 14-16 Mei 2019 di Malang, Jawa Timur, telah selesai.

Namun sehari pasca MUKERNAS, di media sosial Facebook ada status dan komentar yang membicarakan dan mempertanyakan bahkan mempersoalkan kehadiran nama salah satu Ketua Ormas dari Sulawesi Utara untuk memberikan bantuan pengamanan Mukernas.

Karena ramai dibicarakan, seorang bernama Hendrik Hertog Tendean menulis dalam statusnya. “Bung Audy Malonda barusan telepon saya, katanya dia penasaran dengan pendeta-pendeta yang mempertanyakan kehadirannya di Mukernas Malang sebagai sie keamanan Majelis Pusat (MP),” demikian tulis status itu, dan juga menyampaikan pesan Audy Malonda kepadanya, bagi yang ingin bertanya tentang kehadirannya di Mukernas GPdI di Malang dapat mengubunginya di nomor kontak 08231172xxxx.

Lewat nomor HP yang diposting Hendrik Hertog Tendean, tabloidmitra.com coba menggubungi Audy Malonda dan diterima dengan baik saat di wawancara tabloidmitra.com.

Audy Malonda menjelaskan kehadirannya karena merasa terpanggil sebagai warga GPdI untuk menyumbangkan tenaga dalam hal memberikan pengamanan di Mukernas. “Saya dari GPdI. Kok banyak mau cari tahu dan complain?! Maksudnya apa ini? Sebetulnya harus berterima kasih. Apa mereka inginkan Mukernas tidak berjalan dengan baik?  Saya heran, acara sudah lama selesai masih mau dipertanyakan siapa saya,” katanya dan mengurai ia bisa menjadi panitia pengamanan karena mendapatkan akses dari Majelis Pusat (MP) dan seorang temannya hamba Tuhan GPdI dari Sulawesi Utara, Pdt. Lengker Rarumangkey. “Saya memang panitia resmi pengamanan, karena memang saya dari Pusat yang minta lewat Pak Lengker,” jawabnya.

Di Mukernas, Audy Malonda mengakui mendampingi Ketua Umum GPdI. “Saya tepatnya pengamanan Ketum di Mukernas,” katanya.

Audy Malonda meminta kepada semua untuk tidak melibatkan kehadirannya di Mukernas sebagai Ketua atau panglima Ormas Waraney. “Saya pergi ke Mukernas bukan kapasitas sebagai Ketua Waraney, tetapi sebagai bagian keluarga besar GPdI. Lain lagi kalau saya menggunakan atribut dan membawa anak buah dari Ormas Waraney selama di Mukernas,” tuturnya dan tidak mengelak bahwa dirinya saat ini menjabat Ketua Ormas Waraney.

Ketika ditanya lebih jauh tentang Ormas Waraney, Audy Malonda tidak memberikan jawaban dan menyudahi pembicaraan di telepon.

Saat dikonfirmasi kepada Ketua Panitia Mukernas 2019, Pdt. Dr. Adi Sujaka, M.Th menjawab tidak mengenal Audy Malonda. “Saya tidak tahu itu yang begitu-begitu, kita panitia punya pengamanan sendiri. Mungkin masuk dari jalur Majelis Pusat, sebagai peninjau kalau dari Majelis Daerah, sebagai utusan. Kalau tidak rekomendasi MP tidak kita kasih,” katanya dan menegaskan panitia memang memiliki pengamanan internal yang bekerjasama dengan pihak kepolisian.

Sedangkan Pdt. Lengker Rarumangkey saat dikonfirmasi Jumat 17 Mei 2019 lewat pesan WhatsApp di nomor 08525525xxxx tidak memberikan jawaban, sebaliknya memblokir hubungan pertemanan di WhatsApp.

Tabloidmitra.com coba mengirim kembali pertanyaan-pertanyaan yang dikirim lewat WhatsApp melalui pesan SMS dan menelponnya berkali kali tetapi tidak diangkat. Tiba-tiba ada panggilan telepon dari nomor yang berbeda, dari nomor 08525641xxxx dan ternyata itu telepon dari Pdt. Lengker Rarumangkey. “Maaf, mau tanya apa, ya?,” katanya. Tabloidmitra.com pun memberikan beberapa pertanyaan. Namun bukannya dijawab, melainkan telepon langsung diberikan kepada Audy Malonda.

Pdt. Lengker Rarumangkey (Foto: IST)

Sampai berita ini diturunkan Pdt. Lengker Rarumangkey tidak memberikan jawaban atas pertanyaan lewat WhatsApp maupun SMS.

Kemudian tabloidmitra.com coba mengkonfirmasi kepada pihak Majelis Pusat tepatnya Sekretaris Umum (Sekum) Pdt. John Lumenta tentang siapa yang mengadirkan Audy Malonda menjadi panitia pengamanan, “Audy Malonda? Saya tidak kenal orang itu. Siapa bilang Audy Malonda melakukan pengawalan Majelis Pusat? Saya tidak tahu siapa dia,” demkian jawab Sekum MP GPdI.

Lebih jauh, Sekum mengatakan sudah biasa kalau ada orang yang suka mengaku-ngaku tapi sebenarnya tidak. “Manusia biasa itu mengaku-ngaku, tapi sebenarnya kami tidak tahu,” tandasnya dan seraya menjelaskan sebagai seorang hamba Tuhan yang menjadi pengawal adalah Tuhan.

Sampai berita ini diturunkan, baik panitia pelaksana yang dipimpin Pdt. Dr. Adi Sujaka, M.Th dan pihak MP GPdI, tidak ada yang mengaku atau bertanggungjawab membawa dan menjadikan Audy Malonda tim pengamanan Mukernas atau pengamanan Ketua Umum GPdI.

Lewat diskusi wartawan tabloidmitra.com di Facebook tentang kehadiran Audy Malonda di Mukernas GPdI, Malang, seorang hamba Tuhan GPdI dari Sulawesi Utara, Pdt. Revly OA Pessak menuliskan komentarnya, “Apa ya yang salah dengan Audy Malonda hadir dan berperan sebagai Panpel khusus di Mukernas? Kenapa harus dicari tahu eksistensinya di salah satu Ormas? Di Mukernas saya lihat, saya dengar dan saya alami tidak ada ormas-ormasan  yang jadi Panpel. Emangnya seorang anggota GPdI tidak bisa jadi Panpel keamanan dalam di event Mukernas. Sudahlah Mukernas sudah happy ending,” tulisanya.

Masih dalam komentar yang sama, Pdt. Revly OA Pessak menuliskan. “…tapi karena masih ada yang kurang puas dan sepertinya ada skenario yang gagal makanya mau dicari celah supaya terkesan Mukernas masih ada sisa masalah….fungsi wawancara jurnalisme harus didasari oleh presumption of innocence….Tapi ada kesan (dapat diduga) konten untuk sebuah wawancara (sehingga diputuskan ) agak mengarah pada justifikasi (dugaan saya),” tulisnya.

“Jika demikian yang terjadi maka subyek tersebut punya hak untuk tidak melanjutkan wawancara tersebut sebab ada kemungkinan privasinya terganggu. Saya sampaikan ini sebab saya juga menggeluti dunia jurnalis sejak 1992 dibawah asuhan Alm. Christ Rondonuwu-Pemred Obor Pancasila/Waket Ketua PWI Sulut saat itu,” tulisnya kembali.

Pelanggaran AD/ART

Pdt. Chris Rorong, seorang gembala GPdI di Kota Manado mengatakan memang tidak ada yang akan mengakui telah memanggil dan mengadirkan Audy Malonda di Mukenas. Pasalnya kalau ada yang berani maka orang itu akan langsung terkena sanksi seperti yang termaktub dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) pasal 32 dan 33.

Pdt. Chris Rorong (kiri) bersama Audy Malonda ketika bertemu di pesawat

Walau tidak ada yang mengakui tetapi kata Pdt. Chris Rorong, sangat mudah untuk ditelusuri karena Audy Malonda sudah memberikan jawaban yang jelas Pdt. Lengker lah yang memanggilnya dan Pdt. Lengker melakukan itu karena diminta MP. “Jangan pilih kasih untuk memberlakukan ART. Saya hanya hadir di acara adat yang mirip dengan Ormas Waraney langsung diskors. Lalu ini Tonaas (Ketua) Waraney, Audy Malonda sudah masuk dalam Mukernas hamba-hamba Tuhan GPdI, bahkan menjadi orang yang diandalakan yaitu memberikan pengamanan kepada Ketum, kok yang menghadirkannya dan yang menggunakan ‘jasanya’ tidak ada sanksinya?,” tanya Pdt. Chris Rorong.

Tambahnya dengan meminjam perkataan Pdt. Revly OA Pessak, “Permasalahannya adalah; ritual dengan menggunakan cara-cara Ani. Isme, Okultisme dan sinkritisme, itu yang menjadi sorotan. Sebab bertentangan dengan  doktrin dan Kredo GPdI dan itu lebih tinggi nilai pelanggarannya dibanding zinah jasmani karena menyangkut roh manusia yang berkolaborasi dengan roh leluhur, itu kan kekejian bagi Tuhan Yesus,” demikian yang disampaikan Pdt. Revly OA Pessak lewat WhatsApp kepada Pdt. Chris Rorong saat mengadapi persoalan sebagai pendeta GPdI hadir dalam kegiatan Ormas yang serupa dengan Ormas Waraney. Padahal waktu itu, kata Pdt. Chris Rorong kehadiranya sebagai anggota FKUB Manado yang mendapatkan kepercayaan untuk membawakan doa secara Kristen dalam acara pelantikan Ormas tersebut.

Alasan Pdt. Chris Rorong meminta supaya ditelusuri dan diberikan sanksi kepada yang terlibat menghadirkan dan menggunakan “jasa” Audy Malonda di Mukernas karena sudah rahasia umum untuk menjadi pimpinan Waraney harus memiliki ilmu kekebalan yang disebut-sebut atau diindikasikan diperoleh dari nenek moyang.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Daerah Pdt. Denny Tololiu juga meminta supaya yang menghadirkan dan menggunakan “jasa” Audy Malonda harus bertanggungjawab. “Di gereja itu harus membebaskan diri dari orang-orang yang tidak mengandalkan Tuhan, harus bebas dari orang-orang yang masih memiliki hubungan dengan dunia dukun, sihir dan sejenisnya,” tegasnya.

Pdt. Denny Tololiu menyesalkan Mukernas melibatkan Audy Malonda yang notabene tidak dapat dipisahkan sebagai Ketua (panglima) Waraney. “Kalau mau ada pengamanan ambil dari hamba-hamba Tuhan, kenapa harus ambil pimpinan ormas yang sudah rahasia umum Ormas Waraney itu memiliki kekebalan yang disebut-sebut atau diindikasikan diperoleh dari nenek moyang,” tegasnya.

Pdt. Denny Tololiu, juga meminta kepada pihak-pihak untuk tidak memisahkan Audy Malonda dengan jabatannya sebagai Panglima Waraney. “Memang Audy datang sebagai warga GPdI, kasat mata tidak ada yang salah. Tapi semua orang tahu, Audy Malonda itu Panglima Waraney. Kita organisasi Gereja, kenapa mesti menggunakan ‘jasa’ pengamanannya? Emang kita enggak percaya sama polisi atau pengamanan panitia? Tolong jawab dengan logikalah,”tandasnya dan ingin mengakhiri perdebatan kehadiran Audy Malonda di Mukernas dengan meminta warga GPdI yang ingin tahu dengan jelas siapa Audy Malonda dapat mencarinya dengan mengetik nama Audy Malonda atau Waraney di mesin pencari google. (NBS)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

1 KOMENTAR

  1. MARI BERSYUKURLAH BAHWA MUKERNAS TELAH BERLANGSUNG DENGAN BAIK UNTUK HORMAT DAN KEMULIAAN NAMA TUHAN.
    MARI MELIHAT KEDEPAN SEBAGAI SEORANG GEMBALA YANG BERFOKUS PADA PENGGEMBALAAN DOMBA2 YANG KRISTUS TELAH PERCAYAKAN PADA KITA SEMUA. AMEN.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini