AIMI Buka Semester Baru dan Program Baru Untuk Jawab Tantangan Zaman

0

SURAKARTA – Tantangan pelay­anan masa kini tidaklah mudah. Kemajuan teknologi telah mengubah kehidupan manusia. Dunia pelayan­an harus berpikir ulang teknik yang telah dilakukan puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Hamba-hamba Tuhan harus hadir dan memberikan jawaban atas berbagai pergumulan hidup. Ini bukan tugas yang mudah. Institusi pelayanan harus men­gevaluasi pelayanan yang diperlukan pada zaman now. Ia harus hadir men­jawab persoalan masyarakat bukan sebaliknya.

Melihat problem pelayanan yang kian kompleks tersebut, Jumat (26/1/2018) Agape Indonesia Misi Internasional (AIMI) yang meru­pakan salah satu sekolah teologi di Kota Surakarta bergumul keras untuk menjawab tantangan zaman yang ada. Sebagai lembaga pelay­anan yang membentuk calon hamba Tuhan, AIMI mempunyai terobosan untuk menyediakan tenaga pelay­anan.

Pada pembukaan semester baru 2017/2018, AIMI meluncurkan program baru yang bertujuan me­nyediakan sumber daya bagi gereja dan dunia pendidikan. Salah satu programnya adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa ko­munikasi dalam pergaulan dan perkuliahan. Program ini sengaja diadakan dalam rangka menjawab tantangan pelayanan. Harapannya para lulusan memiliki jangkauan pelayanan yang lebih luas.

AIMI berencana mengundang tenaga asing yang bisa melatih agar mahasiswa bisa berbahasa Inggris dengan baik dan tepat. “Kami berharap jebolan sekolah kami memiliki jangkauan yang luas dalam pelayanan kelak. Mereka dapat berkomunikasi menggunakan bahasa internasional sehingga dapat menjangkau lebih banyak jiwa ke­pada Kristus,” ungkap Pdm. Yushari Gani, S.Kom., M.Th. Ketua AIMI.

Selain itu, AIMI juga melun­curkan program kelas malam untuk pekerja yang tidak dapat mengikuti kuliah reguler yang diselengga­rakan di pagi hari. Puji Tuhan, 8 orang mahasiswa baru sudah diterima untuk kelas malam. Mer­eka terdiri dari berbagai profesi mulai dari guru, satpam, perintis gereja, dan pegawai kantor. Diten­gah kesibukan, mereka tetap harus memenuhi semua standar kualifi­kasi akademis yang disyaratkan oleh lembaga dan Yayasan Menara Kasih Bangsa (YMKB) sebagai penyelenggara pendidikan.

Dalam ibadah pembukaan yang diadakan di lantai II Gereja Bethel Apostolik dan Profetik (GBAP) Bunga Bakung, Jagalan, Sura­karta, Pdt. Kristina Nanik Sarjono, menekankan beberapa hal yang sangat penting. Gem­bala GBAP Ngasinan, Nanik menegaskan betapa penting­nya karakter yang kuat bagi hamba Tuhan seperti pada 2 Korintus 11:21-28. “Engkau boleh memiliki kualitas teo­logi yang baik, solid, ilmiah, dan sebagainya. Namun, ke­tika engkau lemah dalam karakter, engkau tidak akan kuat dalam pelayanan.”

Nanik yang gerejanya pernah ditutup oleh salah satu Ormas di Kota Bengawan tersebut menyaksikan bahwa perto­longan Roh Kudus memampukannya melewati semua tantangan bersama Tuhan. Ia tidak gentar menghadapi berbagai masalah. Wanita yang telah belajar tersebut tetap teguh berdiri di tengah beragam masalah dalam pelayanan.

“Saya meminta setiap maha­siswa teguh dalam panggilan,” ujarnya dengan suara lantang. Nanik mengakui menjadi hamba Tuhan itu tidak mudah. “Banyak tantangan dan hambatan serius dalam pelayanan,” ungkapnya jujur. Namun, ia menye­butkan kalau karakternya kuat, apa pun yang terjadi tidak akan meng­hambat pelayanan. (Manati I Zega)

Apa pendapat anda tentang post ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini