Amarah Itu Ibarat Paku

0
Ilustrasi. Foto: IST

Sejujurnya media sosial memudahkan kita untuk berkomunikasi. Namun, sangat bisa berbahaya jika pengguna tidak memanfaatkan untuk tujuan yang sehat dan berfaedah.

Kondisi ini merupakan pengamatan penulis beberapa waktu lalu. Situasi yang berdasarkan fakta lapangan tentang seorang remaja. Remaja tersebut dikenal pemarah. Ia sangat marah bila seseorang menyinggung perasaannya. Tidak tanggung-tanggung, kemarahannya bisa meledak sewaktu-waktu. Ketika ada sedikit pemicu, kemarahannya tak terkendali. Kata kasar yang tidak pantas terucap melekat kuat di mulutnya.

Menyaksikan emosi negatif anak tersebut, sang ayah merasa susah. Namun, ia tak mampu meredakan sifat pemarah anak laki-laki yang ia kasihi tersebut. Bila sang anak diingatkan, ia pasti melawan dan membantah nasihat orangtua.

Tiba-tiba meluncurlah ide kreatif di kepala sang ayah. Ayah yang lemah lembut tersebut memberi sekantong plastik berisi paku. Ia meminta setiap kali anaknya marah, ia harus menancapkan sebuah paku di pagar belakang rumah.

Positif

Sekadar sharing pengalaman pribadi seorang rekan. Ia menggembalakan sebuah gereja. Namun, gereja tersebut masih kecil sehingga ia harus bekerja. Karena bekerja, ia kerap kali meninggalkan jemaat untuk melakukan tugas kantor. Dengan demikian intensitas bertemu dengan jemaat sangat minim. Padahal, pelayanan harus ditata dan dikordinir. Namun bersyukur kepada Tuhan, ada jejaring sosial Facebook. Sering kali di luar jam kerja ia membuat janji dengan pengurus untuk rapat melalui dunia maya. Caranya adalah chatting melalui Facebook. Hal ini dilakukan karena sulitnya mencari waktu untuk bertatap muka. Mereka butuh waktu 15 sampai 20 menit untuk berkoordinasi.

Social networking telah menjadi kebutuhan. Pekerjaan dan pelayanan terbantu karenanya. Tuhan memakai Mark Zuckerberg dan teman-temannya di jurusan Ilmu Komputer Universitas Harvard yang meluncurkan jejaring sosial Facebook pada Februari 2004. Melalui karya tersebut banyak orang telah menikmati manfaat positif. Namun, apakah kita menutup mata terhadap fakta negatif? Ya, memang dampak negatif tak terhindarkan. Prinsip dasarnya adalah semua penemuan dalam bentuk apa pun bersifat netral. Ide awalnya pasti bagus. Masalah berikutnya terletak pada si pengguna hasil penemuan tersebut. Manusia dapat menggunakannya untuk yang bermanfaat atau yang merusak. Di tangan penjahat, senapan dipakai untuk merampok dan membunuh korban. Lain halnya ketika berada di tangan tentara. Di tangan tentara senapan digunakan tepat sasaran, yakni untuk melumpuhkan musuh. Siapa yang salah? Pasti manusia pengguna senjata tersebut.

Negatif

Tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa melalui jejaring sosial kejahatan dilakukan oleh pribadi yang tidak bertanggung jawab. Melalui Facebook atau Twitter orang minta pulsa atau minta transfer uang. Padahal itu hanya kebohongan belaka. Hujatan, umpatan, semangat membenci sering pula menggunakan media sosial. Menggunakan nama dan foto hamba Tuhan melalui akun palsu untuk menipu juga kerap terjadi. Dalam dunia politik, sering kali pencitraan atau upaya menjatuhkan lawan politik dilakukan oleh pihak tertentu. Namun, kalau kita hanya membesarkan yang negatif, hasilnya akan negatif pula. Tidakkah kita coba menggunakan kaca mata yang berbeda untuk melihat fenomena ini?

Perwataan

Dari sisi yang berbeda, sesungguhnya media sosial bisa menjadi media pewartaan yang efektif. Dengan meng-up load tulisan, foto, atau apa pun orang lain terinspirasi dan mengalami perubahan hidup. Syukur kepada Tuhan bila ada orang yang mengenal-Nya melalui pemberitaan melalui tulisan. Pengguna media sosial sangat banyak. Mereka yang suka berselancar sekadar mengisi kekosongan hati, siapa tahu membaca status atau tulisan tersebut. Tuhan bisa menggunakan beragam cara untuk menarik seseorang kembali ke jalan yang benar. Dia pun dapat menggunakan media sosial untuk menyadarkan manusia agar kembali memeluk Tuhan yang telah lama ditinggalkan. Karena itu, alangkah bijaksana bila mulai sekarang ini menjauhkan diri dari tulisan yang tidak berguna, apalagi hoaks. Lebih baik menggunakan media tersebut untuk membangun dan menguatkan sesama yang mengalami kehampaan. Bukankah hal tersebut lebih bermanfaat dan bernilai?

*Manati I Zega, M.Th. Dosen teologi, penulis, dan pendeta jemaat di Gereja Injili Agape Sola Fide Surakarta.

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca tabloidmitra.com, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini