Hamba Tuhan Terpapar Covid-19 dan Meninggal, karena Kualitas Rohaninya Buruk?

0
Pendeta meninggal
Tangkapan layar video produksi HMMinistry yang menjelaskan hidup dan cara mati orang Kristen

JAKARTA – Dilansir dari lama Worldometers, Sabtu (11/7/2020), angka kematian di dunia akibat pandemi Covid-19 sejak teridentifikasi pertama kali Desember 2019 telah mencapai 561.904 kasus.

Sedangkan di Indonesia, menurut Achmad Yurianto Juru bicara pemerintah untuk penanganan kasus virus Corona, sampai hari Minggu (12/7/2020), pukul 12.00 WIB telah mencapai 3.606 orang.

Dari angka kematian yang dirilis, baik di dunia dan di Indonesia, di dalamnya termasuk para hamba Tuhan maupun gembala jemaat.

Fakta itu dapat “melahirkan” pertanyaan, “Ada apa, kok bisa umat Tuhan yang setia, bahkan hamba-hamba Tuhan yang dipercayakan banyak jemaat bisa terpapar Covid-19 dan meninggal?.”

Tabloidmitra.com meminta tanggapan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, lewat WhatsApp, pada Minggu (12/07/2020). Puji Tuhan, saat itu Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo merespon dengan mengirim sebuah video dengan keterangan (forwarded) atau diteruskan.

Diawal video tersebut ada keterangan VOICE PENTECOST by hmministry yang isinya seorang wanita bernama Nelly menjelaskan hidup dan cara mati orang Kristen.

Dalam video tersebut juga tertulis Pdp Nelly Suryadaya, GBI GMCC Rayon 1C, disarikan dari artikel tim Teologia, GBI Jl Jend Gatot Subroto.

Nelly mengatakan tidak sedikit orang percaya, khususnya pelayan Tuhan yang setia terpapar Covid-19. Akibatnya, menimbulkan pertanyaan. “Apa yang salah, kenapa, kok bisa? Orang sering kali mengaitkan cara kematian seseorang dengan kehidupannya,” kata Nelly dalam video tersebut.

Menurut Nelly, kematian tidak dapat dihindari oleh semua mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia. “Ada dua pandangan. Pertama, pandangan, orang yang saleh pasti meninggal dengan cara terhormat, seperti mati dengan tenang tidak menderita kesakitan saat-saat terakhir dengan kondisi baik. Pandangan yang sebaliknya yaitu orang yang berdosa besar, mereka meninggal dengan cara mati yang menderita, sendirian disaat-saat terakhir, mengenaskan, termasuk dikarenakan kecelakaan atau korban kriminal,” paparnya seraya menegaskan kedua pandangan tersebut salah, dengan memberikan dasar yang diambil dalam firman Tuhan yang terdapat dalam Lukas 13:1-5.

Nelly mengurai dengan berkata dalam Lukas 13:1-5 itu Tuhan Yesus diperhadapkan dengan pertanyaan. “Terjadi peristiwa peziarah di Yerusalem yang dibunuh oleh Pilatus, dan darahnya dicampur dengan korban darah yang akan dipersembahkan. Peristiwa yang kedua adalah orang-orang Galilea mati tertimpa Menara dekat Siloam. Dua peristiwa ini membuat orang-orang bertanya, dosa besar apa yang telah dilakukan oleh kedua kelompok ini hingga mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan? Saat itu juga Yesus menegur mereka bahwa hal itu terjadi bukan karena mereka lebih berdosa,” jelasnya.

Lewat Lukas 13:1-5, Nelly mengurai dosa dan kesalahan atau konsekuensi yang dibuat oleh manusia bisa saja mengakibatkan penderitaan dan mati dengan mengenaskan. Tetapi mengatakan semua orang yang mati dengan tidak enak dan mengenaskan adalah orang yang lebih berdosa itu pendapat yang salah. Apalagi mengaitkan dengan kualitas kerohanian.

“Tuhan Yesus mengajarkan dalam Lukas 13:1-5, pertama cara mati seseorang tidak menunjukkan kualitas hidupnya. Mungkin saja orang yang berdosa bisa mati atau meninggal dengan cara tidak enak dan menderita, tetapi bukan selalu seseorang yang meninggal dengan cara yang tidak enak artinya, pasti karena ada dosa besar yang dilakukan. Jangan mengaitkan kematian seseorang dengan kualitas hidupnya, Yesus berkata dengan tegas, jikalau tidak bertobat bisa binasa dengan cara yang tidak enak, bahkan menderita untuk selama-lamanya,” urainya.

Nelly melanjutkan, Yesus menekankan bahwa penting diperhatikan adalah pertobatan bukan cara meninggal seseorang. Kedua, kualitas hidup seseorang akan berkonsekuensi pada kekekalan. Selain pertobatan, hal yang sama penting adalah menghasilkan buah-buah dalam hidup.

“Perhatikan perumpamaan pemilik Kebun Anggur dalam Lukas 13:6-9, pemilik kebun anggur mengetahui bahwa ada pohon anggur yang tidak berbuah dan Ia memberi perintah untuk ditebang. Namun pengelolah kebun meminta kesempatan untuk pohon itu dibiarkan hidup dan jika sudah diberikan kesempatan masih tidak berbuah pohon itu segera di tebang,” ungkapnya.

“Maksudnya adalah kita masih hidup, artinya kita diberi kesempatan untuk mengalami pertobatan dan menghasilkan buah. Jika tidak kita akan dibinasakan. Waktu yang Tuhan berikan harus kita responi dengan pertobatan dan berbuah, jangan salah fokus dengan mempertanyakan bagaimana cara seseorang meninggal, sebaiknya kita meresponi kesempatan hidup yang Tuhan berikan,” tambah Nelly.

Diakhir video, ia berkata, pertama, harus fokus pada pertobatan, dan menjalani hidup yang menghasilkan buah agar tidak mengalami hukuman serta penderitaan kekal. Kedua, tidak ada hubungan langsung atara cara seseorang mati dengan kerohanian yang dijalani selama hidupnya. Ketiga, cara orang percaya mati adalah kedaulatan Tuhan yang tidak dapat diselami oleh manusia.

“Tetaplah percaya dan serahkan diri kepada Tuhan. Percayalah tidak ada keputusan Tuhan yang salah. Kita tidak boleh menilai bahkan menghakimi seseorang melalui cara kematiannya. Sebagai contoh, memperkatakan sudah rajin beribadah, berpuasa, berbahasa roh, kok bisa mati karena Covid-19, hal itu tidak ada hubungannya, lagi sangat tidak pantas diucapkan karena tidak menghormati dan tidak sensitif terhadap perasaan keluarga yang ditinggalkan. Mari kita fokus kepada pertobatan dan menghasilkan buah-buah yang baik selama kita masih punya kesempatan. Tuhan Yesus memberkati,” demikian isi video yang diproduksi oleh HMM dengan durasi 05.38 detik. (NBS)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini