Hidup dengan Satu Ginjal Pendeta Ini Tetap Semangat Melayani

0
Pendeta
Banoet secara simbolis menyerahkan buku yang diterima Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon. (Foto: sinodegmit.or.id)

KUPANG – Ginjal berfungsi untuk menyaring darah, membuang limbah dan racun dari tubuh serta membantu mengeluarkannya sebagai urin. Tak hanya itu saja, ginjal juga bertanggung jawab menjaga keseimbangan cairan secara keseluruhan dalam tubuh.

Intinya ginjal memiliki peran penting di dalam tubuh. Lantas bagaimana jika seseorang hanya memiliki satu ginjal? Tentu ada banyak pantangan yang harus dilakukan. Seperti yang dialami . Roderick Julianus Banoet seorang pendeta di Gereja Masehi Injili Di Timor (GMIT).

Banoet harus hidup dengan satu ginjal karena kecelakaan yang dialaminya tahun 1979. Ketika itu, motor yang dikendarainya menabrak dinding tembok di ruas jalan Pemuda, Kuanino-Kupang. Tubuhnya terpelanting dan menggeletak di antara tumpukan drum aspal. “Saya kira saya sudah mati,” ceritanya yang dikutip tabloidmitra.com dari website Sinode GMIT, Senin (27/7/2020).

Kecelakaan tersebut membuat ginjal kanannya cidera dan harus dioperasi serta diangkat. “Sampai hari ini saya masih hidup dengan satu ginjal. Itu hanya karena kemurahan Tuhan,” kata ayah dari Abi Yeremia Banoet dan Eli Natani Kefi Banoet.

Suami dari dr. Arance Adolfina Markus ini pun rutin menjalani pola hidup sehat agar bisa terus beraktifitas. Dirinya tercatat pernah menjadi Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Mollo Timur dan Mollo Utara tahun 1991-1995, 1995-1999. “Jangan pernah menonaktifkan fisik, karena orang yang menonaktifkan fisik, ia tak punya kehidupan yang berkualitas,” katanya.

Tanggal 23 Juli 2020 lalu, Banoet genap berusia 80 tahun. Ia pun berkunjung ke kantor Majelis Sinode GMIT untuk mendonasikan lebih dari 200 buku teologi miliknya kepada Sinode GMIT. Buku tersebut sudah ia kumpulkan sejak menjalani studi S1 di STT Jakarta. “Pendeta yang malas membaca adalah pendeta yang belum bertobat,” tegasnya.

Banoet lulus dari STT Jakarta tahun 1973 dan ditahbiskan menjadi pendeta GMIT pada tahun yang sama. Beberapa jemaat yang pernah dilayani yaitu jemaat Ebenhaeser Oeba, Jemaat Pal Satu (Manutapen), Jemaat Koinonia Kuanino, Jemaat Paulus, dan Jemaat Horeb Perumnas.

Setelah meraih gelar Magister Teologi di bidang Pastoral di STT Jakarta Tahun 1985, Banoet ditempatkan di Jemaat Wilayah Loli, klasis Mollo Timur dan setelah itu dimutasi ke Jemaat Ebenhaeser Kapan. Kemudian tahun 1999, ia dimutasi ke Kupang dan ditempatkan di Jemaat Sion Oepura hingga emeritus. (NW)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini